Ia menghapus cuitan itu Rabu (5/1), tapi tangkapan layarnya sudah beredar luas di media sosial dan grup percakapan Whatsapp. Ferdinand pun membuat klarifikasi untuk menjelaskan cuitannya. Dalam video dua menit yang beredar (6/1) Ferdinand menyatakan bahwa tulisan itu tidak bermaksud menyerang suatu kelompok agama.
Ferdinand mengatakan cuitan itu adalah hasil dialog imajiner yang hanya ada di dalam hati dan pikirannya. Dalam dialog imajiner itu Ferdinand mendengar suara ‘’Hai Ferdinand kau akan habis tidak ada yang bisa menjagamu, Allah melemah. Tetapi kemudian hati Ferdinand menyahut , Hey kau tidak, Ya Allah kuat, jadi jangan samakan Allahku dengan Allahmu.
Dari hasil dialog imajiner itulah kemudian Ferdinand menuangkannya dalam cuitan. Ia merasa ada orang-orang yang sengaja memelintir cuitannya. Ia mengecam orang-orang yang kerap memakai terminologi ‘’tabayyun’’, klarifikasi, tetapi justru tidak memraktikkannya.
Cuitan imajiner itu diakui Feredinand muncul karena dia sedang banyak beban pikiran. Ferdinand juga sudah meminta maaf kepada orang-orang yang merasa dirugikan karena cuitan itu. Tetapi reaksi tajam tetap bermunculan dari beberapa kalangan.
Kritik terhadap Ferdinand muncul dari GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia) dan PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), dan dari beberapa kalangan agama termasuk NU (Nahdlatul Ulama).
Kontroversi ‘’Tuhan Tidak Perlu Dibela’’ sudah pernah muncul puluhan tahun yang lalu dipicu oleh artikel Almarhum Gus Dur dengan judul yang sama. Polemik meluas menjadi perdebatan nasional. Gus Dur yang selalu kontroversial mendapat kecaman dari banyak pihak. Tetapi, Gus Dur bergeming dengan pendapatnya.
Gus Dur mengungkapkan pemikirannya tentang pengetahuan, pemikiran, dan gerakan oleh sejumlah komunitas muslim yang pada saat itu dianggapnya menunjukkan sikap sektarianisme yang berwujud dalam bentuk diskriminasi atau kebencian, yang muncul akibat perbedaan denominasi agama atau fraksi politik.
Pandangan-pandangan Gus Dur selalu dianggap nyeleneh dan menentang arus pada zamannya. Kontroversi ‘’Tuhan Tidak Perlu Dibela’’ melibatkan banyak orang yang pro dan kontra. K.H Mustofa Bisri alias Gus Mus, sahabat Gus Dur semasa belajar di Timur Tengah, sampai turun tangan menjadi ‘’jurubicara’’ untuk menjelaskan pemikiran Gus Dur.
Menurut Gus Mus, Tuhan tidak perlu dibela karena Tuhan mempunyai sifat Mahakuat tidak perlu kekuatan manusia untuk membelaNya. Bahkan, kalau seluruh manusia di muka bumi ini menjadi kafir, Tuhan tidak akan kehilangan kebesaranNya.
Cara pandang Gus Dur terhadap gerakan Islam politik di Indonesia sering memicu kontroversi. Gus Dur dianggap berada pada sisi sekuler ketika berbicara mengenai hubungan negara dan agama. Dalam berbagai forum dan dalam tulisan-tulisannya Gus Dur konsisten dengan sikap itu.
Kumpulan pandangan Gus Dur ini dikumpulkan dalam buku ‘’Tuhan Tidak Perlu Dibela’’ (2000), berisi pendapat-pendapat Gus Dur yang ditulis di Majalah Tempo dalam kurun waktu 1970 sampai 1980-an. Artikel itu membahas tema yang luas mulai dari kemanusiaan, kebersamaan, keadilan, dan demokratisasi.
Perbedaan budaya, agama, dan tradisi di Indonesia adalah sebuah anugerah sekaligus tantangan. Konsep beragama pun harus mengedepankan rasa toleransi antar umat beragama dan tidak saling merendahkan satu agama dengan agama lain.
Toleransi antar umat beragama menjadi polemik yang terus berlanjut sampai sekarang. Dalam artikel Gus Dur disebutkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah mengeluarkan fatwa Natal bahwa umat Islam dilarang hadir dalam perayaan agama lain.
Fatwa ini menjadi persoalan yang cukup pelik sampai membuat Buya Hamka melepaskan jabatannya sebagai Ketua Umum MUI. Sampai sekarang, setiap tahun, isu itu masih tetap menjadi perdebatan, dan seolah tidak ada titik temunya.
Melalui artikelnya, Gus Dur menyebutkan bahwa MUI harus bisa menemukan pangkal persoalannya, dengan memiliki pedoman terhadap persoalan-persoalan apa saja yang patut untuk menjadi wilayah bahasannya.
Gus Dur melihat masih banyak persoalan besar yang harus dihadapi umat Islam Indonesia, seperti pemecahan masalah kemiskinan dalam masyarakat menurut pandangan agama, dan pengentasan kebodohan serta pemerataan pendidikan.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi