Kamis, 9 Juli 2026, pukul : 18:37 WIB
Surabaya
--°C

Israk Mikraj, Ateisme Kosmologi, dan Pesan Ibadah

Dalam Bahasa Arab, kata “khalaqa” berbeda dengan “ja’ala.” Khalaqa berarti Allah menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada, bisa jadi dari “nothing” menjadi “something.” Berbeda dengan kata “ja’ala” yang bermakna Allah menciptkan sesuatu dari sesuatu yang telah ada sebelumnya.

Kaum ateis sangat berambisi untuk bisa menjelaskan sesuatu itu ada dengan sendirinya, sehingga Lawrence Krauss berusaha untuk memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut.

Jika mengikut sub judul dari buku A Universe from Nothing: Why There Is Something Rather Than Nothing maka menyiratkan pemikiran bahwa alam semesta itu telah ada sejak dulu hingga sekarang dan hingga masa depan. Kalau bisa dibilang alam semesta itu adalah alpha dan ohmega. Karenanya alam semesta itu adalah yang awal dan yang akhir, bahwa ada itu dari sesuatu yang telah ada sebelumnya, “tidak ada” atau “nothing” itu tidak ada.

BACA JUGA  UKT Mahal, Surabaya Memberi Harapan

Pola pikir tersebut akan mengarahkan orang pada pemikiran keagamaan yang bersifat panteistik, bahwa Tuhan itu adalah alam semesta itu sendiri. Alam adalah Tuhan atau Tuhan adalah alam.

Tentu jika demikian ini bertentangan dengan dalil Al Quran bahwa Allah itu terpisah dari alam semesta. Seperti misalnya dalam Al Quran Surat Yunus (10) ayat 3, ‘’inna robbakumullahu alladzi khalaqa samawati wal ardho…”, yang artinya, ‘’Sesungguhnya Tuhan kalian adalah Allah yang (telah) menciptakan langit dan bumi.” Ayat ini mengindikasikan bahwa Allah terpisah dengan ciptaanNya.

Peristiwa Israk Mikraj menjadi penanda keimanan seseornag. Bahwa Nabi Muhammad adalah utusanNya, dan yang mampu menggerakkannya dalam peristiwa Israk dan Mikraj adalah Allah SWT. Dan hanya dengan izinNyalah seorang hamba  akan bisa melewati tujuh langit dan bisa bertemu denganNya.

BACA JUGA  Dinasti Jokowi Mulai Kehilangan Tajinya?

Hal terpenting dari peristiwa Israk Mikraj adalah adalah pesan ibadah atau menyembah kepada Allah SWT dengan melaksanakan Shalat, yang kemudian akan membedakan antara yang Muslim dan kafir, yang berarti mengingkari Allah, Nabi Muhammad dan pesan keagamaannya.

Memercayai segala yang disampaikan oleh utusan Allah, Muhammad SAW, adalah wujud keimanan karena kebenaran apa pun yang telah disampaikan oleh Al Amin tersebut. Segala yang disampaikan Nabi Muhammad adalah benar, karena ia adalah kebenaran melampaui akal pikir manusia pada masanya. (*)

 

Penulis/Editor: Kumara Adji Kusuma (Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo dan Penanggung Jawab Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum (LKBH) UMSIDA)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.