Menu

Mode Gelap

Kempalanart · 9 Jan 2022 17:39 WIB ·

Mengenang Tjarda, Mengingat Kejatuhan Hindia Belanda


					Sampul buku Mempertahankan Imperium karya Christopher Reinhart. (Marjin Kiri) Perbesar

Sampul buku Mempertahankan Imperium karya Christopher Reinhart. (Marjin Kiri)

Judul buku: Mempertahankan Imperium

Penulis: Christopher Reinhart

Peresensi: Reza Maulana Hikam

Penerbit: Marjin Kiri

Tebal buku: xviii+126 halaman

Tahun terbit: 2021

Harga: 52.500

ISBN: 978-602-0788-20-3

KEMPALAN: Hindia Belanda adalah bagian penting dari silang sejarah Indonesia, ia adalah entitas politik sebelum lahirnya republik. Sejarah tidak ada pengandaian, tapi andai saja tidak ada Hindia Belanda mungkin pula tidak ada Indonesia, yang ada hanyalah sejumlah negara kota yang bisa saja saling bertempur satu sama lain.

Negara yang disebut Hindia Belanda itu memiliki sederet gubernur jenderal sebagai pemimpin tertingginya, dan dari deretan tersebut, Tjarda van Stakenborgh-Stachouwer adalah yang terakhir (secara formal) memegang jabatan tersebut. Van Mook hanyalah “penjabat” Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Nama Tjarda sendiri nampaknya tidak begitu terkenal di Indonesia, namun lain halnya dengan di Belanda. Ia masih memiliki gaung dan Christopher Reinhart akan membukakan pintu kepada khalayak pembaca di Nusantara untuk mengenal Tjarda beserta kebijakannya.

Buku terbitan Marjin Kiri ini bukan sekedar biografi, namun gambaran kejatuhan Hindia Belanda dari sudut pandang pemerintah kolonial. Ia adalah pelengkap dari karya Onghokham berjudul “Runtuhnya Hindia Belanda”. Namun layaknya sebuah kisah sejarah, semua harus memiliki pemeran utama, dan Tjarda maju sebagai pemain kunci dalam buku ini.

Sang Gubernur Jenderal Hindia Belanda adalah seorang bangsawan yang meniti karir di dunia diplomasi, ia dianggap sebagai orang progresif, namun ternyata ketika memimpin koloni yang besarnya 40 kali lipat dari negeri asalnya, ia tak se-progresif A. W. F. Idenburg dan Van Limburg-Stirum, tapi juga tak se-konservatif De Jonge, dirinya adalah titik tengah di antara kedua kubu ekstrem itu. Menariknya, masih jarang buku yang mengulas tentang kebijakan pemerintah kolonial dengan lingkup gubernur jenderalnya, seringkali menekankan pada tahun yang mana bisa saja posisi tersebut diisi oleh sejumlah orang.

Masa De Jonge mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana pemerintahannya berjalan, sebuah periode yang dianggap sebagai pemerintahan kolonial reaksioner, di mana pergerakan kebangsaan di Hindia Belanda betul-betul dikekang dan diberangus demi tata tenteram. De Jonge bahkan mengubah Politieke Inlichtingen Dienst (PID) atau dinas intelijen politik yang tugasnya mengamati dan mengawasi pergerakan politik menjadi alat untuk memberantasnya.

Sikap reaksioner ini pada akhirnya membuat De Jonge tidak diperpanjang masa jabatannya dan digantikan oleh pemeran utama buku ini, A. W. L. Tjarda van Stakenborgh-Stachouwer. Tjarda sendiri mendapatkan mandat menjadi gubernur jenderal melalui Koninjlike Besluit pada 4 Juni 1936.

Sekilas sebelum menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Tjarda pernah berperan dalam misi diplomatik Kerajaan Belanda untuk Amerika Serikat, Prancis, Jerman, dan Belgia. Ia juga mewakili Belanda pada World Naval Conference (WNC) yang berisikan kekuatan maritim terkuat di dunia serta perundingan dengan Rusia pada 1922. Di dalam negeri, karirnya juga tak kalah gemilang. Ia ditunjuk menjadi komisaris ratu untuk Provinsi Groningen dan kepala dewan pengawas Universitas Groningen.

Tjarda sejatinya berdiri di antara dua bebatuan, di satu sisi pemerintah Belanda sedang dikuasai kaum konservatif, terlepas SDAP yang progresif menduduki posisi kedua di parlemen (namun sang gubernur jenderal bukan bagian dari partai apapun), apalagi dengan kebijakan pemerintah yang berhaluan politik etis dipandang negatif di negeri tulip itu. Di sisi lain, kaum nasionalis bumiputra di Hindia Belanda juga terus memperjuangkan haknya untuk mengelola diri sendiri.

Namun, kebijakan pertamanya memang memiliki upaya untuk meredakan ketegangan dengan mengurangi tahanan politik yang awalnya berjumlah 1.300 orang menjadi hanya 400 orang serta mengurangi juga peran PID dalam memata-matai kaum pergerakan. Ia juga mengirimkan Petisi Soetardjo kepada Kerajaan Belanda, meskipun petisi itu, yang diajukan pada 1936, ditolak tahun 1938.

Penelitian yang dilakukan oleh Christopher ini merupakan penelitian sejarah dengan komentar-komentar dari penulisnya untuk memberi penjelasan mengenai apa yang sedang terjadi di Hindia Belanda di bawah Tjarda. Namun, tidak bisa diabaikan bahwa karya ini bukanlah biografi biasa, namun biografi politik yang pastinya menekankan kepada kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan pemerintah kolonial semasa sang gubernur jenderal.

Pendekatan interpretatif semacam…

Artikel ini telah dibaca 69 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Metaverse Fenomena Hiperrealitas

24 Januari 2022 - 05:12 WIB

Shuma Gorath di Komik, Gargantos di Film, Kenapa Musuh Doctor Strange Berbeda Nama?

11 Januari 2022 - 10:35 WIB

Terkait Perannya di Spider-Man: No Way Home, Andrew Garfield Berbohong

10 Januari 2022 - 08:23 WIB

Sains di Era Hawking

9 Januari 2022 - 14:59 WIB

Review Film Spider-Man: No Way Home

8 Januari 2022 - 11:34 WIB

Makmum 2: Terlalu Banyak Jumpscare

7 Januari 2022 - 13:05 WIB

Trending di Kempalanart