SURABAYA–KEMPALAN: Universitas Surabaya (Ubaya) sambut kedatangan mahasiswa kuliah tatap muka secara penuh dengan fashion show. Sambutan diberikan kepada mahasiswa yang datang ke kampus setelah dua tahun menjalani pembelajaran jarak jauh. Fashion show digelar pada Senin (11/4/2022) pukul 10.00 -11.30 di trotoar depan Kampus II Ubaya Tenggilis.
Fashion show dipilih Ubaya dalam menyambut mahasiswa dikarenakan lebih interaktif dan kesan anak muda serta membawa aura semangat tertuang dalam setiap kostum. Koleksi baju milik mahasiswa Fakultas Industri Kreatif (FIK Ubaya) ini diperagakan oleh 10 model mahasiswa Ubaya juga. Sehingga, kegiatan ini bersifat dari mahasiswa untuk mahasiswa.
Trotoar depan Ubaya dipilih menjadi runway fashion show. Hal ini membuat pesan sambutan lebih tertuju pada mahasiswa. Satu per satu model melakukan catwalk sambil memamerkan busana. Setelah itu, sepuluh model berjalan bersama sambil melambaikan tangan menyambut mahasiswa yang melintas di jalan masuk kampus.
Keputusan kuliah tatap muka yang dilakukan Ubaya mengikuti arahan pemerintah. Pertimbangan ini, dikatakan Rektor Ubaya, Dr. Ir. Benny Lianto, M.M.B.A.T., juga melihat dari perkembangan COVID-19 terkini serta ketercapaian dua kali vaksin civitas akademika Ubaya yang sudah mencapai di atas 95%. “Seluruh kegiatan belajar mengajar termasuk ujian akhir semester akan dilaksanakan secara offline baik tingkat fakultas maupun politeknik,” jelasnya.
Sebelumnya, mahasiswa Ubaya menjalani perkuliahan dalam jaring (daring) sejak Maret 2020. Kebijakan ini dilakukan ketika pandemi COVID-19 meluas di seluruh daerah Indonesia. Di tahun 2021, aktivitas kuliah offline mulai dibuka hanya untuk mahasiswa yang membutuhkan sarana prasarana fisik laboratorium. Kini, secara serempak mahasiswa serta dosen dapat kembali menjalankan pembelajaran offline.
Sepuluh mahasiswa mengenakan rangkaian busana bertema “Anemoia”. Koleksi ini merupakan karya mahasiswa FIK yang menjalani tugas akhir dan menempu mata kuliah Local Content Design Project. Audrey Ernestina, mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2019 sekaligus koordinator catwalk fashion show, menjelaskan bahwa di koleksi Anemoia terdapat perpaduan warna yang harmonis dan selaras. Sama halnya seperti manusia yang berusaha hidup berdampingan dengan alam dan manusia lain di sekitarnya. “Adanya fashion show ini selain untuk menyambut kehadiran mahasiswa secara offline juga menunjukkan bahwa sebagai mahasiswa dapat terus menghasilkan karya kreatif dalam kondisi apapun,” ujarnya.
Representatif Model Fashion Show beserta Busananya

Dua dari busana Anemoia merepresentasikan natur manusia sebagai makhluk sosial. Felisitas Yudit Hartandyo, mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2019, mengenakan paduan busana yang terdiri atas outer dengan material denim dan mini dress yang memberikan kesan edgy. Busana juga dipadukan dengan aksesoris topi dan sepatu berwarna netral yang senada dengan dress.
“Pakaian ini terinspirasi dari mitologi kuno Medusa yang menggambarkan relasi antara manusia dengan lingkungan terdekatnya. Teknik macrame dengan jalinan tali-temalinya serta manipulasi tekstil berupa smock menggambarkan konsep tersebut,” jelasnya.
Reynata Augustine Hardi, mahasiswa FIK Ubaya angkatan 2019, memakai 3 macam outfit yang terdiri atas blazer, atasan, dan rok bawahan. Paduan busana menunjukkan nuansa warna-warna kulit, mulai dari warna terang hingga warna cokelat yang gelap dalam satu tampilan.
“Paduan ini sekaligus merepresentasikan hubungan antara manusia yang tidak dibatasi warna kulit. Semua warna kulit itu memiliki kecantikan tersendiri dan setiap manusia dapat hidup berdampingan secara harmonis tanpa perlu memandang warna kulitnya,” ungkapnya.

Mahasiswa yang masuk kampus harus mematuhi protokol kesehatan yang ada. Bagi seluruh pihak yang akan berkegiatan terlebih dahulu melewati sistem screening menggunakan pemeriksaan suhu tubuh dan scan barcode Peduli Lindungi. “Ubaya tentu menyiapkan segala infrastruktur dan fasilitas yang dibutuhkan di area kampus. Itu kita lakukan untuk menjamin kesehatan dan keamanan civitas akademika,” imbuh Benny.
Benny berharap, dilakukannya kebijakan kuliah tatap muka ini membuat mahasiswa lebih banyak berinteraksi secara langsung. Sehingga, mahasiswa sebagai makhluk sosial dapat beraktivitas normal kembali seperti sedia kala. “Ayo kita masuk ke kampus Ubaya. Mari kita saling jaga satu dengan yang lain. Karena Ubaya bukanlah Ubaya tanpa kita semua,” pungkasnya. (*)
Editor: Freddy Mutiara

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi