Jumat, 8 Mei 2026, pukul : 23:36 WIB
Surabaya
--°C

Anies dan Anak-anak Autis, Melukis dengan Hati

KEMPALAN: Keadilan dan persamaan akan menghadirkan kesempatan yang sama untuk diwujudkan. Itu pada semua hal. Bahkan pada semua lapisan. Tidak terkecuali pada kaum disabilitas, atau kaum berkebutuhan khusus, mestinya mendapat hak yang sama.

Pembangunan, baik fisik maupun psikis, mestinya diarahkan ke sana. Pada persamaan tanpa sekat yang membedakan. Menyasar semua lapisan masyarakat. Semua mendapat kesempatan yang sama untuk berkarya dan merenda cita-cita. Negara mesti hadir membuat kebijakan yang memberi hak sama antarsesama anak bangsa, tanpa melihat latar belakang fisiknya.

Di negara-negara yang hak asasi manusianya tumbuh, tidak sekadar jargon, maka mudah ditemui seseorang dengan keterbatasan fisik (disabilitas), tetap bekerja pada bidang yang sama dengan mereka yang punya fisik sempurna. Itu hal biasa, yang tidak dilihat dengan keanehan apalagi dikasihani. Sekeliling tidak melihatnya punya kekurangan fisik. Melihat selayaknya sebagai warga umumnya yang tengah bekerja.

Tapi di negeri kita menjadi sebaliknya dalam memandang kaum disabilitas. Tidak dilihat sebagai hal wajar, bahkan acap dilihat dengan sebelah mata. Dianggap tidak mampu melakukan apa-apa. Karenanya, tidak ada ruang kesempatan untuk bekerja.

Stigma lemah dan serba terbatas, dan bahkan dengan hinaan tak pantas, tidak sedap dipandang mata. Bahkan, pada komunitas tertentu kerap dianggap pembawa sial. Sungguh penghinaan pada harkat kemanusiaan. Terkadang dalam skup keluarga kecil saja upaya membedakan perlakuan anak yang normal dengan berkebutuhan khusus acap terjadi. Sebenarnya itu awal diskriminasi dimulai.

Negara mesti hadir terus mengedukasi, dan dengan kebijakan yang tegas menghadirkan persamaan dan keadilan bagi semua warganya. Menegaskan, bahwa kaum disabilitas memperoleh hak yang sama, bahkan mendapat fasilitas utama dalam memperoleh kesempatan, baik dalam pendidikan dan pekerjaan.

Maka, fasilitas-fasilitas umum bagi penyandang disabilitas sudah mulai dipenuhi. Jalan khusus, toilet khusus dan seterusnya. Itu fasilitas fisik yang terus dihadirkan untuk persamaan memperoleh hak-haknya. Upaya menghadirkan kota ramah pada penyandang disabilitas terus disempurnakan, dan itu seharusnya.

Anak Autis Pun Menjadi Sesuatu

Kota-kota besar dunia, dan kota-kota besar di negeri kita terus menghadirkan pembangunan, yang tidak mengabaikan kalangan disabilitas. Seolah menjadi satu keharusan. Itulah bentuk kesadaran, bahwa semua warga negara mempunyai hak dan perlakuan sama.

Ada hal menarik dibuat Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, itu di tahun 2018. Tentu kerja kolaborasi, yang itu masih bisa dilihat lalu lalang di kota Jakarta. Kreativitas yang disuguhkan Anies kala itu hal sederhana, tapi bernilai luar biasa. Sesuatu yang luput digagas pemimpin lainnya. Inilah kreativitas yang tidak semata membangun kota menjadi molek. Tapi lebih dari itu, membangun persamaan hak setiap warganya.

Anies mampu mewujudkan hal di luar kesadaran, bahwa anak-anak penderita autis, itu punya karya yang tidak bisa dipandang remeh. Anies mewujudkan karya anak-anak itu agar bisa dinikmati secara luas. Itulah gagasan manusiawi, dan itu keren.

Saat itu, diluncurkanlah bus gandeng Transjakarta, yang di seluruh bodi tubuh bus dipenuhi lukisan anak-anak autis dengan tema Ibuku Perempuan Tangguh. Entah berapa banyak anak autis yang terlibat. Bodi bus jadi tampak indah menawan. Sebuah pemandangan artistik tak biasa dihadirkan.

Itulah pesan persamaan sederhana dihadirkan Anies, di tahun pertama ia menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, yang tampaknya itu mewarnai jalan Anies selanjutnya dalam membangun kotanya.

Anies tidak sekadar mengumbar narasi persamaan untuk semua warganya, tapi mewujudkannya dengan karya. Dan karya lukis anak penyandang autis di bodi bus, itu mengangkat harkat bahwa di balik kekurangan anak-anak itu ada kelebihan luar biasa yang dipunya. Dan Anies menyambarnya menjadi sesuatu untuk diwujudkan. Menjadi karya berkelas.

Kreativitas dalam melibatkan anak-anak autis ini sungguh punya makna batin yang luas. Ada kebanggaan setidaknya pada orangtua, yang anaknya terlibat dalam proyek melukis bus itu. Pastilah muncul kebanggaan dan harapan.

Sedang pada orang tua umumnya, yang memiliki anak autis, diharap pula memunculkan optimisme, bahwa anak-anaknya pun sebenarnya punya kelebihan di balik kekurangannya. Dan itu bisa dikembangkan.

Anies seakan menjawab keresahan orangtua yang mendapat amanah anak dengan kondisi autis dan sekaligus memberi jawaban, bahwa anak-anak itu punya masa depan yang sama dengan anak-anak normal lainnya. Jika arahan terus diikhtiarkan.

Bus Transjakarta yang dilukis anak-anak autis itu masih bisa dilihat lalu lalang di kota Jakarta. Meski sudah sekitar empat tahun usianya tertimpa panas dan hujan. Terlihat jelas di sana ada jejak Anies yang terus menempel. (*)

Editor: Muhammad Tanreha

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.