Selasa, 19 Mei 2026, pukul : 13:46 WIB
Surabaya
--°C

Haruna vs Shin Tae-yong

Ini bukan kali pertama dressing room PSSI kacau. Ketika Eddy Rahmayadi menjadi ‘’penguasa dressing room PSSI, kondisi ribut seperti ini juga terjadi. Eddy tidak bisa mengendalikan pengurus-pengurus PSSI di dressing roomnya sendiri. Banyak pengurus yang membangkang dan  akhirnya melakukan kudeta. Eddy Rahmayadi pun pilih mundur karena ketika itu sudah memenangkan jabatan sebagai gubernur Sumatera Utara.

Konflik Haruna dengan STY akan menjadi duri dalam daging yang bisa membuat seluruh badan meriang. Konflik ini menjadi kerikil dalam sepatu yang membuat langkah PSSI terseok-seok tidak nyaman. Kerikil harus dibuang, atau sepatu yang harus diganti. Mengaca pada kasus Eddy Rahmayadi, kali ini sepatu akan diganti kalau tidak berani membuang si kerikil.

Apa sang sepatu berani membuang si kerikil? Kelihatannya sang sepatu harus berhitung cermat. Dia (kabarnya) punya target politik pada 2024. Karena itu dia harus bertahan jangan sampai diganti dengan sepatu baru.

Tapi, si kerikil ini punya backing batu besar seperti gunung yang tidak mudah digusur. Si kerikil ini pasti tidak sendirian di dressing room, banyak kroni dan konconya. Kalau salah perhitungan, alih-alih menghilangkan kerikil, sang sepatu malah yang out.

Konflik ini mengancam keberadaan STY. Setidaknya dia tidak sepenuhnya merasa nyaman karena merasa direcoki sampai ke hal teknis. Hal ini akan memengaruhi prestasi timnas yang sampai enam kali final belum bisa juara AFF.

Kiprah pelatih asing di timnas sebuah negara adalah sesuatu yang lazim, meskipun tidak semuanya membawa prestasi yang hebat. Pelatih asing dibutuhkan kalau pelatih nasional dianggap kurang mumpuni.

Korsel punya pengalaman hebat dengan Guus Hidink yang dengan disiplin tinggi dan otoritas mutlak berhasil merevolusi sepakbola Korea dan membawanya ke tempat terhormat di posisi empat pada Piala Dunia 2002.

Inggris, negara ibu kandung sepakbola, juga mencoba pelatih asing untuk mengubah mental para pemain. Sven Goran Erriksson dan Fabio Capello dicoba dengan hasil yang tidak menggembirakan. Inggris akhirnya kembali ke pelatih produk lokal dan sekarang Gareth Southgate terlihat sudah menemukan jalannya.

Kita sudah punya banyak pengalaman dengan pelatih-pelatih asing. Pada 1970-an kita punya Wiel Coerver yang berhasil meletakkan pondasi sepakbola modern di Indonesia.

Kita pernah punya Opa Alfred Riedl yang memberi prestasi lumayan meskipun tidak pernah juara. Kita pernah mencoba Jacksen Tiago dengan prestasi yang tidak terlalu mengecewakan. Kita juga pernah punya Simon McMenemey dengan prestasi agak medioker.

Kita pernah punya pelatih berkelas seperti Luis Milla, dan sekarang kita punya STY yang punya prestasi mentereng. Kita butuh STY melakukan gebrakan baru untuk merevolusi mental pemain dan pengurus PSSI sebagaimana STY menyaksikan Guus Hiddink melakukannya terhadap sepakbola Korea Selatan.

Luis Milla pergi membawa kekecewaan karena sikap yang dianggapnya kurang profesional di PSSI. STY juga berpotensi mengalami hal yang sama di tengah jalan. Taruhannya sangat besar jika STY mudur di tengah jalan.

Karena itu PSSI harus menyelesaikan konflik Haruna-STY ini. Jangan sampai perseteruan ini menjadi drakor yang berakhir dengan uraian air mata. (*)

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.