Catatan Ilham Bintang
(Ketua Dewan Kehormatan PWI Pusat)
KEMPALAN: Beruntung ada netizen, sehingga negeri itu tidak tenggelam akibat kedzoliman penguasa memperlakukan rakyatnya.
Tapi eksistensi netizen dimaksud pun tengah digugat. Dianggap musibah bagi sebagian jurnalis di sebagian belahan dunia. Terutama para wartawan yang mengklaim dari media arus utama. netizenyang melaksanakan fungsi kontrol dikecam oleh mereka yang justru punya tugas itu.
Tragedi kemanusiaan di banyak tempat mustahil dapat cepat tersingkap tanpa peran netizen. Mereka lah yang menyebarluaskan melalui media sosial.
Media sosial masih dikuasai Tuhan. Belum lagi dikuasai oleh juragan media. Sehingga kejadian besar, penyalahgunaan kekuasaan, perampokan uang negara, praktek mafia hukum yang sudah lama tidak diangkat dalam media pers, diarak oleh netizen. Pers baru menyusul kemudian ikut membahas setelah jadi trending topic.
BACA JUGA: Kisah Penyanyi Fryda Lucyana, Hattrick Tiga Kali Terjangkit Covid-19
Mustahil kepala polisi segera menata aparatnya tanpa kerja netizen. Meski itu baru wacana politik belaka. Buktinya, aparat kepolisian lah yang dominan tertangkap kamera netizen terlibat perbuatan melawan hukum.
Memang banyak kasus besar dipicu aparat kepolisian dan tentara mereka di negara itu.
Sudah berlangsung lama penyingkapan kasus-kasus penyalahgunaan kekuasaan merupakan hasil karya netizen. Itu sebabnya netizen dibenci dan dimusuhi oleh pemerintah dan wartawan di negara itu.
Secara filosofis dan universal informasi memang milik publik. Media sosial–anak kandung teknologi informasi–telah menyerahkan kembali hak itu kepada pemiliknya yang sah.
Sebanyak 4.66 miliar jiwa (Juni, 2021) penduduk bumi (baca: rakyat) telah terhubung di mesin ajaib itu. Rakyat bangkit menguasai informasi dan menggunakannya secara sadar untuk mengontrol kekuasaan di seluruh dunia. Kekuatan itu tidak bisa dilawan. Yang berdengung 24 jam di dunia maya itu suara rakyat, suara Tuhan.
BACA JUGA: Mati Ketawa Ala Netizen: Habis Narsis Langsung Panik
Saat satu peristiwa besar terjadi atau berbarengan meledak, bisa jadi wartawan masih asyik dengan kebanggaan semu masa lalunya. Yang lain sedang memperingati kedigdayaan organisasinya. Masih banya masih terlelap tidur, sebagian lain yang terjaga sedang memperingati hari bersejarahnya. Tetapi sambil meratap dalam pelbagai seminar untuk memperjuangkan nasibnya sendiri yang megap-megap beradaptasi di era disrupsi informasi.
Seperti orang yang meregang nyawa, lupa doa-doa yang diajarkan orang tua untuk dibaca menjelang ajal. Melupakan keterkaitannya dengan informasi bukanlah sebagai pemilik, melainkan karena keterkaitan profesinya. Yang “kontraknya” jelas, tertuang dalam peraturan secara universal dan kode etiknya sendiri. Isinya hanya tiga poin, sama semua. Kesatu, kedua, dan ketiga : mengabdi kepentingan bangsa.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi