Maka, agar jiwa rasional itu bisa memimpin diri manusia, langkah pertama adalah memperbanyak “amunisi”. Memberi ‘makan’ dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat (ilm nafi’).
Langkah kedua, imam al-Ghazali memberi petunjuk bahwa sifat baha’im dan sifat setan itu kesukaannya adalah banyak memakan dan minum-minuman yang lezat, seks dan marah kepada manusia. Oleh sebab itu, cara menaklukkan jiwa hewani adalah dengan mengurangi kesukaan sifat bahaim tersebut, atau dikendalikan sesuai kebutuhan yang tidak berlebihan (Imam al-Ghazali, Kimiya’ as-Sa’adah).
Jiwa harus dilatih dengan cara mengendalikan keinginan-keinginan sifat hewani secara berlebihan itu. Latihan itu bernama riyadhah. Misalnya, tidak makan dan minum kecuali dari sumber yang halal. “Setiap daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram maka neraka lebih berhak baginya” (HR. Tabrani).
Daging dan tulang yang tumbuh dari makanan haram akan mendorong jiwa hewani berkuasa menyerang jiwa rasionalnya.
Di tempat lain imam al-Ghazali menjelaskan dalam diri manusia terdapat potensi fikrah, syahwah dan ghadab (marah). Ketiga potensi ini harus dikendalikan oleh jiwa rasional. Sebab jiwa ketiga potensi ini liar, tidak dipimpin dengan baik, maka manusia bisa menjadi jahat.
Tetapi, jika jiwa fikrah dapat dikendalikan maka sifat yang dominan yang muncul adalah hikmah, bijak dalam berperilaku. Jika potensi syahwah dapat dikendalikan maka sifat yang dominan adalah iffah. Sedangkan jika potensi ghadab dikenalikan maka yang dominan muncul adalah sifat adil (Imam al-Ghazali, Mizanul ‘Amal).
Jadi, memimpin diri itu merupakan kemampuan untuk mengenali jiwa sendiri. Jika manusia diberi kemampuan ini, maka manusia akan “mengangkat” jiwa rasionalnya sebagai raja bagi dirinya.
Sehingga, sebelum seseorang itu menjadi pemimpin bagi masyarakat atau orang banyak, maka dia harus terlatih memimpin dirinya. Jika saja diri tidak mampu dipimpin, maka dia tidak akan berhasil memimpin diri-diri yang lain. Bagaimana memimpin orang lain, sedangkan memimpin dirinya tidak mampu.
Banyak pemimpin itu salah tindakannya, keliru keputusannya, tidak tepat bicaranya karena kemungkinan ada problem dalam “kerajaan dirinya”. Sifat-sifat hewani menjadi raja bagi kerajaan dirinya. Maka, tindakan, keputusan dan cara bicaranya tidak benar-benar manusiawi, tapi ‘hewani’.
Itulah pentingnya manajemen jihad nafsu.
Menyiapkan pemimpin sejak dini berarti menyiapkan manusia itu ‘perang’ dengan nafsu hewaninya. Latihan secara terus-menerus. Siapkan ‘amunisi’ sebanyak-banyaknya. Jangan sampai kalah ‘perang’ sebelum jadi pemimpin. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi