Sabtu, 27 Juni 2026, pukul : 13:33 WIB
Surabaya
--°C

Konflik Jawa Pos, Pasca Pecah Kongsi Dahlan versus GM

MANAJEMEN SABOTASE PENDIRIAN SP JP KORAN

Proses pendirian SP JP Koran juga tidak mulus. Itu karena manajemen berupaya keras menggagalkan,  menyabotase pembentukan SP JP Koran. Mereka menugasi redaktur yang pro manajemen sampai Pimred IY untuk mencegat, menggagalkan peredaran form pendirian yang diedarkan ke Malang dan Gresik untuk ditandatangani para redaktur. Itu karena para redaktur kerja di rumah karena pandemi covid.

Tapi, upaya sabotase manajemen gagal total karena mereka kalah cerdik dengan pengurus SP JP Koran. (Baca; Disabotase, Tandatangan Formulir SP Memutar di Buku 1).

Padahal lanjut Tomy C Gutomo, setelah resmi didaftarkan di Disnaker, pengurus SP JP Koran hendak menyerahkan pendirian SP JP ke sekretaris redaksi.

Ndilalah ketemu Leak di ruang redaksi. Tomy dkk pun langsung  menyerahkan surat pemberitahuan berdirinya SP JP Koran Leak Leak.

Apa reaksi Leak?

“Ini masalah kecil (SP JP Koran). Bikin saja SP tidak masalah. Saya ini aktivis kok. Ini (SP) hanya sosialitanya buruh kok, ” kata Leak sesumbar.

Apa yang diomongkan Leak berbeda 180 derajat dengan fakta di lapangan. Itu karena manajemen mengerahkan orang orangnya untuk menggagalkan pembentukan SP JP Koran.

Apa maksudnya sosialitanya buruh seperti klaim Leak?

“Ya… hura huranya kaum buruh lah. Dia (Leak) tidak merespon, tidak menganggap penting SP. Kesannya meremehkan. Sebaliknya, Leak justru ngomong akan ada rencana penawaran pensiun dini (pendi) bagi karyawan. Ini sebagai awal serangan balik manajemen ke SP JP Koran, ” kata Tomy (baca Wawancara Tomy)

Gagal  menyabotase pembentukan SP JP Koran, direksi memanfaatkan momentum covid 19 menggembosi  SP JP. Caranya, memaksakan pensiun dini (pendi) bagi karyawan usia 40 ke atas! Wabilkhusus para redaktur yang umumnya jadi pengurus SP JP.

Ini menggembosi SP JP.

SP JP  sepakat bulat menolak program pendi.

Tapi, direksi tak tinggal diam. Berbagai jurus dilakukan menggolkan program pendi. Mulai pajak pesangon 5 persen harus ditanggung karyawan jika tak ambil pendi sesuai batas waktu ditentukan manajemen.

Redaktur masih kompak. Pengurus SP JP tetap menolak pendi.

Dirut Leak lalu menarik Wapimred Spr dari Jakarta untuk memprovokasi, mendekati, merayu pengurus presedium yang didominasi redaktur Metropolis agar mau mengambil pendi.

Kebetulan Spr sebelum jadi Wapimred di Jakarta, lama bertugas di Metropolis.

Sejak itu isu liar untuk mengadu domba, meresahkan karyawan bermunculan silih berganti. Salah satunya infomasi yang disebar bahwa keuangan JP menipis.

BACA JUGA  Dialog Imajinatif Presiden dengan Kapolri

Maka selagi ada dana pensiun sebaiknya ambil pendi. Bulan depan, tahun depan belum tentu JP  ada uang.

Sebagaian pengurus presedium termakan isu liar yang sengaja dihembuskan manajemen.

Dua pengurus presedium SP JP Koran yakni, Ftn dan Akr atau Ayk diam diam mengambil pendi dengan beragam alasan dua hari menjelang deadline pendi. (Baca: Hantu Blau Pendi dan Sikap Tak Patut Presedium). Ftn yang dulu salah satu kepala kompartemen di JP Koran. Kini  turun kelas jadi Pimred salah satu Koran Radar di kota dingin Jatim.

Pengurus SP JP geger. Dalam rapat internal di rumah seorang pengurus SP di Sidoarjo, suasana berlangsung panas. Pengurus SP JP Koran menyalahkan dua presedium tadi yang mengambil pendi diam diam.

Padahal,  mereka sebelumnya sudah sepakat menolak program pendi. Begitu  emosionalnya Janesti Prihandini sampai sesengukan menyesalkan sikap taki patut dua rekan presedium yang ambil pendi tanpa memberitahu ke pengurus SP.

Apalagi mengajak diskusi pengurus presedium lainnya.

Pertahanan redaktur akhirnya jebol. Dengan perasaan marah., dongkol campur  aduk  dikhianati teman sendiri akhirnya semua redaktur 40 tahun ke atas ambil pendi meski dengan sangat  terpaksa.

Kecuali Raka Denny. Koordinator fotografer JP Biro Jakarta itu menolak keras pendi. Terus melawan. Tiga bulan statusnya digantung. Tidak dapat gaji. Rekan Jakarta menyisihkan gaji mereka untuk patungan membantu Raka (Baca:  Raka Simbol Perlawanan Jakarta).

“Banyak teman down melihat senior, presedium SP JP ramai ramai mengambil  pendi tanpa memberi tahu yuniornya, ”  ujar Presedium SP JP Candra Kurnia Harinanto atau Cak.

“Terus terang  kami para yunior sakit hati. Kecewa. Dulu kami para yunior ini hanya ikut ikutan (SP JP) . Kok.. Sekarang ditinggal begitu saja. ” (Baca: Wawancara Candra Kurnia Harinanto di buku 1).

Merasa di atas angin, direksi  menyasar pendi redaktur 40 ke bawah. Yang disasar pengurus SP JP yang kritis. Janesti Prihandini dan Nana yang menolak di pendi akhirnya di PHK.

Tapi, SP JP terus melawan., Nembuat jejaringan.

Selain rajin konsultasi, Disnaker, sowan ke Menaker di Jakarta.

Juga menggandeng pengacara dan  LSM termasuk AJI.

SP JP juga melayangkan somasi ke direksi sampai dua kali agar menghentikan kebijakan yang membuat karyawan resah. Tapi, tidak dijawab.

OPSI POLISIKAN DIREKSI, SP PECAH TIGA KELOMPOK

SP JP akan melangkah lebih jauh setelah dua somasi tak dijawab, melaporkan direksi ke polisi.

BACA JUGA  Krisis Energi, Paradoks Negeri Kaya, dan Mencari Tata Kelola yang Berkeadilan

Ini justru membuat pengurus SP JP pecah menjadi tiga. Pertama, mendukung lapor polisi. Kedua, yang menentang lapor polisi. Ketiga, kalau melaporkan polisi harus semua pengurus SP JP ikut tanda tangan. Akhirnya, opsi lapor polisi diambangkan.

SP JP terus direcoki. Sebagaian pengurus mundur. Bahkan pengurus SP JP diadu dengan rekan rekan mereka di Metropolis. Kian berat perjuangkan SP JP.

Program pendi baru sedikit mereda setelah pertemuan tripartid. Bahwa pendi itu sifatnya tawaran. Bukan pemaksaan.

Tapi, serangan terhadap pengurus, presedium dan pelemahan SP JP Koran yang militan, teguh pendirian terus  terjadi

Candra Kurnia Harinanto alias Cak dan Indria Pramuhapsari atau Hep, dua pengurus presedium SP JP Koran yang konsisten berjuang untuk membela  hak hak karyawan terus direcoki.

SEBUT SP JP PABRIK PANCI, LEAK JADI BULAN BULANAN

Dialog ratusan karyawan dengan dengan direksi dan jajaran komisaris pada 7Juli 2020 di lantai 4 Graha Pena berlangsung panas.

Pemicunya, Dirut JP Koran Leak Kustiya pernah menyebut karyawan yang tergabung SP JP Koran tak ubahnya buruh pabrik panci.

“Kami tidak terima dan protes keras soal sebutan itu (disamakan buruh pabrik panci). Sakit hati kami. Kami ini para intelektual,” protes Fathur Roziq, salah satu redaktur senior JP.

“Saya merasa tidak sepertinya itu, ” kelit Leak.

“Itu gaya Pak Leak. Kalau terpojok. Setiap omongannya diprotes selalu berkelit ‘omongan saya jangan dipotong’. Itu lagu lama. Jangan dipercaya, ” bisik seorang redaktur ke penulis.

Rozy sapaan Fathur Roziq kuekeh. “Pak Leak memang pernah ngomong begitu kok. Menyamakan SP JP dengan buruh pabrik panci. Semua teman redaktur mendengar itu, ” sahut Rozy tak mau kalah.

Leak terus berkelit. “Saya kira, saya tidak seperti itu. Saya masih punya sopan santun, ” jawab Leak.

Rozy yang terlanjur kesal dengan sikap Leak yang cenderung tidak jentelmen langsung menukas. ” Apa yang disampaikan Dirut Leak selama pertemuan dengan redaktur, karyawan hanya lip service belaka. Tidak ada yang konkret. Hanya untuk menyenangkan komisaris, ” ujar Rozy berapi api.

“Benar.. benar, ” sahut puluhan karyawan secara koor mengamini tudingan Rozy. Rapat gaduh.

Kata redaktur yang ikut rapat, Leak hanya menunduk. Tidak berani membantah lagi.

Kardono Setyorahmadi salah satu penggerak karyawan meminta rekannya tenang. “Tenang.. Tenang. Ini gerakan intelektual. Kalau gerakan  buruh sudah bacok bacokan, ” ujar Ano  menyindir ucapan Leak.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.