Trip berikutnya, menuju ke bundaran HI. Mau menumpang MRT lagi, menuju stasiun permberhentian paling akhir MRT. Tapi,
” medannya” , agak berat bagi cucu-cucu. Yaitu, menuruni tangga yang terlalu curam. Maka diputuskan naik Trans Jakarta saja. Tinggal nyebrang jalan. Dari sisi Benhil nyebrang ke sisi Karet. Arus lalu lintas kebetulan tidak terlalu ramai. Ada trafic light yang mengatur penyeberangan cukup aman.
Sebentar.
Saya mau cerita dulu suasana nyaman, yang baru kami rasakan di Ibu Kota : pedestrian yang luas dan tertata rapi dan bersih, sepanjang jalan Jendral Sudirman itu. Wow! Menakjubkan. Saya menjadi “norak” merasakan fasilitas yang relatif baru di Jakarta itu. Dipayungi langit setengah mendung, ditambah hembusan semilir angin, lengkap sudah kami serasa di pedesterian di kawasan Orchad Singapura atau Ginza di Tokyo, kota modern dunia. Hati terasa nyaman. Tidak ada gelandangan seperti yang dulu ditemukan Mensos Risma. Yang tampak, beberapa warga sedang santai di bangku-bangku duduk. Bercengrama dengan keluarga. Norak betul saya siang itu. Padahal, kami sudah lebih setengah abad tinggal di Jakarta.
Stasiun MRT
Perasaan nyaman sudah kami nikmati pada waktu memarkir mobil di areal parkir Lebak Bulus. Lalu menyelusuri koridor menuju stasiun MRT. Saya merasakan seperti waktu pertama kali mencoba naik subway (sabuai, lidah orang Jepang) di Tokyo tahun 1985.
Tahapan demi tahapan kami lalui mengikuti protokol menaiki MRT. Jakarta ternyata bisa “dibuat” seperti di luar negeri. Bayangan yang melekat seperti waktu berebut naik bus kota di lapangan Banteng, puluhan tahun lalu, sirna seketika. Kartu e-toll, yang dipesankan agar dibawa, ternyata betul, terkoneksi, atau bisa digunakan saat masuk stasiun MRT. Tinggal ” tap”. Meski waktu masuk dan keluar saya mengulang tapnya. Portal gate, menolak. Saya curiga, jangan- jangan kartu etoll saya yang kurang saldo.
Karena perjalanan di masa pandemi, maka beberapa tambahan protokol harus dilalui memasuki stasiun. Pertama, tap hp dulu di aplikasi Pedulilindungi. Lalu, cuci tangan dan ukur suhu badan. Beruntung, karena libur hari Minggu, gerbong MRT agak sepi. Menurut petugas di sana, jumlah penumpang memang berkurang sampai 50 % pada hari libur atau minggu, dibandingkan hari kerja.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi