Senin, 11 Mei 2026, pukul : 09:25 WIB
Surabaya
--°C

Gong Xi Fat Chai

Tuduhan ini santer dilontarkan oleh musuh-musuh China terutama Amerika, Eropa, dan Australia. Selama ini mereka sudah megap-megap kena serbuan produk-produk China. Sekarang mereka malah jadi makin sulit bernapas karena serbuan Corona dari China.

Tuduhan itu tidak bisa dibuktikan secara objektif ilmiah dan hanya sekadar menjadi tuduhan berdasarkan teori konspirasi. Tetapi toh tudingan ke arah China tidak pernah kendor.

Bukan orang China kalau tidak bisa dapat untung dari kondisi kesulitan dan kesusahan. Di tengah penjarahan dan kerusuhan rasial di Amerika, orang-orang China menunggu di pojok jalan untuk menadahi barang jarahan. Di tengah darurat pandemi China menangguk untung dengan mengekspor vaksin dan memakai ilmu tukang tadah dengan membeli produk-produk impor dengan harga murah. Hasilnya, China sudah mulai bisa membenahi ekonominya yang pelan-pelan sudah memulai recovery, dan Amerika-Eropa ekonominya masih megap-megap.

Produk-produk China menyerbu ke seluruh pelosok dunia. Di sebuah negara kecil di Afrika pun produk-produk China menguasai pasar. Mulai dari alat-alat elektronik sampai ke mainan anak-anak dan berbagai suvunir, semua dikuasai produk China. Produk lokal tidak mampu menyaingi produk China yang memproduksi dengan cepat dan efisien.

Di dunia yang serba cepat seperti sekarang, China menjadi raja. Ungkapan Inggris mengatakan ‘’God created the world, and the rest is made in China’’. Tuhan menciptakan dunia, tetapi isinya semua buatan China.

Ancaman pandemi di Amerika, Eropa, dan banyak negara di dunia masih membuat ngeri. Diakui atau tidak, cara China merupakan cara paling jos untuk menyelesaikan krisis pandemi. Lockdown total ala kamp konsentrasi raksasa lalu kemudian vaksinasi masal dan paksa. Tidak sampai setahun semua beres.

Penanganan pandemi di negara-negara “so called” demokrasi maju ala Amerika-Eropa dan negara-negara ”so called” demokrasi tanggung ala Indonesia terbukti tidak mangkus dan sangkil. Kebijakan megalomania ala Trump di Amerika dan gaya Boris Johnson di Inggris terbukti gatot alias gagal total. Apalagi gaya kebijakan Indonesia yang ala poco-poco, maju-mundur geser kiri kanan, dan masih bingung antara pilih pendekatan ekonomi atau pendekatan kesehatan.

Otoritarianisme dan komunisme China bukan pilihan bagi para pejuang demokrasi. Tapi dalam hal penanganan pandemi mau tidak mau siapapun harus mengakui kehebatan China. Karena itu semua harus siap menerima kepemimpinan Global China sebagai super power tunggal atau super power pasangan ganda bersama Amerika-Eropa.

Pengaruh politik, ekonomi, dan budaya China tak terbendung ke seluruh dunia, termasuk budaya Imlek yang sekarang sudah menjadi budaya global.

Gong Xi Fat Chai! (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.