Rabu, 20 Mei 2026, pukul : 09:00 WIB
Surabaya
--°C

Super Semar

Puncak ketegangan terjadi ketika Pasukan Cakrabirawa pimpinan Letkol Untung Samsoeri menculik tujuh jenderal Angkatan Darat pada 30 September 1965. Rangkaian penculikan itu diduga didalangi oleh PKI yang ingin melenyapkan para jenderal di bawah Jenderal Ahmad Yani yang sangat anti-komunis.

Di tengah situasi yang guncang itu posisi Bung Karno menjadi terdesak. Posisi Bung Karno mirip the lame duck, bebek lumpuh, yang tidak mempunyai banyak opsi politik kecuali memberi mandat kepada Letjen Soeharto untuk melaksanakan operasi pemulihan.

BACA JUGA: Sekarat

Begitu mendapat surat sakti Supersemar Soeharto langsung bergerak cepat, membubarkan PKI dan mengumumkannya sebagai partai terlarang. Soeharto juga menangkapi tokoh-tokoh PKI dan sejumlah menteri yang diduga menjadi pendukung PKI.

Supersemar disebut sebagai kudeta terselubung Pak Harto terhadap Bung Karno karena pelaksanaan operasi pemulihan dianggap melenceng terlalu jauh dari amar surat perintah. Tetapi, kesaksian Probosutejo, adik Pak Harto, dalam memoarnya menyatakan bahwa amar Supersemar adalah memulihkan keamanan nasional, dan hal itu tidak bisa dicapai tanpa melakukan tindakan tegas terhadap PKI.

Soeharto menemukan momentum yang tepat untuk mengambil alih kekuasaan. Ia bukan jenderal yang paling senior, karena masih ada Jenderal A.H Nasution. Tetapi, posisi strategis Soeharto sebagai panglima Kostrad membuatnya menjadi frontrunner, ujung tombak dalam operasi pemulihan keamanan.

Tepat setahun setelah menerima Supersemar Soeharto dilantik menjadi pejabat presiden pada 12 Maret 1967. Berbekal selembar surat perintah, Soeharto bergerak cepat mengonsolidasikan Angkatan Darat dan menggerakkan milisi rakyat untuk memburu anggota dan simpatisan PKI.

Selebihnya adalah sejarah. Soeharto mengonsolidasikan kekuasaannya dengan rekayasa politik yang canggih. Bung Karno benar-benar menjadi the lame duck yang tidak berdaya. Ia menjadi tahanan rumah sampai meninggal pada 1970.

BACA JUGA: Chelsea

Supersemar menjadi surat sakti bagi Soeharto. Supersemar kemudian dimanfaatkannya untuk mencari legitimasi budaya dengan mengidentifikasikan dirinya kepada Semar. Secara fisik Soeharto tidak ada kemiripan dengan Semar. Tetapi, untuk mendapat legitimasi politik Soeharto perlu tokoh idola yang memudahkannya untuk melakukan komunikasi politik kepada rakyat.

Maka pilihannya jatuh kepada Semar. Secara fisik bentuknya ‘’nganeh-nganehi’’, tetapi Semar punya kewenangan level dewa tertinggi. Soeharto bukan semar sembarang semar, dia semar super dan Super Semar. (*)

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.