OLEH: Isa Ansori (Kolumnis)
KEMPALAN: Jalan tengah dipersepsikan sebagai solusi yang aman dan nyaman ketika dua kelompok atau lebih ingin menyelesaikan masalah tanpa harus ada yang merasa dikalahkan atau dipermalukan. Jalan tengah juga berarti cara yang disepakati bersama untuk menyelesaikan konflik tanpa harus ada korban. Sembari para pihak kedepan harus berupaya untuk memperbaiki perilakunya.
Jalan tengah biasanya ditempuh oleh mereka yang tidak punya beban dan dosa massa lalu. Sehingga jalan tengah akan bisa dilakukan dengan baik bila dilakukan oleh mereka yang tidak punya masalah dengan para pihak yang berkonflik.
Perjalanan bangsa ini sepuluh tahun terakhir diwarnai dengan konflik berkepanjangan. Konflik ini didesain oleh mereka yang memang ingin melampiaskan dendam massa lalunya terhadap kelompok lain. Lalu diciptakanlah istilah cebong – kampret dan istilah kadal gurun bagi mereka yang berketurunan Arab dan Islam.
BACA JUGA: Anies Tak Bisa Dibendung Lagi
Tentu saja bisa dirunut siapa saja di antara mereka yang ingin melampiaskan dendam massa lalunya terhadap keturunan Arab dan Islam. Sejarah membuktikan bahwa mereka yang pernah gagal menjalankan politik kekuasaan penjajah dan rakus adalah mereka yang dulu menjadi antek penjajah dan terhalangi oleh kekuatan Islam. Mereka bisa dari kalangan Komunis Gaya Baru, Sekuleris Radikal atau etnis tertentu yang terhalangi ambisi rakusnya menguasai kekayaan Indonesia.
Rakyat Indonesia yang dikenal sebagai masyarakat yang toleran dan bergotong royong, tiba – tiba menjadi sangat radikal, mudah diprovokasi oleh mereka yang memang mendapatkan keuntungan dengan jalan mengadu domba dan memecah belah kerukunan dan persatuan. Anehnya para provokator yang dikenal sebagai buzzer bayaran ini kebal hukum dan terkesan dilindungi.
BACA JUGA: Anieslah yang Jadi Harapan Jokowi!
Bangsa menjadi terbelah, persatuan terkoyak, keadilan hanya ilusi apalagi perdamaian, tentu semua hanya mimpi. Dimana – mana terjadi ancaman disintegrasi.
Bangsa ini sudah saling kehilangan kepercayaan, apalagi selama sepuluh tahun terakhir hanya diberi janji minim bukti.
Yang lebih mengerikan adalah kekuasaan menjadi bagian yang membelah itu, sehingga rakyat pun kehilangan simpati.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi