JP KEHILANGAN RUH
Perseteruan Dis dkk dan GM dkk plus JP Group berdampak luas dan berpengaruh besar terhadap kelangsungan hidup semua perusahaan yang bernaung di JP Group.
Termasuk JP Koran, bisnis inti JP Group. Di mana oplah koran, omzet iklan dan lainnya terus merosot. Selain tergerus media sosial, dampak pandemi virus corona.
Paling signifikan JP Koran kehilangan ruhnya Dahlan Iskan yang selama ini identik JP.
Dahlan adalah JP. Sebaliknya JP adalah Dahlan. Image itu tak terpisahkan.

Itu karena yang membesarkan JP dari koran sekarat, beroplah 8600 menjadi imperium, beranak pinak menjadi ratusan media massa adalah Dis dkk.
Dis selain sangat dekat kalangan pengusaha China. Juga fasih cas sis cus Mandarin. Itu yang membuat Dis mudah diterima di lingkungan pengusaha keturunan China.
Jangan lupa di belakang Dis ada JP, ratusan media massa dan puluhan tv lokal yang tentunya jadi penarik pengusaha untuk berbaik baik sama Dis. Ya.. semacam mencari “perlindungan”. Sudah jadi rahasia umum di redaksi, kalau ada nara sumber temannya Dis, Nany maupun Azrul, redaksi sangat hati hati menulisnya.
Apalagi kalau kaitan dengan kasus. Kalau pun ditulis ekstra hati-hati dan harus imbang. Salah eja menulis nama, jabatan teman Dis, Nany maupun Azrul saja jadi masalah besar bagi wartawan dan redaktur yang mengedit.
Khusus Dis jarang mencampuri urusan beginian. Sebab, banyak di luar sana mengaku teman dekat Dis.
Kalau pun ada teman Dis yang curhat, soal tulisan di koran biasanya cukup sampai Dis saja. Dis jarang meneruskan ke redaksi. Kecuali ada pelanggaran etik, tidak imbang, atau berat sebelah baru Dis meneruskan ke redaksi.
Dis juga sangat Tiongkok sentris.
Tulisannya soal negeri leluhur Tiongkok hampir tidak ada yang kritis, apalagi negatif. Pokoknya, soal Tiongkok serba baik lah.
Dis sebagai wartawan senior dinilai tidak independen kalau menulis soal China.
Isu-isu sensitif seperti dugaan pelanggaran HAM oleh pemerintah Tiongkok terhadap warga muslim suku Uighur di Propinsi Xinjiang dan sengketa Laut China Selatan akibat klaim sepihak China atas beberapa pulau di kepulauan Spartlay jarang atau hampir tak pernah ditulis Dis secara kritis. Padahal, Dis beberapa kali ke Urumqi ibukota Xinjiang dan Kasghar, kota besar lainnya di Xinjiang yang bermukim suku muslim Uighur dan suku Muslim lainnya keturunan Turki, Tajikistan, Kazhakstan dan negara berakhiran Tan lainnya.
Tapi, yang ditulis Dis hanya seputar kuliner khas pasar Khasgar dan para perempuan dengan cantiknyi. Jumlah I lima saking cantiknyi (baca: cantiknya)
Apa lagi negara barat Amerika dan sekutunya sangat menyoroti pelanggaran Ham terhadap suku muslim oleh Tiongkok.
Belum JP lagi terdesaknya suku-suku asli oleh pendatang dari suku Han, suku mayoritas di Tiongkok yang mencapai 90 persen penduduk China.
Nama Han merujuk pada Dinasti Han kekaisaran yang memerintah China sejak 2000 tahun silam.
Salah satu suku yang terdesak oleh pendatang Han adalah suku Tibet di kampung halamannya Lhaza.
Bahkan di kota Sikatse hingga kota kecil Tingri dekat perbatasan Nepal, deretan toko, restoran di kota yang panjangnya tak lebih satu kilometer pemiliknya didominasi suku Han pendatang dari kota Chengdu, Propinsi Sinchuan yang jaraknya ribuan kilometer dari Tingri.
