Selasa, 2 Juni 2026, pukul : 14:15 WIB
Surabaya
--°C

Malaysia

Pertandingan final dilakukan dengan sistem ‘’home and away’’. Dengan semangat membara dan optimisme membuncah, disertai dukungan puluhan ribu suporter yang memenuhi Stadion Bukit Jalil di Kuala Lumpur, timnas Indonesia menjalani laga final leg pertama.

Hasilnya memble. Indonesia dihajar tiga gol tanpa balas. Semua lemas. Tidak percaya melihat permainan Indonesia, yang tiba-tiba berubah seperti anak-anak yang lagi belajar main bola di klub SSB (sekolah sepak bola). Pemain depan Indonesia yang biasanya garang dan tajam mendadak lumpuh dan ompong. Barisan pertahanan yang biasanya kokoh tidak tertembus tiba-tiba rapuh dan keropos.

Masih ada kesempatan untuk membalas pada pertandingan final leg kedua di Jakarta. Tetapi, beban terlalu berat untuk membobol empat gol tanpa balas. Setidaknya Indonesia harus mengulangi kemenangan 5-1 pada pertandingan penyisihan. Beban yang sangat berat dan hampir mustahil. Malaysia sudah di atas angin dan Indonesia sudah masuk angin.

Akhirnya Indonesia menang 2-1. Tapi tidak cukup untuk menjadi juara. Kapten Firman Utina punya kesempatan emas menendang penalti pada menit ke-18 tapi gagal. Harapan yang sempat timbul harus tenggelam lagi. Gelora Senayan pun senyap diliputi pertanyaan dan kecurigaan.

Tangan setan yang tidak terlihat telah merusak harapan Indonesia. Ada campur tangan pejudi internasional yang menyogok timnas Indonesia dan menghancurkan harapan bangsa Indonesia. Ada kecurigaan besar ketika pengurus teras PSSI masuk ke ruang ganti pemain Indonesia pada leg pertama. Kabarnya, sang pengurus itu menjadi bagian dari skema jahat mafia ‘’match fixing’’ yang menghancurkan sepak bola Indonesia.

BACA JUGA  Dekade Baru Ashuma: Revolusi Sport Science dan Pemulihan Atlet Nasional Berpusat di Sidoarjo

Muncullah nama misterius ‘’Ali Cohen’’ yang mengirim surat kaleng kepada Presiden SBY. Cohen membeberkan kecurigaan adanya bandar judi internasional yang menyuap pengurus dan pemain-pemain Indonesia. Ali Cohen mendesak SBY supaya turun tangan menyelidiki skandal pengaturan skor yang memalukan ini.

Sampai sekarang Ali Cohen tetap menjadi misteri. Pun pula kekalahan timnas Indonesia tetap menjadi misteri. Kecurigaan terhadap skandal pengaturan skor oleh mafia sepak bola internasional sampai sekarang tetap menjadi rahasia. Keterlibatan pengurus PSSI dalam skandal itu juga tetap menjadi misteri yang terkubur menjadi rahasia abadi.

Beberapa pemain Indonesia yang dicurigai terlibat dalam matck fixing sudah mau buka-bukaan kepada media. Mereka menampik tuduhan itu. Pengurus teras PSSI yang disebut sebagai ‘’godfather’’ sepak bola Indonesia juga sudah sempat buka-bukaan kepada media. Tetapi tidak ada hasil yang konklusif. Sang ‘’godfather’’ itu hanyalah godfather kecil. Masih ada ‘’the real godfather’’ yang tidak pernah terungkap, meskipun semua orang tahu siapa dia.

BACA JUGA  HEBOH!: "Ngegas Poll, Bleyer Poll, Keren Poll ‘Jayandaru Vol 1 2026’ Buktikan 2T Bukan Sekadar Kebisingan, Tapi Ekonomi dan Disiplin"

Sepuluh tahun berlalu, kenangan buruk itu masih tetap ada. Sampai sekarang ancaman match fixing dari para mafia sepak bola masih tetap menjadi momok yang menakutkan. Bahkan, kali ini ancaman itu jauh lebih besar dari sebelumnya.

Berbagai pertandingan dalam kompetisi internal Liga 1 PSSI dicurigai telah disusupi mafia match fixing. Kinerja wasit-wasit Indonesia dalam kompetisi nasional menjadi sorotan, karena banyak keputusan kontroversial yang tidak masuk akal.

PSSI sudah menjatuhkan sanksi terhadap para pelaku match fixing di Liga 2 dan Liga 3. Tetapi, tindakan itu hanya terlihat sebagai lips service semata. Tindakan yang lebih serius terhadap pelanggaran di Liga 1 masih belum dilakukan oleh PSSI. Dan hal itu menimbulkan pertanyaan besar yang tetap tidak terjawab.

Sepuluh tahun berlalu, tidak banyak perubahan yang terjadi. Tangan-tangan setan masih tetap bergentayangan. Ada tetapi tidak terlihat. Atau, ada tapi pura-pura tidak melihat, dan pura-pura tidak terlihat.

Kali ini pun boleh saja publik menggantungkan harapan tinggi kepada timnas Indonesia. Tapi, jangan lupa, harus siap-siap patah hati lagi. Siklus 10 tahunan, mungkin, akan terulang lagi. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.