Menu

Mode Gelap

kempalanda · 19 Nov 2021 14:18 WIB ·

Jika Kebutaan Telah Menjangkiti Hati


					Jika Kebutaan Telah Menjangkiti Hati Perbesar

Oleh: Hamid Abud Attamimi
Aktivis Dakwah dan Pendidikan

KEMPALAN: Tak semua buta atau kebutaan akan membawa petaka atau kesengsaraan, sebab tak sedikit kita menyaksikan, betapa seorang yang buta ternyata mampu menjadi Penghafal Al Qur’an, juga dibidang yang lain. Ketiadaan indra penglihatan tidak menjadikan mereka kehilangan semangat, bahkan… Subhanallah, mereka tidak menganggap itu sebagai sebuah kekurangan.

Beberapa tahun lalu, kita menyaksikan sebuah video yang viral, Muadz, seorang remaja buta sejak lahir dari Mesir yang menjadi penghafal Qur’an, ketika ditanya oleh Syaikh Fahd Al-Kandari tentang bagaimana perasaannya, dia menjawab:

“Dalam shalat, aku tidak meminta kepada Allah agar Allah mengembalikan penglihatanku, Bukannya aku tak yakin pada Allah, bukan. Namun aku menginginkan yang lebih indah dari sekedar penglihatan.”

“Semoga menjadi keselamatan bagiku pada hari pembalasan (kiamat), sehingga Allah meringankan perhitungan (hisab) pada hari tersebut. Nanti saat berdiri di hadapanNya, takut dan gemetar, Allah menanyakan tentang nikmat penglihatan dan Dia akan bertanya “apa yang telah engkau lakukan pada Al-Qur’an ini?” Aku hanya berdoa semoga Allah meringankan perhitungan-Nya untukku pada hari kiamat kelak,”

Jawaban remaja ini membuat Syaikh menangis tersedu-sedu.

Pendahuluan dan cerita di atas hanya sebuah pengantar agar kita mampu dengan kebersihan hati mengakui bahwa ketiadaan indra penglihatan bukanlah sebab dan alasan untuk sebagai Insan yang memiliki akal dan nurani mengingkari dan menolak Kebenaran. Hati yang tulus dan jujur akan membimbing kita untuk tak akan pernah berbohong dan memutarbalikkan fakta, sekalipun kita tak mampu melihat.

Tak pernah dalam sejarah manusia selama berabad-abad ini, ada seseorang yang cuma karena kehilangan indra penglihatannya menjadikan dia berperilaku diluar batas kemanusiaan. Namun, sejak beratus tahun lalu kita membaca sejarah, betapa banyak manusia yang demi memuaskan hawa nafsunya bertindak diluar batas kemanusiaan, baik secara perorangan maupun kelompok.

Kebutaan yang Membawa Petaka

Jaman super teknologi kini, dimana semua tak bisa luput dari catatan dan pemantauan, atau ada rekam jejak dan jejak digitalnya, tak mampu mengubah mereka yang memang di hatinya telah mengendap penyakit sehingga selalu memandang bias pada siapapun yang diluar kelompoknya. Inilah Kebutaan yang lebih parah, karena secara indrawi mereka sempurna, tetapi hati dan akal mereka telah tertutup oleh Kebencian akut.

Dalam masalah apapun, tak terkecuali dalam persoalan Kebangsaan, mereka dalam kelompok buta hati ini tak akan pernah mampu, -untuk tak disebut sebagai tak mau-, memberikan Solusi, apalagi jika solusi itu tak memberikan keuntungan secara finansial atau mengangkat nama mereka.

وَمَنْ كَانَ فِيْ هٰذِهٖٓ اَعْمٰى فَهُوَ فِى الْاٰخِرَةِ اَعْمٰى وَاَضَلُّ سَبِيْلًا

Dan barang siapa buta (hatinya) di dunia ini, maka di akhirat dia akan buta dan tersesat jauh dari jalan (yang benar).
(Q.S.Al-Israa, ayat 72).

Sebenarnya tak mampu memberikan solusi bukan sebuah aib, tapi mereka, alih-alih memberikan solusi, mereka malah tidak suka jika ada seseorang diluar kelompoknya mampu menawarkan solusi.
Kalau mereka sekedar mementahkan solusi orang lain, itu masih fair, yang dilakukan mereka adalah memfitnah, membuat citra jelek, mem-bully, membuat opini sesat dan pembunuhan karakter.