Itu disaksikan penulis saat melakukan perjalanan haji darat 2011 lalu yang melewati daratan China hingga Tibet melewati jalan pegunungan Himalaya yang mistis menembus perbatasan negara Nepal.
Positifnya untuk JP, banyak pengusaha keturunan pasang iklan di JP. Pengusaha-pengusaha besar di Surabaya umumnya cincai, teman baik Dis. Makanya, mereka kerap pasang iklan di JP.
Setelah mereka tahu Dis ditendang dari JP, iklan produk pengusaha besar Surabaya jarang nongol di JP. Ini jelas kerugian bagi JP.
Makanya, banyak senior JP memprediksi dengan tercerabutnya Dis, ruh-NYA, JP diprediksi cepat atau lambat JP akan menemui ajalnya. Minimal kembali era JP Kembang Jepun. Hidup enggan, mati pun segan. (Baca: Kehilangan Ikon, Minim Inovasi JP Terancam Ambruk di buku 2).
DIREKSI ANTI KRITIK, LEAK DILEBELI OTORITER, BAPER SAMPAI PENDENDAM
Selain itu, sejak direksi JP Koran di bawah Leak Kustiya-Eddy Nugroho watak manajemen sangat anti kritik.
Karyawan kritis atas kebijakan direksi diberangus habis. Disingkirkan. Karirnya dimatikan.
Sederet korbannya di antaranya, pimred JP Koran Kim inisial Abdul Rokhim, Sofyan Hendra, Miftakhul, Kardono, Doan Widoandono, Mohamad Tan Reha, Agus Wahyudi dan lainnya.
Bahkan emak-emak militan pendukung berdirinya SP JP Koran yang sangat kritis disikat habis. Kalau menolak pensiun dini (pendi) langsung di PHK. Padahal, usia mereka di bawah 40 tahun.
Korbannya Janesti Prihandini dan Retnachrista atau Nana yang kini bergabung Harian Disway.
Kim dicopot dari Pimred karena dianggap ancaman, pesaing bagi Leak.
Kim alumni statistik ITS dikenal cerdas, orangnya pendiam tapi kinerjanya saat jadi pimred cukup jempolan. Makanya, orang-orang redaksi sangat enjoy.
Kim bisa merangsang anak buah terus berkreasi menggali berita. Orang redaksi enjoy dinahkodai Kim. Hanya Leak yang kebat-kebet.
Makanya, Kim buru buru disingkirkan karena dianggap pesaing Leak.
Sehari sebelum dipecat dari Pimred, saat rapat lengkap wartawan, redaktur, pimred dan Leak, terjadi debat sengit Kim dengan Leak. Soal readership koran.
Eh… besoknya Leak menemui Kim di ruang redaksi. “Aku wis kroso mungkin onok hubungan ambek wingi (saya sudah merasa pasti ada hubungannya dengan kemarin (rapat). Eh… Nggak tahunya benar, ” ujar Kim.
Dalam pertemuan empat mata itu Leak berucap. “Mas Kim, mulai besok Mas Kim bukan Pimred lagi, ” tukas Leak tanpa memberi alasan mengapa Kim dicopot dari Pimred.
Padahal, jabatan Pimred Kim baru 1,3 tahun. Mestinya Kim jadi Pimred dua tahun.
Lain lagi Dos inisial Doan Widoandono. Saat itu sekitar 2010 ada pagelaran pilwali Surabaya yang mempertemukan cawali Tri Risma Harini melawan Arif Afandi.
Dos jadi Kepala Kompartemen Metropolis.
Azrul saat itu secara terbuka mendukung Risma. Kebijakan redaksi mem-back up Risma.
Sedangkan Nany Wijaya yang saat itu bersaing keras dengan Azrul berebut posisi JP 1, pengganti Dahlan bandulnya ke Arif.
Kata Tomy C Gutomo, Leak yang saat itu menjabat Pimred bermain dua kaki. Leak kalau di depan Azrul mendukung Risma. Tapi, kalau di belakang Azrul mendukung Arif.
Bahkan kalau di redaksi tidak ada Azrul, Leak menegur bahkan menyalah nyalahkan Metropolis terkait pemberitaan Pilwali. Liciknya, jika ada Azrul, Leak menyatakan mendukung Risma. Itu berulang kali terjadi.
Leak hanya mencari aman di mata Azrul dan Nany dengan bermain dua kaki.
Tapi, itu membuat anak-anak Metropolis geram. Jengkel. Tak tahan kelakuan Leak yang tidak profesional, hanya mementingkan diri pribadi dan cari selamat.
Dalam rapat dihadiri wartawan, redaktur juga Pimred Leak, Dos yang geregetan tak tahan ulah Leak menukas. “Ada pimpinan JP orangnya culas (baca Leak), ” kata Dos seperti ditirukan Tomy. Leak tersinggung berat.
Setelah itu karir Dos dimatikan Leak. Dos dilorot jadi Kepala Kompartemen Metropolis. Dikotak. Hanya berkutat di halaman internasional.
Makanya, begitu Harian Disway lahir Dos pun langsung bergabung (Baca Wawancara Tomy C Gutomo di buku 1).
Pilwali Surabaya 2010 silam juga membuat petinggi JP terbelah. Azrul begitu jagonya Tri Risma Harini menang dilanda euforia. Anak lanang Dis itu bagi-bagi HP BlackBerry (BB) HP tercanggih, mahal saat itu kepada wartawan dan redaktur Metropolis. Jumlahnya 15. Semua dibeli dari dhuwit Azrul.
Bagi bagi BB bocor keluar. Ada spanduk bertebaran di jalan strategis. Isinya dipelesetkan Risma bagi BB ke wartawan redaktur Metropolis.
Lalu muncul laporan utama soal Risma bagi-bagi HP ke wartawan-redaktur Metropolis oleh tabloid yang suka membelejeti pimpinan JP
Peluang itu dipakai Nany “menjatuhkan” Azrul. Caranya, mengadili wartawan-redaktur Metropolis penerima BB.
Nany mengancam akan memecat mereka jika tidak mengembalikan BB ke kantor.
Leak Kustiya dan Baihaqi ikut mengadili bersama Nany Wijaya. Tidak tanggung-tanggung selama empat jam. Mulai pukul 22.00 selepas deadline Metropolis hingga dini hari pukul 02.00 dini hari. “Sampai nggak kolu mangan (doyan makan) meski dibelikan makanan. Karena sudah kenyang omelan Nany,” aku Miftakhul yang ikut disidang.
Sore harinya, sebelum penyerahan BB digelar rapat wartawan-redaktur penerima BB. Ikut hadir Nany Wijaya, Leak Kustiya dan Baihaqi. Suasana tegang karena Fuad Ariyanto atau Cak Fu, redaktur Metropolis senior mencium ada ketidakberesan dalam rapat. BB dibeli dari dhuwit Azrul kok dipelintir pemberian dari Risma.
Jadi, tidak ada yang dilanggar. Ini yang tidak bisa di terima Cak Fu.
Makanya, Cak Fu berontak. Melawan. Cak Fu kian emosi mendengar ucapan Nany sebelumnya. “Pecat kabeh sing nrimo BB (pecat semua yang terima BB),” sesumbar Nany.
“Opo-opoan iki. Sing salah opone (apa apan ini. Yang salah apanya), ” ujar Cak Fu dengan suara meninggi. Bruak… tangan Cak Fu tiba tiba menggebrak meja keras. Cak Fu lalu ngeloyor pergi meninggalkan rapat.
Nany, Leak dan Baihaqi hanya bisa melongo. Keder. Membisu. Mereka kaget dan tidak bisa berbuat apa apa. (Baca: Ikut Adili Metropolis, Leak Baihaqi Naik Jabatan).
Yang mengherankan kata Miftah, Leak dan Baihaqi yang ikut menyidang anak Metropolis dan jelas berada di belakang kubu Nany justru dipromosikan. Naik jabatan saat Azrul jadi Dirut JP Koran. “Ujug-ujug Leak jadi Direktur. Yok opo kasus sing biyen (bagaimana kasus yang dulu). Koyok wis dilalekno (sepertinya dilupakan). Kita (anak Metropolis) justru yang jadi korban. Baihaqi belakangan malah jadi Direktur Kudus merangkap Direktur Radar Semarang. Merangkap Wakil Direktur JP Radar. Heran saya,” aku Miftah.
Lain halnya Mohamad Tan Reha. Nasibnya sungguh tragis. Sudah status karyawannya hanya kontrak selama 24 tahun.
Giliran, pensiun uang pesangon dikorting Rp80 juta lebih. Tepatnya, kurang Rp 80,6 juta.
“Saya sangat kecewa. Saya telah dibohongi Leak. Saya sakit hati. Masak teman sama-sama dari kere (mlarat), sama sama menderita kok tega membohongi,” sesal Tanre. (Baca: Wawacara Mohamad Tan Reha di buku 1).
Karena berteman mulai mlarat sejak 1995, Tanre mengaku tahu banyak kelakuan, kartunya Leak. Tidak etis ditulis di sini.
“Saya terus perjuangkan hak saya. Kalau tidak cair di dunia akan saya tagih di akherat kelak, ” ujar pria asli Makassar itu berapi api.
Lain halnya Mifthakul, gegara meluruskan, mengkritisi pidato Leak saat rapat akbar karyawan yang isinya dinilai kontra produktif. Bukannya menumbuhkan optimisme karyawan terkait masa depan JP Koran di masa pandemi corona.
Tapi, isi pidato Leak justru dipenuhi aura pesimistis. Itu membuat karyawan down. Patah semangat. Leak memang tidak punya kemampuan bernarasi positif di depan karyawan. Itu yang coba dikoreksi Miftah.
Tak lama jabatan Miftah sebagai asisten redaktur dicopot.
Miftah dikembalikan jadi reporter. Tapi, tetap diminta garap halaman Senggang.
Bahkan Leak membujuk Miftah agar mau bergabung JP[.com] di Jakarta. Bahkan Miftah diiming imingi Leak akan dapat gaji 18 kali setahun jika mau ke Jakarta bergabung JP. Com. Tapi. Miftah menolak karena itu cara halus Leak menyingkirkan Miftah dari JP Koran.
Leak merasa kelabakan menghadapi Miftah yang dikenal kritis atas kebijakan direksi.
“Saya bukan mata duitan Pak Leak. Saya protes bonus karena itu aspirasi dan hak-hak kayawan, ” kata Miftah.
Status Miftah kemudian digantung sebelas bulan oleh Leak. Saat menanyakan statusnya pada pimred dan jajarannya jawaban redaksi mbulet. Miftah digiring manajemen, terjebak akhirnya memutuskan pensiun dini. “Sudah tidak ada kegembiraan lagi kerja di JP, ” aku Miftah. (Baca Wawancara Miftah di buku 1) .
Lain lagi cerita AW inisial Agus Wahyudi, koordinator fotografer JP Biro Jakarta.
Saat itu Leak memerintahkan AW memecat fotografer anak buahnya almarhum Mustafa Ramli. Alasannya, sumir kinerja menurun, suka membantah dan isu miring lainnya.
Tapi, AW menolak, mengabaikan perintah Leak.
Sejak itu, AW dimusuhi Leak. Karirnya dimatikan.
Jabatannya sebagai koordinator fotografer dicopot, liputan hanya jadi fotografer iklan.
Padahal AW mengantongi kartu pas atau ijin meliput di istana presiden.
“Kerja memfoto kalau ada order dari iklan. Tidak bisa kreatif. Itu sangat menyiksa sebagai fotografer. Itu berlangsung bertahun tahun, ” kata AW.
Imbasnya, tunjangan prestasi (TP), bonus tak pernah maksimal. Paling dapat sepertiga gaji. Kenaikan gaji tahunan melorot hanya naik rp 100 ribuan.
