Senin, 22 Juni 2026, pukul : 05:33 WIB
Surabaya
--°C

Mengenang Tjarda, Mengingat Kejatuhan Hindia Belanda

Pendekatan interpretatif semacam itu memang sering digunakan dalam biografi politik untuk melakukan interpretasi terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan dalam jangka waktu tertentu. Pendekatan semacam itu akan membantu para pembaca untuk lebih memahami konteks/keadaan politik pada masa tersebut.

Berkaitan dengan konteks politik, yang dimaksud dalam buku ini adalah konteks politik internasional dan hubungan Belanda dengan Hindia Belanda. Situasi pasca depresi ekonomi dan menguatnya kedua kelompok fasis, yakni Jerman dan Jepang turut mempengaruhi apa yang terjadi di negara Asia Tenggara itu. Namun, guna melengkapi pemahaman pembaca mengenai dampak semakin kuatnya Jerman dan Jepang terhadap Hindia Belanda, ada dua buku yang tepat, yakni Runtuhnya Hindia Belanda karya Onghokham serta Orang dan Partai Nazi di Indonesia tulisan Wilson.

Apalagi dengan munculnya partai NSB yang mendukung Nazi, membuat Belanda semakin berhati-hati dalam bertindak karena ingin tetap netral seraya membangun perekonomiannya. Kebijakan semacam itu turut diterapkan oleh Gubernur Jenderal asal Groningen itu dengan tetap menjaga tatanan yang ada di Hindia Belanda, terlepas dibarengi dengan upaya membangun pemerintahan mandiri di koloni Belanda tersebut.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Buku ini juga menyuguhkan berbagai kebijakan yang diambil oleh Tjarda selaku gubernur jenderal yang terkesan kesulitan karena begitu banyaknya pihak yang harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Ia juga terdesak dengan semakin agresifnya Jepang dan didudukinya Belanda oleh tentara Jerman di bawah Nazi.

Christopher menuliskan kisah Tjarda dengan bagus melalui pendekatan historis-interpretatif tanpa memberikan pujian berlebih maupun kritik yang tidak proporsional, sehingga memandang sang gubernur jenderal dari lensa yang objektif. Walaupun mungkin pada titik tertentu pembaca akan merasa seperti ada yang sama antara dua halaman yang berbeda.

Akan tetapi, karena penekanan pada interpretasi dari peristiwa sejarah, buku ini kurang menjelaskan secara terperinci apa saja yang terjadi di Hindia Belanda selama tahun 1936-awal 1942. Maka dari itu, buku ini adalah pembuka yang tepat bagi para pembaca yang ingin mendalami bagaimana keruntuhan negeri koloni Belanda yang secara perlahan bertransformasi menjadi Indonesia.

BACA JUGA  Sengit Layaknya PON, Kecamatan Sidoarjo Juara Umum Akuatik PORKAB 2026

Karya Christopher ini adalah sumbangan yang bagus bagi pembukaan terhadap babak baru sejarah Indonesia yang beberapa kali dikaji, namun dengan sudut pandang pihak yang berbeda. Melihat pembentukan Indonesia dari perspektif Belanda mungkin seringkali dilakukan oleh penulis dari negeri jiran itu sendiri, sementara sejarawan Indonesia baru mulai membuka babak baru dari kisah-kisah yang sebelumnya tidak tersentuh. (*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.