Sains Mengalahkan Filsafat dan Agama
Dalam konteks Sains vs Filsafat, Hawking mengungkapkan bahwa sains telah mengakhiri hidup filsafat. Dalam Google’s Zeitgeist Conference tahun 2011, Hawking mengatakan bahwa “filsafat sudah mati”. Ia percaya bahwa para filsuf “belum sanggup mengejar perkembangan sains modern” dan para ilmuwan “menjadi sosok terdepan dalam estafet pencarian pengetahuan manusia”. Ia mengatakan bahwa masalah filsafat dapat dijawab oleh sains, terutama teori-teori ilmiah baru yang “memberikan kita gambaran semesta yang
Sedangkan terkait agama, Hawking menyatakan bahwa ia “tidak setaat orang-orang pada umumnya” dan ia percaya bahwa “alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan”. Hawking mengatakan: “Ada perbedaan mendasar antara agama yang didasarkan pada perintah [dan] sains yang didasarkan pada pengamatan dan nalar. Sains akan menang karena selalu terbukti.”
“Hukum-hukum [sains] ini bisa jadi ditetapkan oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak campur tangan untuk melanggarnya,” kata Hawking. Dalam wawancara di The Guardian, Hawking memandang konsep surga sebagai mitos. Ia yakin bahwa “surga atau akhirat itu tidak ada” dan hal-hal seperti itu “hanyalah dongeng bagi orang-orang yang takut kegelapan”. Pada tahun 2011, ketika menarasikan episode pertama seri televisi Curiosity di Discovery Channel, Hawking mengatakan:
“Kita bebas percaya apapun, dan saya memandang bahwa penjelasan paling sederhananya adalah Tuhan itu tidak ada. Tidak ada sosok yang menciptakan alam semesta dan tidak ada pula yang menentukan nasib kita. Pandangan ini membuat saya sadar akan hal lain. Mungkin surga itu tidak ada. Demikian halnya dengan akhirat. Kita hanya hidup sekali untuk menikmati besarnya alam semesta ini. Saya sangat bersyukur atas nikmat tersebut”
Pada September 2014, ia hadir di Starmus Festival sebagai pembicara dan mengumumkan bahwa dirinya adalah seorang ateis. Dalam wawancara dengan El Mundo, ia berkomentar:
Sebelum kita paham ilmu pengetahuan, wajar saja kita percaya bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Namun, sains kini memiliki penjelasan yang lebih meyakinkan. Ketika saya mengatakan ‘kita akan mengetahui isi pikiran Tuhan’, maksud saya adalah kita akan tahu semua hal yang diketahui Tuhan, itu pun seandainya ada Tuhan, dan memang tidak ada. Saya seorang ateis.
Kesimpulan Hawking: “Kita tak lebih dari mesin biologis”; apa yang disebut “kehendak bebas” cuma “ilusi”.
Perabot dan komputer membantu hidup jenius yang mengagumkan ini. Sebab itukah ia memandang laku manusia sedemikian mekanistis-manusia adalah bagian dunia benda-benda, bukan makhluk yang “luar biasa”?
Namun seiring berjalannya waktu, dalam konteks penemuan luar biasa ilmu fisika, akan banyak hal tak terduga di masa depan yang belum terungkap di masa hidup Hawking. Bisa jadi apa yang diketahui sekarang akan berubah dengan temuan-temuan tak terduga yang nantinya juga akan menjugnkirbalikkan temuan terkini abad ini. Ini adalah karkter utama dari Sains. (*)
Selanjutnya: Biodata

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi