Jumat, 19 Juni 2026, pukul : 09:45 WIB
Surabaya
--°C

Dialektika Digital

Ketidakdilan yang sempurna. Sebuah perusahaan semacam CNN yang 30 tahun yang lalu begitu digdaya sebagai televisi berita  terkemuka di dunia, sekarang bertekuk lutut terhadap platform digital. Perlawanan yang dilakukan menjadi lucu. Alih-alih bergantung kepada FGA, redaksi CNN kemudian menyebarkan distribusi konten pada 21platfom digital.

Entah bagaimana ceritanya Ted Turner bisa menjadi manusia naif seperti itu. Ini sama saja dengan menyerahkan leher kepada 21 orang alih-alih kepada tiga orang. Ibarat burung unta yang memasukkan kepala ke pasir dan menganggap persoalan selesai. Pepatah Inggris mengatakan, Don’t put your eggs in one basket. Ted Turner melakukannya dan meletakkan telur kedalam 21 keranjang, tapi semuanya milik orang lain.

Apa upaya yang dilakukan penerbit untuk mengatasi persoalan ini? Di Eropa aliansi penerbit pernah mencoba melawan FGA. Tapi, dengan sekali tebas saja penerbit sudah terjengkang. Platform digital yang digertak menyerang balik dengan memboikot penerbit. Akibatnya trafik pembaca melorot sampai 80 persen. Penerbit pun angkat tangan menyerah.

BACA JUGA  Catatkan 71 Pukulan, Aji Pradana Menangi Series 3 Metro Golf League 2026

Dengan perjuangan keras dan gigih dan dengan campur tangan pemerintah, penerbit di Eropa berhasil mendapat perlindungan melalui undang-undang ‘’Publisher Right’’. Australia menyusul mengundangkan  ‘’News Media Bargaining Code’’. Dengan undang-undang itu platform digital dipaksa untuk berbagi hasil dan informasi pelanggan dengan penerbit. Undang-undang ini memberi bantuan nafas kepada penerbit, tetapi tidak menyelesaikan ketimpangan relasi kuasa antara platform digital dengan penerbit.

Relasi kuasa platform digital dengan penerbit disebut sebagai ‘’frenemy’’, friend and enemy. Teman sekaligus musuh. Melihat ketimpangan yang benar-benar jomplang, sebenarnya relasi kuasa itu lebih tepat disebut sebagai ‘’fredator’’ friend and predator. Platform digital sebagai teman tapi sekaligus predator pemangsa.

Di Indonesia, para penerbit tengah merancang strategi untuk menyusun undang-undang yang memberi perlindungan dan jaminan keberlangsungan jurnalisme demi menjaga ruh demokrasi. Dalam FGD (focus group discussion) yang diselenggarakan Dewan Pers akhir 2021, berbagai strategi menghadapi platform digital didiskusikan. Disimpulkan bahwa Indonesia harus segera menyusun versi ‘’publisher right’’ untuk menjaga eksistensi media nasional.

BACA JUGA  Tragis!, Kericuhan Pecah di Jalan Sehat Tahun Baru Islam Pemprov Jatim, Kotak Undian Ditumpahkan Massa

Perkambangan digital di China layak menjadi perhatian. Sebagaimana perang dagang yang terjadi antara Amerika vs China, persaingan digital juga tengah terjadi antara dua negara. China menjadi the emerging forces dengan teknologi digital yang advance.

Amerika dan Eropa melakukan proteksi dengan mencekal teknologi digital China seperti yang terjadi dalam kasus teknologi 5G. Kemunculan Tencent, Alibaba, Baidu akan menjadi saingan serius bagi platform digital Amerika.  Negara-negara demokrasi itu mengeklaim diri sebagai kampiun perdagangan bebas. Tetapi, dalam banyak kasus mereka justru menerapkan kebijakan proteksionistis untuk melindungi kepentingannya.

Tidak akan lama lagi perang dagang Amerika vs China akan merambah perang digital untuk berebut adidaya digital dunia. (*)

Editor: DAD

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.