Jangankan memfitnah orang, memfitnah Sekolah, Pesantren, Lembaga Amal, bahkan Rumah Ibadah, Ritual Keagamaan seperti Adzan dan kini tuntutan pembubaran Majelis Ulama Indonesia, hal ini sudah menjadi sarapan keseharian mereka. Tentu mereka tidak sendirian dan tanpa koordinasi, sekalipun jumlah mereka tidak banyak, tapi bagai suara koor, serempak, senada dan berbarengan.

Tidak pernah dalam sejarah Republik ini ada sekelompok orang berani menuntut Pembubaran MUI, apatah lagi tuntutan itu semata atas dasar seorang Pengurus MUI dianggap melakukan kesalahan, sesuatu yang masih jauh panggang dari api untuk ditengarai sebagai terbukti.

Tuntutan Pembubaran MUI adalah sesuatu yang amat sangat serius, untuk tidak disebut sebagai sembrono dan gegabah. Majelis Ulama adalah Institusi Resmi dan Terhormat, dimana Para Pembantu Presiden sering diutus untuk menanyakan sesuatu, bahkan Mentri Agama tak akan pernah berani memutuskan Awal Ramadhan, Idul Fitri dan Qurban terkecuali setelah duduk bersama dengan MUI dan Perwakilan Ormas Islam.

Polri dan Menteri Agama seharusnya tidak boleh diam, ini sesuatu yang sensitif, mungkin tuntutan pembubaran MUI bukan sebuah Delik, tetapi yang bukan Delik pun bukan tak mampu menimbulkan rasa terluka dan sakit hati, ini preseden buruk terhadap Institusi Keagamaan, dan para Ulama dan Kyai.

Inilah ciri khas dan utama mereka yang disinggung di atas, mereka tidak sedang memberikan solusi, bahkan masalahnya pun pasti mereka tidak mengerti, cuma satu hal yang mereka fahami, inilah peluang untuk menghabisi lawan.

Hati dan kepala mereka tak pernah terisi sebuah niat bagi kemaslahatan Bangsa dan Negara, karena bagi mereka Negeri ini cuma nampak sebagai pundi uang, yang harus dirampas dan dimiliki, untuk itu tidak ada tempat bagi mereka yang berjuang untuk dan bagimu Negeri.

Kalau sekedar perbedaan tersebut dalam tataran hal yang diperkenankan oleh konstitusi, tentu tidak masalah dan itu bagian dari dinamika Demokrasi. Apa yang kita khawatir dan itu amat sangat mungkin, mencaci Ulama dan Kyai serta MUI itu cuma sebuah tujuan antara, tujuan akhir mereka adalah menghabisi Islam (baca: Agama).

Kita tak melulu bicara tentang Islam, seluruh Agama yang diakui Negeri ini, karena bukankah Ketuhanan Yang Maha Esa adalah Sila Pertama yang menjiwai Empat Sila yang lain.

Lalu bagaimana mungkin jika Pendidikan tak lagi disandarkan pada pembentukan siswa yang taqwa?
Bagaimana pula jika hubungan lelaki dan perempuan yang diikat dalam sebuah Pernikahan baru sah jika sesuai Hukum Agama, dan kini bahkan hubungan tersebut cukup asal mengikuti kaidah suka sama suka?

Dan kini bahkan Lembaga Pengawal dan Penjaga Agama tersebut dituntut dibubarkan! Siapakah mereka jika bukan golongan anti-Agama??!

Siapapun boleh diam, karena seperti bicara, ia adalah Hak, tetapi semua punya konsekuensi.
Maka kami memilih bicara, karena diam ketika kebathilan bicara , hanya akan membuat Kebenaran seolah terkubur dan mereka terus menghidupkan kebathilan!

خَتَمَ اللّٰهُ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ وَعَلٰى سَمْعِهِمْ ۗ وَعَلٰٓى اَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَّلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ

Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup, dan mereka akan mendapat azab yang berat.
(Q.S.Al-Baqarah, ayat 7)

(*)

Editor: Reza Maulana Hikam

Artikel ini telah dibaca 115 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Tentang Suara

4 Desember 2021 - 12:24 WIB

Teladan Bagi Wanita Muslimah

30 November 2021 - 13:00 WIB

In Memoriam: Bens Leo, Wartawan Berpembawaan Tenang dengan Wajah Selalu Berhias Senyum

30 November 2021 - 11:18 WIB

Pada Sekerat Daging Ada Kezaliman yang Tak Termaafkan

29 November 2021 - 12:21 WIB

Keakraban yang Hilang

26 November 2021 - 09:26 WIB

Guru

25 November 2021 - 14:26 WIB

Trending di kempalanda