Itu berlangsung sampai AW pensiun normal umur 50 tahun pada Agustus 2020 lalu.
“Saya ikhlas jabatan dicopot daripada memecat kawan sendiri. Itu akan jadi beban seumur hidup, ” tambah AW (baca Wawancara AW di buku 1)
Ano atau Kardono Setyorahkmadi lain lagi ceritanya. Karena protes, mempertanyakan keputusan Dis mengangkat Leak Kustiya jadi Pimred JP yang jauh dari kata layak. Padahal, saat itu banyak kader redaksi JP yang lebih layak jadi Pimred.
Itu dilontarkan Ano saat 25 redaktur bertemu Dis di rumahnya.
Ano juga paling getol memelopori “demo” karyawan untuk menggugat, mempertanyakan kepemimpinan duo direksi Leak Kustiya-Eddy Nugroho yang tidak melakukan gebrakan, inovasi agar JP tetap eksis di masa pandemi corona.
Leak-Eddy juga dituding mengabaikan masukan, gagasan dan program dari para karyawan.
Makanya, setelah pendi Ano hanya dikontrak tiga bulan. Rekan, redaktur lain umumnya dikontrak sebelas bulan. Lalu diperpanjang lagi.
Watak direksi JP Koran dibawah Leak-Eddy Nugroho yang anti kritik membuat
teman teman JP koran melebeli Leak anti kritik, otoriter, baper sampai pendendam.
Apa komentar Leak atas cap tadi?
“Saya tidak menolak cap di atas (otoriter, anti kritik, baper sampai pendendam). Dalam arti mosok saya membagus baguskan diri sendiri. Terserah saja orang menilai. Monggo saja, ” jelas Leak. (Baca:Leak Kustiya di buku 1. Wawancara cukup panjang. Sekitar 64 halaman)
Ditambahkan senior JP, Leak kalau tidak suka seseorang di depan orang tadi berusaha menutupi. Sikapnya masih sopan, manis, apik. Padahal, aslinya pendendam. Buktinya, korbannya berderet. Mulai Kim, Miftah, Doan, AW dan lainnya.
“Leak tahu kapan saatnya bertindak. Kapan saatnya melirik bawahan, kapan saatnya memendam, menyimpan. Baru saat timing-nya pas baru meng eksekusinya, ” kata Tomy C Gutomo.
Meski di mata karyawan Leak dinilai tidak performance memimpin JP. Mengapa pemegang saham begitu percaya. Sampai sampai tiga jabatan Dirut dipercayakan Leak. Dirut JP Koran., Dirut JP. Com dan Dirut JP Radar. Apa hebatnya Leak?
Kata Tomy, Leak itu politikus ulung. Pintar cari posisi yang dibutuhkan dirinya. Juga pintar mengkondisikan pemegang saham tergantung dirinya. “Kasarnya kalau bukan dia (Leak Dirut nya) siapa lagi. Tidak ada. Kondisi Itu yang dibangun Leak untuk mempertahankan jabatannya sekarang, ” jelas Tomy (Baca Wawancara Tomy C Gutomo di Buku 1).
LOYALIS DIS BAJAK GERAKAN REDAKTUR
Berkaca dari pemecatan Kim dan lainnya, awak redaksi resah. “Giliran sopo maneh iki (siapa lagi ini) yang dipecat? Kim saja kena. Dari situ muncul bibit berserikat (mendirikan SP JP Koran), ” kata senior JP Koran.
Ditambah tidak ada gebrakan direksi (Leak-Eddy Nugroho) melakukan inovasi agar JP Koran tetap eksis di masa pandemi. Yang ada hanya penghematan…dan penghematan.
Ini meresahkan karyawan.
Sayang gerakan karyawan yang dimotori para redaktur “dibajak” loyalis Dis.
Mereka diarahkan menemui Dis di rumahnya Sakura Regency Ketintang. Selain curhat ke Dis tentang kondisi JP Koran terkini yang memprihatinkan. Pertemuan redaktur dan Dis juga dimanfaatkan para loyalis keluarga Sakura untuk mengembalikan Dis ke Graha Pena.
