Selasa, 28 April 2026, pukul : 04:48 WIB
Surabaya
--°C

Jantung Babi

Di negara komunis seperti China hal semacam ini bisa dilakukan tanpa perlawanan berarti dari masyarakat. Kalau toh ada perlawanan dari aktivis demokrasi dan hak asasi manusia, pemerintah China dengan mudah bisa menghentikannya secara represif.

Suplai organ untuk didonorkan juga bisa diambil dari korban kecelakaan fatal atau korban bencana alam. China bisa melakukannya, tetapi hal itu tidak mudah dilakukan di negara-negara demokratis, termasuk di Indonesia.

Persoalan donor organ menjadi masalah yang pelik di Indonesia karena jumlah suplai terlalu kecil dibanding kebutuhan. Yang terjadi kemudian muncul pasar gelap. Banyak orang yang menjual organ tubuhnya, terutama ginjal, dengan harga tertentu untuk menambal kebutuhan ekonomi.

Donasi organ masih menghadapi masalah syariah di Indonesia. Masyarakat muslim meyakini bahwa seluruh organ tubuh akan dimintai pertanggungjawaban di Hari Kiamat, termasuk hati dan mata.

Inilah simpul perdebatan antara ilmu pengetahuan dengan agama yang rumit dan senantiasa memantik kontroversi. Perdebatan antara rasio dan iman sudah menjadi perdebatan sejak masa-masa awal perkembangan peradaban Islam.

Kelompok rasional yang diwakili oleh para filosof selalu beradu pendapat dengan kelompok iman yang diwakili oleh para ahli fikih. Para ahli syariah fikih selalu keukeuh dengan padangannya bahwa Islam sudah final dan karenanya pintu ijtihad tidak bisa dibuka lagi.

Dalam tradisi barat, perdebatan iman dan akal sudah selesai dengan munculnya Renaissance yang memenangkan akal atas iman. Akal mendapatkan tempat utama dalam peradaban Barat, sementara iman ditempatkan pada sudut sempit di ranah privat.

Dalam Islam perdebatan itu tidak pernah selesai sampai sekarang. Para filosof berpendapat, dengan kekuatan akal yang dikaruniakan Allah seharusnya manusia terus berkembang dan tidak mandek dalam pemikiran untuk memecahkan masalah-masalah kontemporer.

Para ahli syariah menganggap ajaran Islam sudah kaffah dan sempurna, dan hukum-hukum Allah sudah bersifat final. Sebagian kalangan Islam kemudian memilih mengisolasi diri dengan menekuni tasawuf dan mistisisme untuk menghindari keriuhan ini.

Perdebatan panjang antara rasionalisme dan fatalisme–di antara sesama muslim maupun antara peradaban Islam dengan Barat–dijawab oleh pemikir Pakistan Muhammad Iqbal (1877-1938). Iqbal meletakkan dasar-dasar pemikiran yang bisa menjembatani dua kubu yang terpisah itu.

Iqbal dianggap sebagai pemikir Islam yang paling otoritatif dan paling berpengaruh di dunia Islam modern. Pemikirannya dikumpulkan dalam buku ‘’Rekonstruksi Pemikiran Religius dalam Islam’’, sampai sekarang masih tetap menjadi rujukan terkemuka ketika orang berbicara mengenai perdebatan Islam dan ilmu pengetahuan.

Bagi Iqbal, tidak ada pertentangan antara akal dan iman. Oleh para sekuler iman dianggap tidak terjangkau akal, dan karenanya dianggap sebagai tidak ilmiah dan tidak bisa dipercaya. Iqbal membantah dengan menyatakan bahwa akal mempunyai kemampuan ‘’beyond rationality’’ melampaui rasionalitas, untuk menembus hal-hal yang tidak terbatas, termasuk keberadaan Tuhan.

Iqbal menegaskan bahwa iman bisa dijelaskan melalui rasio dan akal, dan karena itu iman adalah ilmiah. Kepada kelangan konservatif Islam, Iqbal menegaskan bahwa Alquran terus-menerus mengingatan orang beriman untuk berpikir dan mempergunakan akal. Karena itu pintu ijtihad harus tetap terbuka untuk menjawab masalah-masalah kontemporer.

Iqbal memperkenalkan trilogi ‘’iman, pemikiran, dan penemuan’’ (faith, thought, discovery). Iman menjadi dasar pemikiran, dan dari pemikiran itu kemudian muncullah penemuan. Itulah yang menjadi api Islam. Itulah yang membuat peradaban Islam memperoleh kejayaan di dunia sejak abad ke-7 sampai 14.

Ketika peradaban Barat masih menjadi peradaban jahiliyah, Islam sudah menjadi peradaban yang sangat maju. Tetapi, stagnasi pemikiran pada abad ke-15 membuat Islam terjebak dalam isolasionisme dan fatalisme.

Pemikiran Iqbal masih tetap relevan sampai sekarang. Persoalan-persoalan kemanusiaan kontemporer yang dihadapi manusia modern sekarang ini bisa dijawab oleh konsep peradaban Islam sebagaimana yang dirumuskan oleh Iqbal.

Transplantasi organ babi akan menjadi tantangan besar umat Islam.

Memilih mati karena menolak transplantasi organ babi adalah sikap fatalistik. Tetapi, mengadopsi mentah-mentah temuan baru tanpa mempertimbangkan syariah adalah pikiran sesat. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.