Banyak elite politik yang memajang wayang idolanya di dinding ruang tamu atau di ruang kerja mereka. Semakin sakti tokoh wayang yang diidolakan, semakin banggalah sang pejabat dengan identifikasinya.
Pak Harto berbeda dengan para pejabat lain. Seleranya bisa disebut sebagai anti-mainstream. Pak Harto tidak mengidolakan para ksatria, tetapi memilih Semar sebagai idola. Tentu tampilan Pak Harto yang gagah dan tinggi besar lebih tepat diidentifikasikan dengan para ksatria. Tetapi, Pak Harto malah memilih punakawan sebagai idola.
BACA JUGA: Ustaz Radikal
Semar bukan sembarang punakawan. Ia mempunyai personalitas yang unik, karena campuran manusia dan dewa. Semar adalah makhluk setengah manusia dan setengah dewa. Tampilan fisiknya buruk tapi kesaktiannya luar biasa.
Semar dikenal juga dengan nama Ki Lurah Badranaya dan Ismoyo. Ia bisa sewaktu-waktu melabrak kayangan jonggring salaka tempat para dewa bersemayam. Semar merupakan saudara tua dari Batara Guru yang dikenal sebagai ketua para dewa. Kalau semar sedang marah Batara Guru pun akan dibuat ketakutan.
Semar versi Pak Harto bukan Semar yang merusak kayangan. Sebaliknya Semar lebih memilih membangun kayangan. Salah satu episode wayang yang terkenal dan menjadi favorit Pak Harto adalah ‘’Semar Mbangun Kayangan’’.
Pak Harto mengambil banyak falsafah dari Ki Semar dan mengadopsinya menjadi filsafat politik. Salah satu yang sering dikutipnya adalah ‘’ngelurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake, sakti tanpa aji-aji, sugih tanpa bandha’’, menyerbu tanpa membawa tentara, menang tanpa menghinakan, sakti tanpa senjata, dan kaya tanpa harta.
BACA JUGA: Matinya Demokrasi
Sebagai realisasi ‘’Semar Mbangun Kayangan’’ Pak Harto menjadikan dirinya sebagai bapak pembangunan Indonesia dengan membangun banyak infrastruktur. Pak Harto juga membangun irigasi dan sarana pertanian sehingga Indonesia bisa mencapai swa-sembada pangan. Pak Harto menerapkan falsafah ‘’mbangun kayangan’’ dan mengadopsinya menjadi filsafat ‘’developmentalism’’ atau pembangunanisme.
Titik balik karir politik Pak Harto terjadi pada 11 Maret 1966 ketika menerima surat perintah 11 Maret dari Presiden Bung Karno. Ketika itu Indonesia tengah dicekam krisis politik setelah pecahnya peristiwa 30 September yang melibatkan PKI (Partai Komunis Indonesia). Tujuh jenderal tewas akibat penculikan yang didalangi PKI.
Indonesia berada dalam situasi keos. Bung Karno yang terlibat dalam konflik politik dengan jenderal-jenderal Angkatan Darat berpaling kepada PKI untuk mencari keseimbangan politik. Ide Bung Karno untuk menggabungkan tiga kekuatan, nasionalis, komunis, dan agama, dalam Nasakom memunculkan penolakan dari berbagai kalangan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi