Jumat, 17 April 2026, pukul : 11:14 WIB
Surabaya
--°C

Wayang

Tapi, Arjuna menolak maju perang, karena tidak mau bertanding melawan Adipati Karna yang tidak lain adalah saudara sekandungnya tapi beda ayah. Pada detik-detik menentukan itulah Kresna melakukan indoktrinasi kepada Arjuna dan memberinya kuliah mengenai nasionalisme, patriotisme, kebenaran dan kebatilan, serta tugas mulia untuk membunuh demi menegakkan kebenaran.

Dialog Kresna dan Arjuna itu terangkum dalam Bagawadgita yang disusun dalam bentuk tembang. Bagawadgita menjadi panduan filosofi moral, bahwa pada akhirnya seseorang harus melakukan kejahatan seperti pembunuhan, untuk menegakkan keadilan.

BACA JUGA: Lord Luhut

Arjuna luluh oleh agitasi Krisna. Dalam perang tanding esok hari Kresna sendiri yang menjadi kusir kereta perang Arjuna. Pada pertandingan hidup mati itu Arjuna dan Karna beradu kesaktian senjata panah yang menjadi andalan masing-masing. Pada akhirnya panah Pasopati yang menjadi andalan Arjuna menembus dan membelah dada Karna. Arjuna menangis, tapi ia puas telah menjalankan darma kepada negara. Karna mati dengan tersenyum. Ia puas telah melaksanakan darma kepada negara.

Nilai-nilai filosofis wayang tertanam kuat dalam jiwa orang Jawa, memengaruhi cara hidup dan cara berpolitik mereka. Benedict Anderson mengupas tautan antara wayang dan filosofi Jawa. Dalam ‘’Mitologi dan Toleransi Orang Jawa’’ (Ithaca, 1965) Anderson menampilkan 175 gambar tokoh wayang, dari nenek moyang Pandawa-Kurawa sampai tokoh-tokoh generasi kedua seperti Parikesit.

Anderson melihat pengaruh yang kuat antara mitologi wayang dengan sikap orang Jawa yang terkenal toleran dan moderat, tapi fatalistis. Budaya moderasi Jawa diwarnai dengan sikap ‘’nerima ing pandum’’, menerima apa yang menjadi bagiannya, dan sikap ‘’sak derma ngelakoni’’, hanya menjalankan peran yang sudah ditetapkan.

Dengan filosofi ini orang Jawa harus patuh dan tunduk kepada pimpinan, yang diyakini mendapatkan wahyu kedaton yang punya dimensi ilahiah. Raja atau pemimpin adalah wakil Tuhan di bumi, dan rakyat atau abdi harus patuh sebagai bagian dari kepatuhan kepada Tuhan. Raja Jawa harus manunggal dengan rakyat sebagai pengejawentahan konsep ‘’manunggaling kawula gusti’’, menyatunya rakyat dengan pemimpin, menyatunya abdi dengan tuhannya.

Karena itu manusia Jawa tidak mementingkan kebutuhan pribadinya, tetapi lebih mengedepankan keutuhan kolektif. Hak-hak individu melebur ke dalam hak-hak kolektif di bawah kepemimpinan sang raja. Konsep demokrasi yang berdasarkan hak-hak individu menjadi asing dengan konsep manunggaling kawula gusti.

Ketika para bapak bangsa, the founding fathers Indonesia berdebat mengenai dasar negara, muncul argumen yang mendukung gagasan individualistik dan gagasan masyarakat kolektif. Mr Soepomo mengajukan konsep masyarakat kolektif yang integralistik, yang memberikan kewenangan kepada pemimpin untuk menjadi representasi rakyat dalam mengambil keputusan strategis.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.