Sosok Pro Palestina
Yang menarik seperti halnya ditulis dalam buku Noam Chomsky, A Life of Dissent yang ditulis oleh Robert F. Barsky, asisten gurubesar Sastra Inggris di Universitas Western Ontario Kanada, yang disebut-sebut sebagai buku biografi intelektual dan politik Chomsky, Chomsky sempat bersentuhan dengan kelompok-kelompok yang mendorong beremigrasinya kaum Yahudi Amerika ke negeri harapan yang baru dibentuk, Israel.
Dia memang tidak secara resmi terdaftar sebagai organisasi Yahudi berhaluan kiri seperti Avukah yang mendorong berdirinya negeri “binasional” (Arab-Yahudi) di Palestina. Tapi karena bersentuhannya dengan kelompok-kelompok tersebut, keinginan untuk tinggal di Israel sempat terlintas di benaknya.
Pada saat tercatat sebagai anggota Harvard’s Society Fellow, berdua dengan istrinya, Carol, ia mengunjungi negeri itu pada tahun 1953. Mereka tinggal di kibbutz, pemukiman baru Yahudi di Palestina selama kira-kira enam minggu. Dia menggambarkan lingkungannya itu sebagai miskin, hanya sedikit makanan dan yang lebih penting lagi: ”Benar-benar sesuai dengan lingkungan ideologis.” Yang terakhir itulah yang kemudian merisaukannya. Bagi dia, tidak mudah menerima lingkungan yang dia sebut sebagai ekslusif dan rasis tersebut.
Ketika ia berada disana, Chomsky melihat bagaimana masyarakat non-Yahudi terpinggirkan, terancam dan ketakutan, pengalaman inilah, yang menunjukkan standar ganda keadilan, membuat dia merasa ragu perlunya membentuk negara Yudaisme untuk etnik Yahudi. Pada masa berikutnya, Chomsky malah dikenal sebagai salah satu intelektual AS yang berani berkonfrontasi secara langsung, menentang pencaplokan Israel atas tanah Palestina. ”Satu tanah dua negara, ini merupakan esensi utama masalah Israel-Palestina” katanya dalam buku The Chomsky Reader.
Watak kritis ini sebagai ahli linguistik yang banyak menulis soal-soal politik internasional, selain dibentuk oleh banyak gagasan yang mempengaruhinya, juga dibentuk dari bidang yang ditekuninya, “Cartesian Linguistics”. Menurut Chomsky, sekali ia menerima perspektif Cartesian dalam bahasa, pada tahap berikutnya ia harus mendukung hak alami manusia dan melawan segala macam otoritarianisme yang menindas manusia.
Next: Keterlibatannya di aktivisme politik merembet

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi