Mereka dengan leluasa memecah belah bangsa sembari mereka mendapatkan nafkah. Suasana berdemokrasi kita menjadi bias, mestinya suara rakyat adalah suara Tuhan, tapi ini menjadi suara buzzer suara “Tuhan”. Demokrasi dibajak oleh predator anggaran negara dan para pengkhianat, yang menikmati demokrasi pura-pura dan pembelahan bangsa.
Hampir sepuluh tahun terakhir ini, bangsa mengalami pembelahan berdemokrasi yang sangat tajam. Namun di periode awal pembelahan yang tajam ini, SBY yang saat itu menjadi presiden mampu merawatnya dengan baik, meski terhadap ulama dan kelompok Islam, masih terlihat ketimpangan perlakuan.
Saat pergantian kepemimpinan dari SBY ke Jokowi, pembelahan berbangsa perlahan menjadi sangat tajam dan mengkuatirkan. Diksi Kadrun dan Kampret menjadi warna kehidupan sehari hari. Menjadi sangat kuat lagi, kristal pembelahan itu di 2017 ketika Pilgub Jakarta, Diksi Kadrun disematkan oleh kelompok yang merasa paling Indonesia, diksi kampret dan cebong, disematkan oleh kelompok yang menuding bahwa cebong dan kampret adalah antek asing dan sudah disusupi oleh pemahaman komunis.
Rasanya bangsa ini sudah lelah menjalani pembelahan ini, semakin terbelah bangsa ini, para buzzerRp semakin diuntungkan, mereka bisa hidup makmur bak cendawan dimusim

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi