Sabtu, 9 Mei 2026, pukul : 12:15 WIB
Surabaya
--°C

Refleksi Ruang Publik Kuno hingga Digital

Negativitas dan Fragmentaris

Melewati rangkaian panjang pengembaraan intelektual, Franky menemukan pemahaman tentang negativitas manusia sebagai titik balik kebangkitan dan fragmentarisasi pemikiran kefilsafatan.

Penguasaan Franky terhadap berbagai konsep kefilsafatan lainnya sangatlah luas, tak hanya sebatas soal Habermas. Pasalnya, mengkaji Habermas sama dengan mengkaji keseluruhan konsep kefilsafatan. Bobot pemikiran Habermas terentang sejak jaman Yunani Kuno hingga era kontemporer (modern-postmodern). Selain itu, Jurgen Habermas bisa dibilang sebagai satu-satunya filsuf yang masih hidup.

Pasca penerbitan Menuju Masyarakat Komunikatif (1994), Franky belajar filsafat di Munich Jerman untuk meneliti Teori Diskursus yang dirumuskan oleh Habermas. Sekembalinya ke tanah air, dia mulai cukup produktif. Wacana yang dikembangkanya menunjukkan satu ”progresivitas” dengan melakukan kajian yang sepertinya beralih dari konstruksi ”Habermasian.” Terbitlah Melampaui Positivisme dan Modernitas (2003).

Dalam buku tersebut, Franky mencoba melakukan penguraian diskursus tentang metode ilimah dan problem modernitas. Wacana tentang postmodernisme telah dimulai sejak 1980an. Dan, buku ini menjadi bagian dari khazanah pengayaan waacana tentang pasca modernisme itu. Dalam konteks keindonesiaan, Franky turut menunjukkan bagaimana ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan dalam masyarakat Indonsia masih lazim menggunakan pendekatan kuantitatif.

Pendekatan yang mencari ”objektivitas” dan ”kebebasan nilai” itu banyak dipengaruhi oleh metode-motode ilmu alam yang memang terbukti sukses diterapkan dalam bentuk teknologi modern. Namun positivisme dikritik sebagai akar dehumanisasi dan dominasi totaliter modern. Positivisme adalah jiwa modernitas. Karena itu, kritik atas modernitas harus dimulai dari ktirik atas positivisme dengan upaya untuk menemukan kekhasan metodologi ilmu sosial kemanusiaan.

Tidak sebatas itu. Usaha intelektual Franky untuk melampaui diskursus modernitas itu juga terekam dalam buku Heidegger dan Mistik Keseharian. Dengan mengajak pembaca memahami Sein und Zeit , masterpiece Martin Heidegger, yang dinilai sebagai inspirator gerakan postmodern, Franky menelaah bagaimana Heidegger menawarkan jalan untuk kembali pada jati diri kita, dengan jalan menjadi mistikus keseharian.

Hal itu karna karut marut globalisasi dan hiruk pikuk metropolis sering menyeret kita menjadi pemuja tubuh, petarung kapital, atau penjilat kekuasaan. Kita tak lagi mendalami yang mistis. Jati diri terlupa, dan hidup menjadi banal, tanpa makna. Franky mengajak kita agar mencandra kecemasan (Angst) yang keluar dari kolam keseharian kita. Dengan demikian Ada yang terlempar (dasein) menyingkapkan diri, dan mengundang manusia untuk bermukim dalam rumah eksistensinya.

Refleksi intelektual F. Budi Hardiman terus bekembang. Dia pun kemudian memikirkan dasar-dasar antropologis negatif dari kendala-kendala menuju demokrasi yang masih sering dialami masyarakat Indonesia. Refleksinya itu berangkat dari berbagai ragam bencana dan kerusuhan massa dan politik yang akhir-akhir ini terjadi di Indonesia sehingga mengubah minat risetnya dari teori kritis menuju riset tentang kekerasan massa.

Ada beragam peristiwa menuju kehancuran dengan berbagai kejadian luar biasa yang tengah melanda negeri ini dengan berbagai fenomena negatif yang telah terentang dalam sejarah ke-Indonesiaan kita: pembantaian, konflik bersenjata di Aceh, tragedi Mei 1998, Bom Bali, Gempa, Tsunami Desember 2004, bahkan akhir-akhir kejadian bencana seperti gempa di berbagai daerah di Indonesia seperti di Jawa, Sumatera dan Papua.

Franky mengajak untuk bangkit dari puing-puing kehancuran itu lantas mencegah kehancuran diri lebih lanjut, itulah spirit yang diundangkan kepada kita oleh F. Budi Hardiman dalam Memahami Negativitas. Diskursus tentang Massa, Teror dan Trauma (2005). Ini juga  menjadi pergumulan filosofis Franky di tengah-tengah berbagai peristiwa kerusuhan dan tragedi kemanusiaan di Indonesia.

Di dalamnya, dia berupaya menunjukkan bahwa manusia sangat terbuka terhadap penyimpangan nilai-nilai dan memiliki hati yang pengecut sehingga mudah dimobilisasi sebagai massa yang melakukan kekerasan. Dengan kata lain kita diajak untuk membalik strategi tidak lagi hanya melulu melihat sisi positif dalam berencana, tetapi sebaliknya.

Dia mendiagnosis the negative driving forces, kekuatan yang yang senantiasa cenderung korup baik dalam diri maupun kolektif yang selalu ada dalam diri dan masyarkat. Dalam konteks demokrasi, selayaknya terlebih dahulu meneliti berbagai kendala atau patologi mental dan struktural masyarakat kita untuk menuju demokratisasi.

Franky menampilkan bahwa sesuatu yang tidak dikenal atau “yang lain” merupakan suatu ”ketakutan tersendiri” bagi manusia. Dari sini maka Budi Hardiman membuat tiga pembedaan. Kelompok pertama disebutnya  dengan : Yang Ekstrim Lain, sebagai contoh, kita melihat atau bertemu dengan anggota minoritas etnis, kaum homoseksual, pengikut sekte terlarang, pemabuk, penjudi , orang cacat mental.

Kelompok kedua disebut dengan : Yang Kurang Sama.Disamping berciri defisit, juga berciri surplus, contohnya, orang-orang yang sangat kaya, perempuan-perempuan yang sangat cantik, para jenius, dan seterusnya. Kelompok ketiga disebut dengan Yang Sama, contohnya, “Aku dan Kamu” dapat menjadi “Kita”, jika keduanya mendekatkan ciri-ciri sosial mereka yang sama, entah sama-sama penduduk Jakarta, penggemar motor Vespa, karyawan minyak, dan seterusnya.
Selain membahas mengenai ”Yang Lain”, buku ini juga menjelaskan secara cukup rinci mengapa sampai terror itu terjadi, tentang bagaimana terbentuknya massa, juga merincikan bagaimana ”Anatomi Kekerasan Massa” yang dianalisis secara struktural, serta memahami “Akar-akar Kekerasan Massa”, dan bermuara pada “Uraian Mengenai Teknologi Kepatuhan.”  Diwacanakan juga mengenai “Mengais Makna dalam Kekelaman”, serta bagian terakhirnya ditutup dengan” Melampaui Mengingat dan Melupakan”.

Massa, terror dan trauma, adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi proses demokratisasi, dan ancaman tersebut semakin membesar seiring dengan semakin banyaknya mereka yang termarjinalisasi dalam proses globalisasi dewasa ini,yakni mereka yang siap dikorbankan menjadi sebagai “massa” di dalam sebuah pertentangan antara kawan dan lawan, entah dalam kategori ekonomis, politis, idiologis atau agama.

Karya terbarunya, Filsafat Fragmentaris (2007), mengajak pembaca mendalami konsep filsafat dengan menelaah tiga tradisi besar filsafat kontemporer, yaitu fenomenologi, teori kritis dan dekonstruktivisme yang sampai pada penemuan ciri fragmentaris pengetahuan manusia. Karya itu membahas tiga misteri besar, yaitu tubuh, kesadaran dan kekuasaan.

Ketiga tema itu disorot dengan tiga pendekatan utama dalam filsafat Barat kontemporer: deskripsi (fenomenologi) , kritik (filsafat kritis), dan dekonstruksi (poststrukturalisme ). Seperti dalam karya-karya sebelumnya, penulis memusatkan diri pada problem epistemologis, sosial, dan politis.

Buku ini menyelami pemikiran para filsuf penting seperti Maurice Merleau-Ponty, G.W.F. Hegel, T.W. Adorno, W. Benjamin, J. Habermas, C. Schmitt, J. Derrida, F. Nietzsche, dan lain-lain. Ada setidaknya dua alasan mengapa buku ini diberi judul Filsafat Fragmentaris. Pertama, tiap bab dalam buku ini tampil sebagai fragmen-fragmen pemikiran yang menghentikan suatu klaim akan ketuntasan pengetahuan. Kedua, karena filsafat itu sendiri sebuah pemikiran yang terfragmentasi.

Filsafat masa kini, yang dalam buku ini dicakup dalam deskripsi, kritik dan dekonstruksi, menampilkan sifat fragmentaris pemikiran itu sendiri. Tetapi justru dengan pengakuan akan ciri fragmentaris itu, filsafat dapat membedakan dirinya dari ideologi dan agama.

Pada akhirnya, setelah melalui perjalanan panjang intelektual, pada buku terakhirnya Demokrasi Deliberatif, Franky kembali menemukan Habermas memiliki daya dorong yang kuat untuk perubahan, terutama terkait konstruk sosial yang ideal. Dia mengkaji buku monumental Habermas yang berjudul Faktizitat ung Geltung (Fakta dan Kesahihan) (1992).

Menurutnya, para kritikus Habermas telah salah menuduh bahwa Hebermas tidak lagi melancarkan ”kritik atas kapitalisme” sebagaimana dilakukan secara progresif oleh para pendahulu sekaligus generasi pertama teori kritis, seperti Max Horkheimer, Theodor W. Adorno, dan Herbert Marcuse. Dengan melampaui ”kritik atas kapitalisme”, Habermas menginginkan suatu kondisi komunikatif yang paling mungkin guna membuka ruang-ruang diskusi rasional. Hal itu untuk membuka diskursus terkait persoalan publik dan kelindan proses pengambilan keputusan demokratis.

Menguatkan Kembali Filsafat di Era Digital

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.