Renungan Ramadhan 12
Oleh Ferry Is Mirza
Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jatim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
KEMPALAN: SEPERTI APA jiwa dan hati kita, pastilah hanya diri kita sendiri yang merasakan dan mengetahuinya. Jiwa merupakan sesuatu yang melekat dalam diri dan memerintah untuk melakukan sesuatu.
3 Sifat Disebut di AlQur’an
Tahukah Anda ada tiga sifat jiwa dalam diri yang disebutkan dalam Alquran ? Berikut tiga sifat dalam Alquran.
1. Al Ammarah bi suu’, yaitu suka menyuruh kepada keburukan.
Secara harfiah kata “ammarah” berarti banyak menyuruh, sedangkan kata “su” berarti keburukan atau kejahatan. Kata tersebut bermakna bahwa jiwa pada dasarnya memiliki sifat yang cenderung melakukan keburukan. Maka dari itu, setiap orang pada dasarnya memiliki sifat untuk melakukan hal yang buruk.
“Dan aku (yusuf) tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS Yusuf : 53)
BACA JUGA: Ramadhan Syahrut Tarbiyah
Jadi sebenarnya, nafsu yang harus kita hindari yakni nafsu amarah. Misalnya tidak bisa mengendalikan emosi. Atau mudah mengumbar caci maki.
2. Lawwamah (An-nafs al-lawwamah), yaitu menyesali diri.
Nafsu lawwamah yang diterjemahkan nafsu yang banyak mencela, mengeluh, dan menyalahkan. Cuma yang dicela, dikeluhkan dan disalahkan adalah dirinya sendiri.
Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah dalam surah Alqiyamah: 2,
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”
Annafsullawwamah, yaitu suatu keadaan di mana jiwa menyesali keadaan diri karena merasa kurang melakukan kebaikan dan menyesal atas keburukan yang dilakukan.
Nafsu lawamah termasuk nafsu yang mulia karena hanya orang Mukmin yang bisa menyesali dan menyalahkan dirinya sendiri.
3. Muthmainnah (an-nafs al-mutmainnah), yaitu sifat jiwa yang memperoleh ketenangan.
Ciri pribadi yang memiliki nafsu mutmainah, yakni tetap tenang dalam beriman. Memiliki rasa aman dan terbebas dari rasa takut serta sedih di dunia. Pribadi ini memiliki hati tentram karena selalu ingat akan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Seperti firman Allah dalam QS al-Fajr ayat 27-30.
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku.”
Nafsu mutmainah , yang diterjemahkan sebagai jiwa yang tenang. Nafsu ini menempati tingkat tertinggi. Mereka yang bisa menjalankan nafsu mutmainah dijanjikan masuk surga.
3 Cara Kendalikan Hawa Nafsu
Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan manusia sebagai makhluk yang tidak lepas dari hawa nafsu. Berbeda dengan malaikat yang tidak memiliki nafsu. Manusia harus dapat mengendalikan nafsu karena jika tidak dikendalikan nantinya akan menyebabkan malapetaka.
Nafsu tidak boleh berlebihan dan harus dikendalikan. Nabi mengontrol nafsu dengan ibadah, zikir, hidup sederhana, dan lain-lain. Jadi, nafsu itu _jangan dimanjain’.
Nafsu bisa mendorong manusia menjadi sempurna. Nafsu juga sebagai tantangan manusia agar menjadi makhluk yang lebih mulia daripada malaikat. Oleh karena itu, nafsu harus dikendalikan dan dikelola dengan baik dalam diri.
Ada tiga cara untuk mengendalikan hawa nafsu, yaitu :
Pertama, mengurangi makan.
Karena sumber makanan berlebihan adalah setan. Jangan makan yang berlebih.
*Kedua, mengurangi bicara yang sia-sia.*
Berbicaralah jika ada perlunya dan bicaralah yang bermanfaat. Lisan itu sumbernya setan.
Ketiga, mengurangi tidur.
Kita juga harus mengendalikan tidur. Jangan menghabiskan waktu semalaman hanya untuk tidur.
Jangan lupa bangun tidur di tengah malam untuk beribadah. Biasanya setan suka mengelus-elus kita agar kita nyenyak tidurnya, sampai tidak jadi shalat subuh. Itu semua harus dilawan.
Adapun pemicu nafsu beragam. Bisa dari rasa iri karena melihat seseorang lebih baik hidupnya dari kita. Ada seseorang yang dijamin masuk surga karena setiap malam dia menghilangkan rasa dengki dari hatinya.
Daripada dengki, lebih baik kita bersaing dalam hal positif seperti mengejar urusan akhirat. Karena hidup manusia ini untuk di akhirat bukan untuk di dunia. Dunia hanyalah jembatan menuju akhirat
fimdalimunthe55@gmail.com

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi