Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 13:46 WIB
Surabaya
--°C

Haruna vs Shin Tae-yong

Tentu ini berbanding terbalik dengan negara-negara di seberang sana. Kita hampir tidak pernah mendengar nama ketua FA, ketua Bundesliga, ketua KNVB, atau ketua FIGC. Tapi kita hafal nama bintang-bintang liga mereka karena setiap detik beritanya bermunculan.

Tidak fair memang memperbandingkan PSSI dengan asosiasi-asosiasi di Eropa itu. Tapi, setidaknya kita bisa mengaca diri bagaimana asosiasi yang profesional itu memposisikan diri sebagai regulator dan fasilitator yang menjamin terciptanya iklim kompetisi yang profesional yang kondusif untuk menciptakan prestasi timmas yang optimal.

Publik bola sempat menaruh harapan tinggi terhadap kepemimpinan Mochamad Iriawan. Apalagi Indonesia sudah mendapat kepercayaan FIFA untuk menjadi tuan rumah tunggal Piala Dunia U-20. Rencananya perhelatan itu akan digelar pada 2020, tapi molor karena pandemi. Sampai sekarang tidak terdengar kabar. Katanya akan digelar pada 2023, tapi jadwalnya belum pasti.

Indonesia beruntung mendapatkan STY untuk menangani timnas. Publik bola nasional berharap banyak kepada STY. Setidaknya publik berharap STY bisa mengulang prestasinya ketika membawa Seongnam menjuarai Liga Champion Asia, atau membuat kejutan ketika membawa Korsel menggasak Jerman 2-0 di Piala Dunia Rusia, 2018.

Dengan prestasinya itu bukan mustahil STY bisa menciptakan kejutan di Piala Dunia U-20 atau di ajang-ajang regional lain. Yang dia butuhkan hanyalah kepercayaan dan otoritas penuh untuk membentuk tim.

PSSI mengatakan posisi STY aman sampai akhir kontrak. Tapi, siapa bisa menjamin? Rekam jejak PSSI dalam hal-hal semacam ini lebih sering angin-anginan karena masuk angin, ketimbang konsisten.

Pernyataan Haruna menjadi indikasi ada tarung kepentingan di tubuh PSSI. Seumpama permainan sepak bola, sekarang terbuka kepada umum bahwa dressing room PSSI tidak kondusif. Tidak ada leader yang bisa mengendalikan dressing room.

Para penggemar bola mafhum, dressing room yang kacau tidak pernah bisa menghasilkan permainan tim yang bagus. Dressing room yang kacau menjadi indikator pelatih kehilangan kontrol dan tidak bisa mengendalikan pemain dan stafnya. Ujungnya sudah pasti, sang pelatih out.

Ibarat dressing room, Mochamad Iriawan adalah sang pelatih. Dia harus bisa menertibkan pemainnya. Tidak peduli seberapa hebat si pemain, meskipun tekniknya sundul langit, tapi kalau membuat kacau dressing room si pemain harus diberi sanksi.

Pilihannya cuma dua, si pemain  out atau sang pelatih yang justru ditendang keluar. Pelatih yang pintar dan berwibawa akan bisa mengatasi kekacauan dressing room ini. Dia akan berani membangkucadangkan si pemain trouble maker dengan segala risikonya. Tapi pelatih yang lemah tidak akan berani memberi sanksi, dan akibatnya dressing room kacau.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.