Selasa, 28 April 2026, pukul : 10:23 WIB
Surabaya
--°C

Menemukan Sisi Terbaik Manusia, Menemukan Sejarah yang Nyata

Judul buku: Humankind

Penulis: Rutger Bregman

Peresensi: Reza Maulana Hikam

Penerbit: Gramedia

Tebal buku: xxiv+444 Halaman

Tahun terbit: 2019

KEMPALAN: Manusia itu pada dasarnya baik. Ini adalah gagasan yang sangat anti-mainstream dari sejarawan Belanda, Rutger Bregman. Padahal pandangan umum (seringkali di film) melihat bahwa manusia justru menyukai kekerasan, hingga muncul kalimat human are prone to violence (manusia cenderung pada kekerasan), namun tidak demikian menurut penulis buku ini.

Pada bagian awal buku, ia memperlihatkan bagaimana framing media ketika Amerika Serikat dilanda Badai Katrina. Digambarkan bahwa ada pembunuhan dan banyak penjarahan, namun Bregman memperlihatkan dari data yang ia kumpulkan, yang menurutnya tidak terlalu diperhatikan oleh khalayak media, bahwa banyak altruisme (kebaikan) usai badai itu. Bahwa penjarahan yang terjadi ialah semacam “robin hood” untuk masyarakat terdampak bencana agar dapat bertahan hidup. Manusia tidak sepanik dan segegabah yang selama ini kita pikirkan.

Manusia adalah apa yang ia percayai. Kalau ia memercayai sesuatu dengan berlebihan maka sesuatu itu akan terjadi, sebuah ramalan yang menjadikan dirinya sendiri. Sama seperti kepercayaan kita bahwa manusia itu buruk akan menghasilkan keburukan yang nyata. Lalu apa sumber yang menjadikan manusia ini percaya bahwa dirinya tidak baik? Berita. Di masa sekarang, berita adalah sumber informasi, yang sedihnya, dipenuhi oleh informasi yang menggambarkan sisi buruk manusia. Bregman mencontohkan bahwa berita memuat tentang kemiskinan, tapi kenapa tidak ada berita yang memperlihatkan angka kemiskinan yang menurun? Ketika kasus pesawat jatuh menurun, justru berita mengenai hal itu meningkat.

Bregman juga menyentil perkara homo economicus yang digadang-gadang sebagai kodrat manusia oleh para ekonom. Namun ia mengutip penelitian yang dilakukan oleh Joseph Heinrich bersama timnya, yang mana mereka tidak menemukan kecenderungan demikian di manusia, melainkan pada simpanse, sehingga Bregman menyimpulkan bahwa economicus memang ada, tapi bukan untuk manusia, melainkan untuk primata. Hal ini ditunjang dengan penelitian yang dilakukan oleh Robert Frank dimana hasilnya menunjukkan bahwa semakin ia mengajar mahasiswanya untuk mengenal ilmu ekonomi, semakin mereka menjadi egois, maka “kita menjadi apa yang diajarkan kepada kita,” menurut profesor ekonomi itu.

Buku karya William Golding
Buku karya William Golding

Di bagian lain bukunya, sang penulis melakukan kritik terhadap buku Lord of the Flies yang menggambarkan kodrat asli manusia akan kekerasan. Pemaknaan terhadap novel itu membuat manusia semakin pesimis dalam melihat kodratnya sendiri, padahal tidak demikian dalam kenyataannya. Bregman mencari kisah yang sama dengan novel itu dan menemukannya dalam bentuk yang jauh berbeda sehingga menunjang argumentasinya bahwa manusia pada dasarnya memang baik.

Dmitry Belyaev, pakar Biologi Evolusioner dari Rusia bersama rubahnya yang sudah dijinakkan.

Pada lembar selanjutnya, Rutger membawa kita kepada salah satu istilah yang ia kembangkan, Homo Puppy, dimana ia menyatakan bahwa semakin ramah manusia maka semakin berkembang dirinya. Ia membandingkan Homo Sapiens dengan Neanderthal, yang mana tengkorak Sapiens lebih rapi dan berbentuk seperti bayi ketimbang Neanderthal. Ia melihat penelitian yang dilakukan Dmitri Belyaev yang mengubah rubah liar menjadi jinak seperti anak anjing. Hal ini membuat rubah yang jinak jauh lebih pintar dibandingkan rubah yang liar.

Sisi baik manusia ini diperkuat dengan penjelasan dari Samuel Marshall, sejarawan militer dari Amerika Serikat yang terlibat dalam Peperangan Makin. Di sana, Marshall menemukan bahwa banyak tentara yang tidak menarik pelatuk senjata apinya. Hal ini bermuara pada argumentasi Bregman bahwa manusia, pada umumnya, memiliki keengganan untuk menghabisi nyawa manusia lainnya secara sadar.

Menariknya, Bregman disini menggambarkan bagaimana manusia pengembara justru lebih baik daripada manusia yang sudah menetap. Hal ini dikarenakan kepemilikan yang terlalu kuat pada masyarakat yang menetap. Dengan sendirinya keegoisan manusia untuk mempertahankan kepemilikannya semakin besar, sementara para manusia pengelana justru saling berbagi untuk hidupnya.

Ia juga memperlihatkan bagaimana “penelitian” dari para pakar psikologi sosial sebenarnya tidak menunjukkan apapun berkenaan dengan kodrat manusia yang dekat dengan kekerasan, justru dengan seksama Bregman membeberkan di balik tabir penelitian itu, manusia justru mempunyai naluri dan sifat yang baik.

Buku ini menekankan bagaimana manusia sejatinya enggan melakukan kekerasan. Kebanyakan kekerasan bukan terbentuk dengan sendirinya dalam sifat alami manusia, melainkan melalui rancangan tertentu dari segelintir orang saja, yang kerapkali berkuasa. Bregman telah memperlihatkan bagaimana manusia berevolusi dan berkembang menjadi mahluk yang semakin jinak.

Kebiasaan manusia untuk bekerja sama justru menjadi jalan dimana manusia masih bertahan di bumi walaupun masih sangat muda dibandingkan dengan spesies lainnya, terutama jenis manusia purba sebelum homo sapiens atau homo puppy. Keramahan adalah kunci kebertahanan manusia selama ini, dan sejumlah penyelidikan yang dilakukan Bregman telah membuktikan itu, semuanya terangkum dengan baik dalam buku ini, adapun buku ini memang ditujukan untuk khalayak umum karena menggunakan bahasa yang sangat enak dibaca.

Buku menarik ini adalah gabungan antara sejarah yang dituliskan dengan gaya populer namun bersumber dari kajian akademis sehingga buku ini enak dibaca dan dipenuhi data. Karya Bregman ini adalah sejarah populer yang membantu menambah wawasan dan menebarkan pemikiran positif pada pembacanya. Terbitan Gramedia ini dibandrol dengan harga Rp135.000,00.(*)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.