Insiden itu menjadi pertunjukan relasi kuasa yang timpang di puncak kekuasaan. Ekspor batu bara menjadi ekspor kolosal dengan nilai triliunan rupiah tiap bulan. Tetapi, berkah batu bara masih belum bisa memberi kesejahteraan kepada warga Kalimantan yang menjadi tuan rumah. Industri batu bara hanya melahirkan pengusaha-pengusaha crazy super rich yang berkolusi dengan elite-elite kekuasaan.
Insiden ini menunjukkan bahwa Jokowi tidak mempunyai kontrol penuh atas keputusan-keputusan yang menyangkut industri besar. Keputusan yang presiden yang dianulir menterinya sendiri menunjukkan adanya ketimpangan dalam relasi kuasa di antara mereka.
Wajar saja kalau kemudian muncul sebutan the real presiden kepada The Lord. Wajar saja jika kemudian The Lord bisa melekukan by–pass dan anulir terhadap keputusan menteri lain. Jangankan keputusan menteri, keputusan presiden saja bisa dianulir. The Lord sudah membuktikan power-nya.
Sebelum insiden batu bara, akhir tahun 2021 The Lord juga melakukan by-pass dan anulir terhadap keputusan Menko PPM Muhadjir Effendi, yang sudah memutuskan penerapan PPKM menjelang natal dan tahun baru. Muhadjir diberi kesempatan memimpin penanggulangan pandemi selama libur akhir tahun. Tapi, belum sempat berjalan kewenangan dan keputusannya sudah dianulir oleh The Lord.
Kebijakan penanganan pandemi yang tarik ulur sering mebingungkan masyarakat. Karena itu banyak bermunculan kritik dan sindiran dari banyak kalangan. Selama liburan akhir tahun sampai dengan imlek awal Februari ini semua lancar-lancar saja. Tapi, sekarang sudah muncul lagi pembatasan-pembatasan, terutama yang berkaitan dengan ibadah di masjid dan rumah ibadah lain.
Varian Omicron mengganas lagi. Korban sudah mulai berjatuhan. Sumber penularan dari luar negeri diatasi dengan penerapan karantina yang panjang. Bersamaan dengan penerapan karantina panjang itu bermunculan kasus mafia karantina.
Banyak sekali laporan yang muncul mengenai praktik mafia karantina, tapi belum ada penanganan yang komprehensif. Baru setelah seorang turis asing mengunggah di medsos dan bercerita mengenai pemalakan yang dialminya oleh petugas karantina, reaksi bermunculan. Dan, seperti biasa, Jokowi memerintahkan supaya diusut tuntas.
Jakarta dan Jawa Barat menjadi daerah merah penularan varian Omicron. Gubernur Anies Baswedan mengajukan permintaan kepada pemerintah pusat supaya pembelajaran tatap muka di sekolah dihentikan. Permintaan Anies ditolak oleh Luhut dan pembelajaran tatap muka tetap jalan terus.
Solusinya adalah vaksin dan vaksin. Murid sekolah usia belasan tahun itu wajib divaksin. Orang-orang dewasa pun harus mendapat vaksin tambahan ketiga. Dua kali sebelumnya vaksin yang dipakai adalah Sinovac. Kali ini untuk booster ketiga yang dipakai adalah Astra-Zeneca atau Moderna, tergantung stok yang ada.
Sumber penularan varian Omicron adalah orang-orang yang datang dari luar negeri. Alih-alih menutup pintu kedatangan, yang dilakukan sekarang malah membuka lebar-lebar pintu kedatangan untuk orang-orang asing. Bandara Ngurah Rai yang sekian lama ditutup dari turis asing sekarang mulai dibuka lagi.
Bandara dibuka lebar, tapi tempat-tempat ibadah mulai dibatasi. Menteri Agama sudah mengeluarkan serangkaian aturan pembatasan tempat ibadah. Masjid Istiqlal sudah memberi contoh dengan tutup sementara. Biasanya hal ini akan diikuti dengan aturan supaya masjid-masjid lain juga ikut tutup.
Dua bulan menjelang Ramadan dan Idul Fitri, kebijakan semacam ini sangat mudah menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat. Pertanyaan sederhana yang banyak muncul adalah mengapa virus ini menggila lagi menjelang kedatangan Ramadhan.
Ustad Abdul Somad (UAS) dengan bercanda menyebut varian baru sebagai ‘’umi-cron’’ alias virus emak-emak. UAS dengan nada canda bertanya, mengapa menjelang Ramadan ‘’umi-cron’’ muncul lagi.
Pertanyaan itu, harusnya, ditujukan kepada Lord Luhut. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi