Sabtu, 6 Juni 2026, pukul : 02:19 WIB
Surabaya
--°C

Ekstradisi Para Bedebah

Singapura-DW

Habibie kesal. Bukan hanya karena Singapura terlambat dalam mengucapkan selamat, tapi Singapura juga dianggapnya tidak serius membantu Indonesia yang sedang kelabakan karena serbuan krisis moneter. Singapura menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang aman dari serangan krismon.

Habibie mengeluhkan sikap Singapura yang dianggapnya tidak menunjukkan tenggang rasa dalam bertetangga. Dalam wawancara dengan ‘’The Asian Wallstreet Journal’’, Agustus 1998, tiga bulan setelah pelantikannya, Habibie menyindir Singapura dengan mengutip pepatah Inggris “You see, a friend in need is a friend indeed. I don’t have that feeling from Singapore (Anda tahu, teman yang ada ketika dibutuhkan adalah teman yang baik. Saya tidak merasakan hal itu dari Singapura),’’ kata Habibie

Habibie menambahkan dengan memperbandingkan dua negara.  “It’s ok with me but there are 211 million people (in Indonesia). All the green (area) is Indonesia. And that red dot is Singapore.” (Tidak masalah bagi saya, tapi ada 211 juta  penduduk di Indonesia. Semua daerah yang hijau itu Indonesia, dan titik merah itu adalah Singapura)’’, kata Habibie.

Singapura tidak suka dengan pernyataan ini. Perdana Menteri Goh Chok Tong menjawab dengan mengatakan bahwa Singapura bukan negara besar seperti Amerika yang punya kekuatan besar untuk membantu negara-negara yang mengalami kesulitan. Tetapi, kata Goh, Singapura tetap akan membantu Indonesia sesuai kemampuannya.

Sejak saat itu julukan sarkastis The Little Red Dot Country identik dengan Singapura. Julukan tersebut lazim digunakan, baik oleh masyarakat Singapura maupun masyarakat dunia. Lama kelamaan masyarakat dan pemerintah Singapura merasa nyaman dengan julukan itu dan mengadopsinya sebagai julukan resmi.

BACA JUGA  IPSI Jatim Standardisasi Pelatih dan Juri Festival di Malang 

Ketika merayakan hari jadi ke-50 pada 2015 yang lalu Singapura secara resmi mengadopsi logo titik merah bulat dengan tulisan SG50. Harusnya Singapura membayar royalti kepada B.J Habibie.

Titik merah yang semula membuat gerah sekarang membuat cerah. Singapura tidak ingin lagi menjadi titik merah yang menjadikan Indonesia gatal-gatal. Mungkin karena itu pula Singapura bersedia menandatangani perjanjian ekstradisi itu.

Masih harus dilihat perkembangannya apakah Singapura serius dan tulus dengan perjanjian ini. Akan dilihat juga apakah Indonesia juga serius dan tulus dengan perjanjian ini. Kalau Indonesia serius maka dalam waktu dekat seharusnya para koruptor, pengemplang pajak, dan pencoleng BLBI yang bersarang di Singapura bisa segera dipulangkan.

Menangkap pengemplang BLBI tidak hanya sekadar membutuhkan perjanjian ekstradisi, tapi membutuhkan political will yang serius dari pemerintah Indonesia. Kasus yang melibatkan Sjamsul Nursalim bisa menjadi pelajaran bagaimana rumitnya menangani kasus BLBI ini.

Sjamsul dan istrinya yang bertahun-tahun menetap di Singapura menjadi the untouchables yang tidak tersentuh. Lantas terjadilah perubahan rezim di KPK. Lantas terjadilah revisi terhadap undang-undang KPK. Lantas muncul keputusan Mahkamah Agung yang membebaskan Syafruddin Tumenggung dari hukuman 13 tahun penjara karena dianggap bersalah dalam penyaluran BLBI.

Akhirnya KPK mengeluarkan SP3 (surat perintah penghentian penyidikan) terhadap Sjamsul Nursalim, dan case closed, kasus dugaan penggelapan dana BLBI Rp 4,58 triliun itu pun dianggap selesai.

Ini sebuah kisah nyata yang lebih mirip dengan kisah sebuah novel. Anda yang pernah baca ‘’Negeri Para Bedebah’’ karya Tere Liye akan bisa merasakan kemiripan alur cerita dalam novel itu dengan kisah nyata yang terjadi di Indonesia.

BACA JUGA  Filosofi Tawon AKP Setiawan: Warisan Kondusifitas Kompi 4 Bataliyon A Pelopor Menuju Den Gegana

Dalam kisah ‘’Negeri Para Bedebah’’ Tere Liye menceritakan kisah mengenai ‘’Bank Semesta’’ yang bangkrut karena krismon dan sudah hampir dilikuidasi oleh pemerintah. Likuidasi Bank Semesta akan membawa efek domino besar, uang nasabah triliunan rupiah akan hangus dan bisa memicu rush ke bank-bank lain. Yang lebih penting, harta pemilik Bank Semesta akan disita dan seluruh perusahaan konglomerasinya akan ambruk.

Operasi penyelamatan Bank Semesta dilakukan oleh Thomas yang digambarkan sebagai seorang konsultan keuangan jagoan kelas internasional yang juga keponakan pemilik Bank Semesta. Thomas hanya punya waktu dua hari di akhir pekan untuk menyelamatkan Bank Semesta yang bakal dilikuidasi Senin pagi.

Selama weekend Thomas mempergunakan seluruh jaringannya untuk menyelamatkan Bank Semesta. Thomas menyuap pimpinan bank sentral, otoritas keuangan, pejabat kepolisian, menyogok politikus partai yang berkuasa, segala cara busuk dia lakukan untuk menyelamatkan Bank Semesta dan seluruh harta kekayaan konglomerasinya.

Operasi Thomas berhasil. Alih-alih melikuidasi Bank Semesta pemerintah malah mengeluarkan bail out, dana talangan triliunan rupiah untuk menyelamatkan Bank Semsta. Sang Taipan tetap berhasil mempertahankan konglomerasinya dan malah bisa menggarong triliunan dana talangan secara gratis.

Ini adalah episode fiktif kecil di ‘’Negeri Para Bedebah’’. Kisah nyata di negeri para bedebah jauh lebih dahsyat dari fiksi itu.

Para bedebah masih banyak yang bergentayangan. Selembar perjanjian ekstradisi tidak akan cukup untuk menangkap para bedebah itu. (*)

Editor: Freddy Mutiara

 

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.