KEMPALAN: Agama dan Pertikaian
“Agamaku adalah agama cinta, yang senantiasa kuikuti kemanapun langkahnya. Itulah agama dan keimananku”, seperti itulah salah satu syair dari Muhyi al-din Ibn Arabi dalam kitabnya Futuhat al-Makkiyah.
Beliau mengungkapkan bahwa agama sejati adalah agama yang dilandasi oleh cinta kasih, agama yang sejati akan merangkul seluruh manusia, agama yang sejati menurut beliau membawa pesan-pesan universal yang menuju ke arah kebaikan dan kebahagiaan.
Agama cinta yang dimaksud oleh Ibn Arabi tersebut adalah memahami agama sebagai suatu lembaga yang membumikan cinta kasih. Ibn Arabi ingin menyampaikan kepada para pembaca bahwa jikalau kita menelusuri setia ajaran, pesan, wejangan dan petuah dari para nabi bahwa agama-agama di dunia pada hakikatnya membawa pesan utamanya, ialah cinta.
Agama kristen, Hindu, Buddha, dan Islam meskipun secara ritual peribadatan mereka berbeda, namun secara hakikat mereka memiliki kesamaan, yaitu sama-sama mengajarkan kedamaian dan keharmonisan. Agama adalah suatu sistem yang menjaga manusia agar teratur, harmonis, dan damai demi menghindari segala kekacauan dan konflik.
Namun berbeda dengan apa yang kita saksikan saat ini, sepertinya berbanding terbalik. Di mana-mana di tayangan televisi dan media massa kita kerap melihat kekerasan dan aksi kriminal dengan dalih agama. Penutupan warung makan secara paksa di bulan puasa, persekusi terhadap wanita yang tidak berjilbab syar’i di Aceh, penolakan pendirian gereja di Banten, hingga aksi intoleran yang menimbulkan korban jiwa seperti penyerangan Ahmadiyah di Cikeusik dan pembakaran Masjid di Tolikara, Papua.
Nampaknya kita sudah amat-sangat biasa disajikan oleh televisi, koran, atau internet mengenai aksi-aksi heroik yang membawa unsur agama. Baik itu aksi persekusi terhadap minoritas, atau penganiayaan terhadap jiwa orang lain.
Pesan damai agama yang justru seharusnya diamalkan oleh setiap umat manusia yang katanya beragama dan mencintai agamanya kini berbanding terbalik. Agama seakan-akan menjadi senjata bagi mereka yang mengklaim dirinya memahami agama untuk memusuhi mereka yang berbeda dengannya.
Tidak dapat dipungkiri, agama yang paling cocok dengan situasi zaman ini adalah agama yang berlomba-lomba untuk menebarkan cinta kasih. Apapun agamanya dan kitab sucinya, manusia modern membutuhkan agama yang mampu mencurahkan hasrat spiritualnya dan membuat mereka semakin “manusiawi”.
BACA JUGA: Kita Dikutuk Bebas
Pada era global ini kita semakin mudah terhubung, langit dan lautan bukan lagi halangan bagi persaudaraan manusia. Saat ini agama yang benar-tepat adalah agama yang memang mengajarkan kebaikan dan keharmonisan, bukan penjaja provokasi kebencian. Kita hidup di era di mana keharmonisan dan keselarasan antar umat manusia menjadi syarat yang mutlak untuk kenyamanan hidup.
“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal” (QS. 10:13) Jikalau tuhan memang menginginkan kita bersaudara, maka seharusnya para pengikutnya harus menjunjung tinggi rasa kemanusiaan dan persaudaraan sesama manusia dalam kehidupan di dunia.
“Alam ini pada mulanya disatukan oleh cinta, cinta adalah hukum kodrat yang menyatukan dan mendekatkan segala sesuatu, cinta itu akan membuka kembali jalan pulang menuju langit yang suci, kedalam pengakuan Tuhan yang maha mencintai”.
BACA JUGA: Jangan Merasa Paling Suci, Kita juga Melakukan Korupsi
Begitulah salah satu syair yang diungkapkan oleh Empedokles, seorang filsuf Yunani kuno yang menyadari bahwa cinta adala sesuatu asas yang penting. Cinta adalah hukum tertinggi yang menyelimuti alam semesta, cinta pulalah yang menjadi penuntun jalan kesucian menuju Tuhan.
Agama Cinta
Agama yang memang sesuai bagi manusia adalah agama yang menonjolkan cinta daripada perdebatan mengenai benar-salah. Jika kita masuk ke dalam agama cinta, maka kita akan sadar bahwa Tuhan adalah sosok yang Maha Mencintai dan Maha pengasih sehingga ia tidak dapat di tempuh dengan kebencian dan permusuhan.
Jika kita memeluk agama dengan cinta, maka tidak ada aku dan kamu, yang ada hanyalah kita. Jika kita memeluk agama dengan cinta, maka setiap kitab suci agama akan kita pandang sebagai pedoman yang satu menuju ke sang Maha Mencntai.
Cinta adalah bahasa universal, agama cinta berarti memeluk agama yang tidak terbatas pada ruang dan waktu, tidak pula terikat pada budaya dan suku. Jika seorang Muslim atau Kristiani yang memeluk agama denga rasa cinta, maka ia akan merangkul semuanya walaupun itu berbeda dengannya.
Sebab ajaran tiap agama pada dasarnya menyuruh si kaya merangkul si miskin, yang kenyang memberi makan pada yang lapar, yang paham memberikan pemahaman bagi yang tidak paham, mencintai orang tua dan saudara, serta menghargai setiap manusia lainnya.
Jikalau manusia menjunjung hukum cinta, maka dapat dipastikan segala kebencian, dendam, iri hati, kekerasan, perusakan, dan segala hal-hal negatif dan merugikan akan lenyap. Manusia akan saling mengasihi dan mulai memperdulikan sesamanya.
BACA JUGA: Kita Adalah Sampah yang Merusak
Namun ini memanglah hanya sebuah ide dan cita-cita mahluk tuhan yang penuh dengan keterbatasan. Pada kenyataannya kita tidak mampu melepaskan diri dari sifat-sifat yang disebut di atas terkecuali memang kita sudah benar-benar mendapatkan jalan atas cinta itu.
Cinta adalah hukum absolut bersifat universal, apapun agamamu, apapun sukumu, dimanapun kamu berada, setiap orang pasti mengakui bahwa cinta membawa kebaikan. Seperti apapun tindakan yang dilakukan atas dasar cinta, maka hasilnya akan berbuah positif dan selalu memuaskan.
“Cinta kasih adalah bagaikan seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya, melindungi putra tunggalnya. Demikianlah terhadap semua makhluk, dikembangkannya pikiran cinta kasih tanpa batas, ke atas, ke bawah, dan ke sekeliling, tanpa rintangan, tanpa benci dan permusuhan.” -Sang Buddha- (*)
Editor: DAD

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi