Setelah menyadari semuanya, kita tersadar bahwa daging-daging yang kita konsumsi selama ini menyebabkan adanya tuntutan hewan-hewan kelak pada pengadilan di akhirat. Maka seharusnya kita melakukan segala upaya agar terlepas dari mengonsumsi daging-daging yang ada proses kezaliman di dalamnya.
Memang itu tidaklah mudah, sebab menyangkut kepentingan banyak pihak. Di sinilah dibutuhkan peran ulama untuk menyosialisasikan “daging bersih” yang disyariatkan oleh Rasul Shallallahu Alaihi Wa Sallam agar kita semua selamat terhindar dari kezaliman.
Ulama harus terus menerus berkampanye menyosialisasikan bahwa sistem yang sedang kita gunakan dan nikmati, itu mengakibatkan daging yang dikonsumsi mengandung kezaliman. Sekali lagi, pasti akan diminta pertanggungjawabannya.
Karenanya, akan timbul kebutuhan akan “daging bersih”, dan masyarakat berkehendak membelinya, walau dengan harga lebih mahal. Jika sudah jadi kebutuhan, maka dengan sendirinya muncul pasar untuk memenuhi kebutuhan dimaksud.
Sengaja dipakai istilah “daging bersih”, yaitu daging yang didapat dari ternak yang melalui proses penyembelihan sesuai dengan syariat. Dimana dalam proses penyembelihan, dan hal-hal teknis yang menimbulkan kezaliman, mulai dari pengangkutan dan cara penyembelihan yang tidak syar’i, tidak akan ditemui.
Australia atau New Zealand, dua negara yang bisa jadi contoh di mana masyarakat muslim sadar akan “halal meat” yang tentu harga daging di sana lebih mahal dari yang tidak halal.
“Halal meat” itu sudah pasti “daging bersih”. Karena di sana ada undang-undang animal welfare yang dengan serius dijalankan, sehingga umat Islam di dua negara itu sadar dan mau membeli cuma daging halal, walau harganya lebih mahal. Inilah hasil dakwah para ulama di sana, pada masjid-masjid mereka.
Mestinya institusi Majelis Ulama Indonesia (MUI) bisa berperan besar dan ambil tanggung jawab, dan memberi saran pada pemerintah untuk menghadirkan regulasi kebijakan akan “daging bersih” sebagaimana tersebut di atas. Tidak ada yang tidak bisa, jika itu sudah jadi kesadaran bersama. (*)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi