Selasa, 28 April 2026, pukul : 11:56 WIB
Surabaya
--°C

Semesta Marvel, Semesta Milenial

KEMPALAN: Kemarin malam, kisaran jam 22.00 WIB, ada sekumpulan anak muda, yang mungkin sudah mengenyam dunia perkuliahan selama 3-5 semester menghabiskan waktu lama untuk berdiskusi, bukan tentang jasa para pahlawan, bukan tentang krisis demokrasi atau kemiskinan yang berkelanjutan, tapi tentang Marvel Cinematic Universe.

Mereka mengulik tentang para pahlawan. Pemahaman anak muda atau generasi Z terhadap pahlawan sudah bergeser. Pahlawan tak lagi muncul dalam bentuk bapak bangsa, tapi superhero. Mereka mungkin akan mengenal lebih dulu Hulk, Captain America, Iron Man, Spider-Man dan kawan-kawannya yang kece dibandingkan Sukarno, Hatta dan Syahrir.

Generasi lama akan merasa bahwa pemuda atau generasi yang lebih muda tidak menghargai para pahlawannya dan lebih suka mengenal pahlawan impor daripada produk lokal, namun masalah tak terletak pada hal itu. Kemunculan Marvel Cinematic Universe (MCU) adalah sesuatu yang tak terhindarkan, ia adalah hasil dari perkembangan teknologi dan kapitalisme, mau tidak mau, MCU akan tetap hadir.

Permasalahan mendasarnya adalah kenapa MCU bisa lebih menarik ketimbang Sejarah Nasional Indonesia (SNI) yang ditulis berjilid-jilid? Sederhana, karena MCU berupa film, sementara SNI berbentuk buku yang seringkali dianggap membosankan (padahal buku sejarah adalah salah satu buku yang mudah dan enak dibaca, kalau ada yang menulis buku sejarah tapi membingungkan, patut dipertanyakan apakah dia menulis untuk dibaca atau sekedar show-off).

Sekarang bukan waktunya menyalahkan Marvel Studio dan Disney atas masuknya film-film mereka ke Indonesia, tapi bagaimana membuat pahlawan Indonesia bisa se-menarik MCU. Ada upaya menuju ke sana dengan membentuk dunia superhero sendiri, yakni Bumilangit Universe dengan Gundala sebagai pembukanya (dulu Flash memulai start-nya, sekarang Quicksilver berusaha mengejar ketertinggalan, nampaknya Gundala juga akan ikut berlari).

MCU memberi kita pelajaran untuk menyuguhkan sesuatu yang digemari oleh para penonton. Semenjak filmnya yang pertama, Iron Man, Marvel memberikan seorang pahlawan yang tak biasa. Ia tak punya kekuatan super, hanya saja kaya raya seperti Batman, lalu apa yang membuatnya begitu mengena? Tony adalah orang yang sombong, tapi di balik kesombongannya itu, ia adalah pribadi yang berhati besar, suka menolong, dan dermawan. Kompleksitas pribadi Tony adalah ciri khas dari Marvel.

Semua karakter memiliki sisi baik dan sisi buruk. Marvel menyuguhkannya dengan sangat baik, orang jahatpun punya kebaikan dalam bentuk tujuannya (the end justify the means). Thanos ingin menghabisi setengah dari jagad raya agar mahluk yang tersisa tidak kekurangan sumber daya, Ultron ingin menghancurkan manusia karena manusia dianggap sebagai biang keladi permasalahan, Loki yang nampaknya tak punya ambisi selain menguasai dunia pada akhirnya bisa menjadi protagonis di film serinya.

Tidak hanya memperlihatkan…

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.