Rabu, 22 April 2026, pukul : 16:36 WIB
Surabaya
--°C

Menanti Presiden Tanpa Pencitraan

Oleh: Isa Ansori (Kolumnis)

KEMPALAN: Kita mengenal kata simulacra sebuah terminologi yang dikenalkan oleh Jean Baudrillard (1929-2007), seorang sosiolog politik Prancis ketika menggambarkan realitas semu.

Bagi Jean Baudrilllard dalam bukunya Simulacra and Simulation (1981), manusia abad kontemporer hidup dalam dunia simulacra (gambar atau citra).

Manusia cenderung menciptakan sebuah realitas semu untuk menutupi realitas yang sesungguhnya, sehingga sejatinya banyak tercipta kepalsuan dan ketidak jujuran.

BACA JUGA: Anies Merangkul Semua

Manusia butuh mencitrakan dirinya agar kelihatan baik dan menarik, sehingga dilakukan segala daya untuk mewujudkannya. Terlebih lagi dalam dunia politik. Seringkali citra itu ditampilkan berbanding terbalik dengan realitas yang sebenarnya.

Di zaman yang serba instan dan cepat ini, tehnologi menjadi instrumen ampuh untuk mencitrakan diri. Sehingga akan membuat diri menjadi menarik meski kadang berbanding terbalik dengan kenyataan karakter pemimpin tersebut.

BACA JUGA: Menata Surabaya Menjadi Kota Humanis

Suatu saat pernah kita lihat seorang pemimpin yang kelihatan merakyat, namun di sisi lain kita saksikan juga bagaimana cara dia menyelesaikan masalah dengan cara marah-marah dan mengancam. Bahkan sambil menendang-nendang.

Tentu semua ini tidak boleh dipersepsi sebagai sesuatu yang alami, apalagi sambil disorot kamera yang sudah dipersiapkan. Tentu semua ini ditujukan untuk menggambarkan diri seolah anti penyimpangan, pro rakyat dan hal-hal positif lain.

Di tengah ketidakpastian…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.