Sabtu, 27 Juni 2026, pukul : 13:32 WIB
Surabaya
--°C

Konflik Jawa Pos, Pasca Pecah Kongsi Dahlan versus GM

DIKHIANATI PARA BRUTHUS

Dis juga mengorbitkan orang-orang dekatnya untuk menempati jabatan strategis  di JP Group. Di antaranya,  Nany Wijaya, Zainal Muttaqien,  Ratna Dewi Wonoatmodjo atau Cik Wenny sampai yang tidak masuk akal. Yakni, Leak Kustiya seorang grafis diorbitkan Dis jadi Pimred  JP.

Mungkin ini satu satunya koran di dunia orang yang bukan berlatar belakang wartawan jadi pimred koran sebesar JP.

Dis beranggapan sistem JP sudah jalan. “Jadi siapa pun pimrednya tidak masalah. Zainal Abidin Sego (penarik dan pengirim berita JP  ke anak perusahaan) jadi Pimred pun tidak masalah,” kata Dis suatu ketika seperti didengar Didiek Pudji Yuwono.

Terbukti di kemudian hari hipotensi Dis itu keliru besar.

Pengangkatan Leak jadi Pimred JP di kemudian hari diprotes secara terbuka saat 25 redaktur JP menemui Dis di rumahnya Sakura Regency.

Tapi, Dis berkelit, “Itu bukan saya yang pilih tapi Azrul,” kilah Dis.

Tapi, banyak Redaktur tidak percaya klaim Dis. Kalau benar klaim Dis, tidak mungkin Azrul berani memilih Leak tanpa restu, persetujuan Abahnya.

Dis terkesan cuci tangan atas Leak yang dalam memimpin JP Koran saat ini kinerjanya banyak disorot, dikeluhkan karyawan (Baca Curhat 25 Redaktur dan Obsesi  Dahlan Iskan Disemayamkan di Graha Pena di buku 1)

Juga banyak kader lainnya yang diorbitkan Dis tapi sebagian justru jadi pengkhianat, membokongi Dis saat kekuasaannya dipereteli dari JP.

Hanya Margiono yang lepas dari bayang-bayang Dis.  Mg inisial Margiono mempertaruhkan reputasinya saat mengelola Harian Merdeka Jakarta yang berubah Rakyat Merdeka.

Mg berhasil menyulap Rakyat Merdeka sebagai koran paling wani di ibu Kota. Akhirnya, Mg berhasil mengerek namanya di Jakarta. Lepas dari bayang-bayang Dis.

Moncernya Rakyat Merdeka di Jakarta ikut mengibarkan  nama  JP yang sebelumnya kurang dikenal di Jakarta.

Kembali Dis mengelola JP Group seperti perusahaan sendiri. Padahal, Dis hanya punya saham 10,20 persen. Itu pun separuhnya hasil bancaan saham karyawan 20 persen.

GM dkk juga ikut kecipratan saham karyawan.

Perseteruan Dis dkk v GM dkk kian sengit menjurus perang terbuka.

Kejumudan GM dkk terhadap Dis dkk mendapat momentum saat JP Koran yang dinahkodai Azrul Ananda, anak lanang Dis labanya menurun sejak 2015 sampai 2017.

Alasan itu yang dipakai pemegang saham Jakarta GM dkk menyingkirkan Azrul dari Dirut JP Koran dalam RUPS LB 24 November 2017 di Surabaya.

Kata Alwi Hamu CEO Fajar Group tidak fair merosotnya laba JP Koran hanya ditimpakan kepada Dirut JP Koran Azrul seorang diri. “Semua direktur harus tanggung renteng. Karena perusahaan dikelola secara kolektif, ” kata Alwi Hamu (Baca: Alwi: GM dkk Tidak Berkeringat di Buku 2).

Ironisnya Leak Kustiya yang seharusnya ikut tanggung jawab karena jadi salah satu wakil direktur malah diangkat jadi Dirut JP Koran.

Ini baiknya Azrul meski dikorbankan, dicopot dari Dirut JP Koran, Azrul tentu sepengetahuan dan restu Abahnya Dahlan malah merekomendasikan Leak Kustiya yang karirnya diorbitkan keluarga Sakura, merujuk rumah Dis di Sakura Regency menjadi Dirut JP Koran. Menggantikan Azrul.

Pertama, guna menghadang Hidayat Jati jadi Dirut JP Koran. Kedua, keluarga Sakura berharap Leak berhutang budi pada Dis dengan melindungi kepentingan keluarga Sakura. Minimal Leak bersikap netral dalam perang Dis v GM dkk.

Ternyata harapan keluarga  Sakura terhadap Leak jauh dari panggang api.

Jangankan netral apalagi membela, Leak justru berada di garis terdepan kubu GM dkk menghadapi perang melawan Dis.

Leak sebagai Dirut JP Koran bahkan yang menandatangani  surat penagihan kepada Dis terkait utang Dis yang diklaim JP untuk membangun PLTU Tenggarong, Kaltim senilai Rp 900 miliar. Dan penagihan  lainnya.

Makanya, loyalis Dis melabeli Leak sebagai “pengkhianat” yang tidak tahu terima kasih.

Apa reaksi Leak?

“Seingat saya, saya tidak pernah menandatangani penagihan utang PLTU Tenggarong,” kelit Leak.

Soal cap pengkhianat?

“Ah… Monggo saja. Saya yakin Pak Dahlan tidak begitu,”  jawab Leak (baca wawancara Leak Kustiya di Buku 1).

DIKRIMINALISASI ANAK BUAH

Sebenarnya operasi penggusuran para loyalis dan orang orangnya Dis dari JP Group sudah berlangsung sejak Juni  2017.

Saat  RUPS Juni 2017 di Jakarta,  Nany Wijaya sebagai salah satu direktur  JP Holding dicopot tanpa alasan jelas.

BACA JUGA  Pemilik Patungan Matahari

Sebagai gantinya Yohannes Hengky Wijaya wakil Grafiti Pers pemegang saham mayoritas JP dalam RUPS sore harinya memaksakan Hidayat Jati, anak lanang GM menjadi Direktur JP Holding.

Tirza Samola wakil Dis di RUPS tersebut menolak Jati masuk jajaran direksi JP. Alasannya, Jati belum pengalaman dan diminta magang dulu di anak group JP.

Hengky menolak dan menantang voting peserta RUPS. Tantangan Hengky tak bersambut.

Peserta rapat klakep. Membisu. Itu karena Hengky mewakili Grafiti Pers sebagai pemegang saham mayoritas JP. Yakni, 49 persen lebih.

Ditambah sokongan pemegang saham GM dkk. Kalau voting kubu Hengky dipastikan menang seribu persen. Sejak itu Hidayat Jati resmi jadi salah satu Direktur JP Holding.

Nany perlu dicopot dari Direktur JP Holding agar tidak menghalangi skenario besar GM dkk memereteli Dis dan orang orangnya di JP Group.

Nany selama ini dikenal loyalis sejati Dis. Pokoknya, salah-benar di belakang Dis.

Lima bulan kemudian, giliran Azrul Ananda anak lanang Dis,  dalam RUPS LB 24 November 2017 di Surabaya yang dicopot dari Dirut JP Koran.

Lalu mendadak April 2018  Zainal Muttaqien, salah satu orang kepercayaan Dis mengundurkan diri sebagai Direktur JP Holding. Alasannya, empati, solider terhadap nasib Dis yang membesarkan dirinya.

Tapi, itu hanya bungkus. Sejatinya, kubu Dis sudah berancang ancang menyiapkan perang gerilya di daerah  terhadap kubu GM dkk.

Terbukti setelah Dis dicopot sebagai CEO JP Holding dalam RUPS LB di Surabaya Juli 2018,  kubu Dis yang dikomandani Zam inisial  Zainal Muttaqien langsung bergerilya merebut, mengambil alih beberapa anak perusahaan JP Group. Di antaranya, Radar Timika,  Radar Sorong  dan PT Media Virtual Indonesia (baca: Seru Perebutan Anak Perusahaan JP Daerah di Buku 2).

Sayang Radar Timika dan Radar Sorong yang direbut dengan susah payah  2018 hanya seumur jagung. Terhitung 1 Agustus 2021 kedua radar tadi harus “ditutup”.

Kabarnya karena terus merugi. Sebagai gantinya kedua  koran Radar tadi hanya terbit on line.

Ini bukti kegagalan orang-orang Dis mengelola koran. Tanpa embel-embel jaringan JP di belakang mereka, sepertinya berat mengelola koran daerah. Terlebih jaman internet dan masa pandemi corona saat ini.

JP membalas ulah Zam dkk dengan menagih utang ke Dis. Salah satunya utang Dis di PLTU Tenggarong yang diklaim JP senilai Rp 900 miliar termasuk bunganya sekian tahun.

Tapi, orang dekat  Dis membantah klaim JP bahwa Dis punya utang Rp 900 miliar karena tidak disertai bukti-bukti yang valid. “Penagihan itu sifatnya spekulasi karena tidak disertai bukti-bukti,” kata Yamin Hamid, orang yang mengurusi bagian legal Dis.

Ditambahkan orang dekat Dis lainnya. “Tagihan utang sebesar itu ngawur. Pakai uang sendiri dari deviden pribadi Pak Dahlan yang dikumpulkan dari anak perusahaan kok dianggap utang. Itu pencemaran nama baik namanya. Bisa kita gugat balik nanti,” ancam senior JP tadi.

Deviden Dis sebagai pemegang saham 10, 20 persen pun ditahan karena dianggap punya utang tadi. Kabarnya,  tiga tahun terakhir  Dis harus puasa deviden. Konon kalau cair rata-rata bisa Rp10 sampai Rp15 miliar setahun.

Dis juga “dihalang-halangi” menjual sahamnya 10,20 persen.

Sedikitnya sudah tiga kali Dis melego sahamnya ke publik tapi selalu berakhir gagal.

Terakhir kabarnya konglomerat Da’to Tahir tertarik membeli saham Dis. Tapi, pemilik Mayapada Group itu harus mundur teratur setelah diberi tahu kalau saham Dis masih bermasalah.

Itu karena Dis dianggap punya utang Rp900 miliar untuk pembangunan PLTU Tenggarong, Kaltim.

Soal pencopotan Dis sebagai CEO  JP Holding dalam RUPS LB di Graha Pena Surabaya Juli 2018 terkait kriminalisasi Dis yang diduga dilakukan Dirut JP Holding saat itu RD atau Ratna Dewi Wonoatmodjo bisa disapa Cik Wenny.

RD kabarnya melaporkan Dis ke pemegang saham GM dkk yang tidak-tidak.

Dis dalam suatu kesempatan rapat dengan pemegang saham di Jakarta 2018 yang merupakan rapat terakhir dengan pemegang saham berusaha mengklarifikasi terhadap laporan sepihak RD di hadapan pemegang saham. Diduga soal penggelapan aset.

Sayang RD tidak hadir.

Dis langsung telepon RD. Suara speaker HP sengaja dibesarkan agar pemegang saham GM dkk bisa mendengarkan.

BACA JUGA  Krisis Energi, Paradoks Negeri Kaya, dan Mencari Tata Kelola yang Berkeadilan

“Wen, saya datang ke rapat ini mau klarifikasi. Anda kok tidak datang. Kamu menyampaikan bla… bla… Soal aset, ” ujar Dahlan seperti dituturkan Tomy C Gutomo salah satu loyalis Dis yang kini jadi Pimred Harian Dis Way. Setelah Taufik Lamade, Direktur DisWay mundur, Tomy menggantikan posisi Lamade.

“Maaf Pak saya nggak bisa datang. Begini… begini…, ” jawab RD yang posisinya di Surabaya.

“Percuma saya klarifikasi kalau yang memberi informasi (melapor ke pemegang saham) tidak datang, ” tukas Dis.

Alwi Hamu rekan dan sahabat Dis membenarkan kalau pencopotan Dis sebagai CEO JP karena ada yang melapor ke almarhum Ciputra dan pemegang saham lainnya soal Pak Dahlan yang tidak-tidak. “Pak Dahlan dituduh punya utang untuk membangun PLTU Tenggarong, menggunanakan uang perusahaan untuk pribadi dan tuduhan miring lainnya. Intinya Pak Dahlan dikriminalisasi. Kasihan Pak Dahlan, ” aku Alwi.

Penulis yang mencegat dua kali RD di Graha Pena Surabaya. Pertama April 2021.Kedua, Mei 2021.

Saat ditanya apa sebenarnya yang dilaporkan  RD ke pemegang saham soal Dis? RD enggan menjawab.

RD terus melangkahkan kaki dengan cepat begitu turun dari mobilnya di  lobby Graha Pena menuju lift lantai satu sampai masuk ruang kerjanya di lantai 4.

Penulis mengikuti terus langkah RD sampai masuk ruang kerjanya. Tapi, RD enggan menjawab.

Saat disanggong kali kedua dengan pertanyaan  sama RD hanya menjawab sekenanya. “Saya tidak ingat,” jawab RD asal nyeplos.

Soal cap “pengkhianat”  yang dilebelkan ke Ibu karena melaporkan Dis yang tidak tidak ke pemegang saham. Apakah cap pengkhianat jadi beban?

“Iya sih itu (cap pengkhianat) menjadi beban bagi saya,” aku RD (baca Wawancara RD di buku 3).

Sejak itu 2018, baik, RD maupun Leak mencoba ketemu Dis. Tapi, Dis kata Tomy emoh menemui mereka berdua.

Dis begitu sakit hati terhadap mereka berdua. Baik Leak maupun Wenny yang diorbitkan, dienakkan eh… nggak tahunya malah membokongi Dis. Menyeberang ke kubu GM dkk yang tangannya tidak belepotan  dalam membesarkan JP.

Itu membuat loyalis Dis berang kepada RD maupun  Leak.

Japri mereka berdua pun kata Tomy baru dibalas tahun 2020.

Kata senior JP,   RD nekat mendatangi rumah Dis di perumahan Sakura Regency, Ketintang.

RD merengek rengek minta Dahlan mau menemui karena ada masalah penting. Semula Dis kuekeh. Tak mau menerima RD karena sudah dicap berkhianat.

Entah mengapa kemudian Dis berubah pikiran. “Saya kalau tidak ingat kamu….. Saya tidak mau menerima kamu, ” ujar Dis seperti ditirukan senior JP yang dapat cerita dari orang dekat Dis. “Tapi lanjutan kata kamu… Itu yang saya lupa,” tambah senior tadi.

Cik Wenny konon ketakutan setelah Dis berniat mempermasalahkan deviden yang disandera dikaitkan klaim JP atas utang Dis untuk pembangunan PLTU Tenggarong.

Cik Wenny konon yang menandatangani penahanan deviden Dis. Padahal, itu tidak ada hubungannya dengan deviden.

Kata senior JP kalau itu dimasalahkan Cik Wenny bisa masuk bui. “Makanya, Bu Wenny berupaya menemui Pak Dahlan tadi, ” ujar senior tadi.

DISKON PEMBELIAN PERSEBAYA DIBATALKAN

Perlakuan tidak mengenakan diterima Dis tak hanya sampai di situ saja.

Saat keluarga Sakura ingin membeli Persebaya dan brand DBL harga dipatok manajemen JP Rp 33 miliar. Tapi, dapat diskon 50 persen.

Tapi, sampai di meja RD sebagai Dirut JP Holding kesepakatan dicoret. Sebagai gantinya Sakura hanya dapat diskon Rp 5 miliar saja.

Jadi, Dis harus bayar Rp 28 miliar untuk bisa memiliki Persebaya Dan brand DBL. Ditambah dalam kurun waktu seminggu harus lunas. Kalau molor kena penalti.

Kepala Dis pening. Zainal Muttaqin ketiban sampur. Zam yang pontang-panting mencari uang. “Bersyukur bisa dibayar tepat waktu. Ini kan juga menyangkut nama baik Pak Dahlan,” ujar Yamin Hamid, salah satu orang dekat Dis.

Setelah Azrul dicopot dari Dirut JP Koran, orang orangnya Grafiti Pers Jakarta berminggu minggu sibuk mengaudit  pembukuan JP Koran termasuk beragam pengeluaran untuk kepentingan keluarga Sakura.

Mulai perbaikan kecil  rumah, biaya menjamu tamu, dan pengeluaran untuk keluarga Sakura. Karena sudah berlangsung bertahun tahun jumlahnya mencengangkan. Puluhan miliar. Semua itu oleh JP ditagihkan ke Dis.

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.