Sebagaian redaktur yang mencium gerakan mereka ditumpangi loyalis Dis agar bisa balik ke Graha Pena memilih absen.
Salah satunya Cak inisial Candra Kurnia Harinanto yang kini presedium SP JP Koran. “Aku tidak sreg arek arek (para redaktur) bertemu Pak Dahlan, ” aku Cak.
Langkah 25 redaktur ketemu Dis jelas keliru besar. Sebab, Dis sudah tidak punya kuasa apa pun di JP Group. Hanya sebatas pemegang saham 10,20 persen tanpa kuasa apa pun.
Apalagi jargon yang diusung karyawan tidak ada inovasi, tidak ada gebrakan dari direksi sebenarnya hanya bungkus.
Sasaran sebenarnya gerakan redaktur ingin mendepak Leak Kustiya dan Eddy Nugroho dari JP Koran karena kinerjanya jeblok. Hanya bahasanya petitah petitih. Berputar putar.
“Langkah 25 redaktur menemui Pak Dahlan blunder dan tidak taktis, ” kata Suhu.
Mengapa? Kata Suhu, betul Pak Dahlan yang membesarkan JP Group. Tapi, kini Dis tak berkuasa lagi di JP. “Riil yang berkuasa hari di JP ya Mas GM dkk. Harusnya para redaktur menemui Mas GM, perwakilan Graffiti Pers, Bu Eric Samola dan pemegang saham lainnya. Para redaktur bisa curhat bahkan mengusulkan duo direksi, Leak-Eddy Nugroho dicopot, ” jelas Suhu (baca wawancara Suhu di buku 2)
“Pak Dahlan itu ibarat mantan kades (JP Group). Jadi, sudah tidak punya wewenang apa apa. Harusnya para redaktur menemui GM dkk yang kini berkuasa atas JP Group, ” tambah senior JP geregetan.
Pertemuan para redaktur dengan Dis di rumahnya Sakura Regency oleh loyalis Dis dijadikan sebagai hari kelahiran SP JP Koran.
Salah satu orang penggagas SP JP Koran adalah Tomy C Gutomo yang dikenal dekat Dis.
Peran Tom inisial Tomy C Gutomo cukup unik. Tom lah yang aktif mengurusi tetek bengek admistrasi SP JP Koran ke Disnaker Surabaya, Tom jua lah dengan seorang direktur Radar dikenal pentholan “Gang Metropolis” melobi Dis agar mau menerima para redaktur JP Koran. Tapi, direktur tadi tidak mau disebut, dikutip namanya. “Saya di belakang anak-anak Metropolis Pak. Mereka keluarga saya. Tapi, tolong jangan sebut nama saya, ” pintanya kepada penulis.
Tapi setelah SP JP Koran terbentuk dan Tom jadi ketuanya tak lama Tom mengajukan pensiun dini (pendi) dari JP menjelang beberapa hari kelahiran Harian Disway. Tom rupanya bergabung Disway.
Pengurus, anggota SP JP Koran menuding Tom “pengkhianat “.
Apa reaksi Tom?
” Ya wajar, selama ini saya jadi bamper teman teman kalau berhadapan dengan Leak, ” aku Tom. (Baca Wawancara Tomy C Gutomo di buku 1).
Anda juga dituduh salah satu loyalis Dis membajak gerakan redaktur untuk mengembalikan Dis ke Graha Pena?
“Karena sering liputan politik dikira juga mempolitisir gerakan SP ha.. ha. Repot kalau begitu. Masak saya mampu membajak anak anak JP. ”
Meski sudah di luar JP, Tom yang dekat dan lobinya bagus terhadap orang PKB tetap diminta ikut membantu SP JP melobi Menaker Ida Fauziyah agar mau menerima pengurus SP JP Koran.
Dan, gol. Lima pengurus SP JP akhirnya diterima Menaker Ida Fauziyah di kantornya Jakarta.


Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi