Minggu, 21 Juni 2026, pukul : 18:05 WIB
Surabaya
--°C

Sekarat

Luber bisa juga punya konotasi yang negatif ketika dikaitkan dengan debit air. Kalau air meluber, meluap, dan melembak kemana-mana berarti akan terjadi banjir yang bisa membawa akibat buruk bagi masyarakat.

Pemerintah Orde Baru terkenal jago dalam kemampuannya menciptakan kata-kata eufimisme atau majas. Eufemisme diambil dari Bahasa Yunani ‘’euphemizei’’ yang berarti memiliki kata-kata yang baik. Majas atau eufemisme berguna untuk menggantikan kata-kata yang punya konotasi kasar atau negatif menjadi kata-kata yang lebih pantas, halus, dan positif.

BACA JUGA: Kotak Amal

Di tangan rezim Orde Baru istilah luber menjadi identik dengan pemilu, dan selalu mempunyai konotasi positif. Kita semua tahu selama rezim Orde Baru berkuasa pemilu tidak pernah benar-benar dilaksanakan secara luber. Pemilu selama masa Orde Baru adalah bagian dari demokrasi prosedural yang dilaksanakan sesuai prosedur tetapi tidak mempunyai esensi demokrasi yang sesungguhnya.

Konsep luber dalam pemilu Orde Baru lebih tepat dilihat sebagai paradoks karena kenyataannya yang benar-benar terbalik. Pemilu Orde Baru tidak langsung, tidak umum, tidak bebas, dan tidak rahasia.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Orang Amerika boleh bangga karena hasil pemilu sudah bisa diketahui dalam lima jam. Orang Inggris boleh bangga karena hasil pemilu sudah diketahui dalam lima hari. Dua negara itu bangga disebut sebagai kampiun demokrasi. Tapi, kehebatan dua negara itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan Indonesia, karena di Indonesia hasil pemilu sudah diketahui lima tahun sebelum pelaksanaannya.

Itu joke politik Orde Baru yang beredar luas di zaman itu. Seorang profesor Singapura tetiba mengutip joke itu tanpa menyebut sumbernya. Kontan sang profesor dikecam oleh banyak orang Indonesia karena pernyataan itu dianggap melecehkan.

Kenyataan yang terjadi memang demikian. Pemilu Indonesia di zaman Orde Baru sudah bisa diketahui pemenangnya, yaitu Golkar. Selama enam kali penyelenggaraan pemilu Golkar sebagai the ruling party Orde Baru selalu menang. Di setiap pemilu Golkar tinggal memainkan target, mau menang 70 persen, 80 persen, atau 90 persen.

Golkar adalah kendaraan politik utama rezim Orde Baru. Tetapi, begitu Orde Baru tumbang Golkar paling cepat menyelamatkan diri, melepas kedekatan dengan Orde Baru dan mengubah diri menjadi Partai Golkar. Sebagian besar masyarakat Indonesia terjangkit penyakit demensia politik yang akut, yang menyebabkan masyarakat mudah sekali lupa.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

BACA JUGA: Lord Luhut

Masyarakat menderita penyakit daya ingat pendek, sehingga dosa-dosa politik Golkar di masa lalu terlupakan total. Golkar menjelma menjadi partai baru yang dengan cepat meloncat menjadi penumpang gerbong reformasi.

Partai Golkar punya jargon ‘’Suara Golkar Suara Rakyat’’, jadi suara Golkar identik dengan suara rakyat. Entah sengaja atau tidak, jargon ini mengadopsi ungkapan demokrasi yang kondang ‘’vox populi vox dei’’, yang artinya suara rakyat suara Tuhan.

Demokrasi adalah suara kedaulatan rakyat yang merupakan representasi dari Tuhan di bumi, karena itu suara rakyat adalah suara Tuhan. Tapi, jargon Golkar terbalik-balik. Suara Golkar adalah suara rakyat. Bukan suara rakyat syara Golkar. Rakyat yang harus ikut suara Golkar, bukan sebaliknya.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.