Menu

Mode Gelap

Kempalanbis · 6 Jan 2022 09:06 WIB ·

Piala Thomas dan Penerimaan Pajak, Prestasi Siapa?


					Momen saat bendera PP PBSI yang dikibarkan dengan iringan Indonesia Raya ketika Indonesia memenangi Piala Thomas di Ceres Arena, Aarhus (17/10). Bukan bendera Merah Putih. (Foto: Jawapos.com) Perbesar

Momen saat bendera PP PBSI yang dikibarkan dengan iringan Indonesia Raya ketika Indonesia memenangi Piala Thomas di Ceres Arena, Aarhus (17/10). Bukan bendera Merah Putih. (Foto: Jawapos.com)

Bambang Budiarto (penulis).

Catatan Ekonomi Bambang Budiarto

KEMPALAN: Setelah menanti hampir tiga bulan sejak partai final di Minggu 17 Oktober 2021, Mas Jojo dan kawan-kawan akhirnya bernafas lega seiring masuknya Tahun Baru 2022. Tapi tunggu dulu. Sebenarnya ini prestasi siapa? Begitulah sepenggal pertanyaan yang muncul ketika akhirnya diketahui bahwa bonus Rp10 miliar atas capaian kembalinya Piala Thomas ke tanah air setelah 19 tahun, ternyata tidak hanya untuk para pahlawan bulu tangkis.

Nilai ini terbagi untuk para atlet pahlawan Piala Thomas 2020 dan Persatuan Bulu Tangkis Indonesia (PBSI) yang peruntukannya guna menjalankan proses rekuitmen atlet, pelatihan, pembinaan, dan pengembangan para pemain. Selanjutnya bisa ditebak, hiruk pikuklah suara netizen dengan berbagai pembenarannya masing-masing.

Masalah cinta tanah air, bela negara, kepahlawanan atlet, dan bonus ini biarlah dipikir pihak-pihak yang memang seharusnya memikirkan. Kita adalah penonton untuk kemeriahan ini sambil menyaksikan capaian yang lain negeri ini setelah 12 tahun.  Bahwa Tahun 2021 adalah tahun yang bersejarah bagi Kementrian Keuangan, di tengah status Pandemi Covid-19 ternyata jumlah netto penerimaan pajak sudah melebihi 100% dari target yang diamanatkan. Rp 1.232,87 triliun adalah angka yang dicatat oleh Direktorat Jenderal Pajak Kemenkeu sebelum habis waktu di akhir Desember 2021.

Fakta ini adalah raihan setelah 12 tahun terakhir yang terengah-engah belum pernah memenuhi target yang ditetapkan. Tembus 100,19% yang berarti melebihi target Rp 1.229,6. Yang luar biasa, hal ini terjadi saat  pandemi belum berakhir. Ibarat sebuah kemenangan dengan beberapa keterbatasan. Bolehlah disebut seperti sebuah tim sepak bola yang meraih kemenangan dengan 10 pemain, karena satu orang terkena kartu merah. Dan tidak jauh beda dengan Piala Thomas 2020 yang raihannya sudah diatas sepuluh tahun.

Ketika publik masih berpikir kembalinya Piala Thomas setelah 19 tahun ini prestasinya siapa, sekarang masyarakat boleh mengira-ira dan  khalayak boleh  meraba-raba. Capaian penerimaan netto pajak yang mempau melebihi target setelah 12 tahun ini prestasinya siapa?

Kementerian Keuangan memang telah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada wajib pajak yang meskipun pandemi tapi para wajib pajak masih melakukan keawajiban perpajakannya dengan baik. Harus diingat peran wajib pungut, ada juga peran sentral dari manajemen perusahaan sebagai pengambil keputusan. Ada juga kepahlawanan para pejuang garis depan  petugas sisir pajak. Yang tak boleh dilupakan tentu saja eksekutif di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak bahkan sampai Mentei Keuangan. Semua sejatinya dengan perannya masing-masing. Dan sampailah pada penerimaan netto pajak melebihi target setelah 12 tahun ini.

Layaknya sebuah prestasi tentu tidak berlebihan jika pada gilirannya diberikan sebuah apresiasi, sebuah bonus, ataupun sebuah penghargaan. Termasuk prestasi atas capaian penerimaan netto pajak melebihi target ini. Cukup banyak yang terlibat cukup banyak yang berperan dalam raihan ini. Memilih dan memilah peran masing-masing, tentu saja wajib pajak adalah yang nomor satu dalam urutan untuk diberikannya “bonus”.

Memahami hal tersebut dan mencermati situasi yang demikian, agar kedepannya capaian penerimaan pajak  selalu melebihi target dan terbang tinggi, maka pertanyaannya adalah dalam bentuk apakah bonus diberikan. Tentu saja supaya tidak terdapat silang pendapat seperti bonus Piala Thomas dan tentu saja cukup banyak kelas wajib pajak yang tentu saja pula pemberiannya harus dalam bentuk yang berbeda-beda. Salam. (Bambang Budiarto – Dosen Ubaya, Pengamat Ekonomi ISEI Surabaya, Redaktur Tamu Kempalan.com)

 

Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Operasi Pasar Minyak Goreng di Gunung Sari, Wakil Walikota Armuji dan Crazy Rich Surabaya Gratiskan Minyak

28 Januari 2022 - 16:52 WIB

Luncurkan Aplikasi Sayang Warga, Pemkot Surabaya Libatkan Kader Identifikasi Masalah Sosial dan Kesehatan

28 Januari 2022 - 06:31 WIB

PT ISS Menangi Lelang Terbuka Perparkiran setelah Penawaran Tertinggi Rp32,09 Miliar

28 Januari 2022 - 06:20 WIB

OPPO eXperience Store Bandung Bawa Konsep Kepuasan Pelanggan

27 Januari 2022 - 22:15 WIB

Wagub Emil Apresiasi Pemkot Probolinggo Cetak Pelaku UMKM Berdaya Saing Global

27 Januari 2022 - 10:10 WIB

LaNyalla: Pemerintah Perlu Pikirkan Skema Distribusi Minyak Goreng

26 Januari 2022 - 12:18 WIB

Trending di Kempalanbis