Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 10:19 WIB
Surabaya
--°C

Omicron dan Nataru

Pembatalan ini menunjukkan wajah lama pemerintah dalam penanganan pandemi yang selalu tarik-ulur antara pertimbangan kesehatan dan pertimbangan ekonomi. Pembatalan kali ini menunjukkan sekali lagi bahwa pertimbangan ekonomi mengalahkan pertimbangan kesehatan.

Putaran ekonomi yang besar selama liburan Nataru membuat pemerintah berani melakukan pelonggaran. Keputusan ini berisiko karena spekulatif. Beberapa negara yang sudah mempunyai level vaksinasi lebih tinggi dari Indonesia tetap melakukan pembatasan, tapi Indonesia memilih pelonggaran.

Nada protes bermunculan dari banyak netizen. Banyak yang menganggap keputusan ini diskriminatif karena dua kali lebaran terakhir pemerintah dengan keras menerapkan PPKM level tinggi disertai aturan larangan mudik yang diterapkan dengan keras.

Giliran natal dan tahun baru pembatasan level tinggi dibatalkan dan diganti dengan pembatasan yang sangat longgar. Cara pendekatan yang berbeda ini memunculkan kembali banyak teori konspirasi. Kali ini mengaitkan kemunculan virus Omnicorn dengan strategi Yahudi untuk melemahkan Islam.

Sejak virus Covid-19 muncul dua tahun yang lalu sudah terjadi kecurigaan bahwa virus ini buatan laboratorium di China, sebagai bagian dari perang biologi untuk menguasai dunia. China yang menjadi tertuduh balas menuduh Amerika sebagai biang kemunculan virus, dan dengan senjaga menyebarkannya ke China.

Dunia lintang pukang selama dua tahun pandemi. Tetapi, wilayah Afrika relatif tenang-tenang saja. Masyarakat Afrika seolah-olah tidak mempan oleh varian virus Covid-19, termasuk varian delta yang sangat ganas.

BACA JUGA  NPD Sulit Akui Kesalahan

Masyarakat Afrika sudah mempunyai kekebalan fisik dan kekebalan komunitas yang sangat tinggi, karena selama ini Afrika sudah berkali-kali dihajar oleh berbagai macam virus ganas mulai dari virus HIV penyebab AIDS, viru Ebola yang mematikan, dan virus-virus ganas lainnya.

Karena itu kemudian ada rekayasa untuk menciptakan varian baru yang disebut berasal dari Afrika. Maka, muncullah varian Omicron yang disebut bermutasi dari Afrika dan punya daya sengat yang jauh lebih tajam.

Teori konspirasi berkembang liar. Salah satunya menyebut bahwa ‘’Variant Omicron’’ sudah dipersiapkan sejak 1963 dan yang membawa penyakit itu adalah makhluk alien dari luar angkasa. Setidaknya hal itu sudah diceritakan dalam sebuah film dengan judul ‘’Variant Omicron’’ produksi Italia.

Film bergenre sains fiksi itu mengisahkan seorang karyawan pabrik yang meninggal dan hidup kembali setelah tubuhnya diambil alih oleh alien.  Alien mengambil alih tubuh manusia demi mempelajari planet bumi dengan tujuan menguasai dan menaklukkan penduduk bumi.

Agak sulit mempercayai kaitan film ini dengan kemunculan varian Omicron yang sekarang muncul ,kecuali hanya kesamaan nama yang sangat mungkin hanya kebetulan. Tetapi, informasi itu beredar luas di media sosial dan mendapatkan tanggapan ramai dari para netizen. Ada yang percaya terhadap teori konspirasi itu, ada yang menganggapnya hanya bualan kosong.

BACA JUGA  Persi Jatim Ajak Tenaga Kesehatan Berkreasi dalam Lomba Bola Voli Mix dan Vokal Group

Tahun lalu ketika kasus kematian akibat pandemi sedang mencapai puncak, warganet juga mengaitkan situasi tersebut dengan film  berjudul “Contagion” yang dirilis 2011. Film tersebut menggambarkan perjuangan seorang dokter yang berpacu dengan waktu melawan epidemic, yang tidak diketahui asal-usulnya, tetapi dalam waktu singkat mampu melumpuhkan dunia.

Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim itu, tetapi banyak orang yang percaya bahwa Covid-19 merupakan pandemi yang sudah dirancang lama sebagai senjata biologi untuk menguasai dunia.

Munculnya varian Omicron di Afrika akan menjadi puncak penegasan yang sah bahwa pandemi Covid-19 telah berhasil menundukkan seluruh penjuru dunia. Negara-negara Afrika memprotes keras pengucilan yang dilakukan oleh negara-negara Barat. Tapi, mereka hanya bisa protes, dan negara-negara Barat tidak menggubrisnya.

Terlepas dari berbagai teori konspirasi yang bermunculan, Indonesia sudah mengambil keputusan yang sangat berani dengan pembatalan PPKM level tiga selama Nataru.

Keputusan sudah diambil, dan risiko ditanggung penumpang. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.