Identitas global ini bisa menggerus identitas lokal jika tidak dilakukan preservasi atau penguatan untuk mencegah erosi akibat budaya global. Dialog budaya global dengan budaya lokal itu melahirkan benturan peradaban yang bisa membuat seseorang kehilangan identitas budaya. manusia global bisa menjadi manusia yang keblinger karena kemudian melupakan identitas lokal yang menjadi ciri khasnya.
Beberapa tulisan Tofan menunjukkan kekuatan identitas lokal, sebagaimana diungkapkan oleh Castells dalam dwilogi ‘’The Power of Identity’’ (1997). Budaya global melahirkan masyarakat berjaringan yang bisa merusak jaringan tradisional yang menjadi kekuatan masyarakat tradisional. Budaya lokal yang tumbuh dalam masyarakat tradisional yang patembayan berangsur-angsur terkikis. Nilai-nilai agama pelan-pelan terkikis oleh budaya global, nilai-nilai tradisional, seperti penghormatan kepada orang tua, juga pelan-pelan ikut tergerus oleh budaya global.
Di sinilah pentingnya identitas budaya lokal. Salah satu sumber kekuatan identitas budaya muncul dari agama. Di Indonesia, Islam menjadi agama mayoritas yang melahirkan identitas religius sekaligus identitas lokal yang kuat. Penghormatan kepada orang tua menjadi salah satu ajaran sentral dalam Islam. Penghormatan kepada orang tua akan menjadi perekat nilai-nilai keluarga. Ketika nilai-nilai keluarga sebagai unit terkecil masyarakat terjaga, maka unit yang lebih besar dalam masyarakat juga akan terjaga identitasnya.
Salah satu episode dalam buku ‘’Pena di Atas Langit’’ menyajikan tulisan Tofan yang sangat menyentuh mengenai perjalanan hidup dari seorang anak singkong sampai menjadi manusia mondial. Dalam tulisan itu tergambar kedekatan Tofan dengan almarhumah ibunya. Tofan melihat sang ibu bukan sekadar sebagai motivator tapi sekaligus punden atau jimat.
Fetisisme, atau penjimatan terhadap ibu yang dilakukan Tofan merupakan bagian dari kekuatan identitasnya, yang lahir dari pendidikan tradisional dan pendidikan agama. Nilai-nilai tradisional ini menjadi kekuatan bagi Tofan sehingga dia tidak keblinger ketika berhadapan dengan budaya global.
Nilai-nilai tradisional yang menjadi sumber ‘’power of identity’’ bagi Tofan dia pertahankan dan bahkan dia wariskan kepada anak-anaknya. Beberapa tulisan dalam kumpulan buku ini menunjukkan bagaimana Tofan, dengan caranya sendiri, mendidik anak-anaknya untuk tetap mempertahankan identitas lokal untuk memperkuat ‘’the power of identity’’.
Dimensi ketiga yang bisa dilihat dari Tofan Mahdi dari kumpulan tulisan ini adalah dimensi nasionalisme-nya yang sangat menonjol. Keterlibatannya dalam industri sawit membuatnya tumbuh menjadi seorang nasionalis yang sangat mencintai negaranya.
Ia tumbuh dalam pengaruh budaya nasionalis dalam keluarganya. Semasa kuliah dia ‘’tersesat’’ dalam memilih organisasi kemahasiswaan, sehingga kemudia bergabung dengan HMI (Himpunan Mahsiswa Islam). Tofan mengakui bahwa dia tersesat ke jalan yang benar.
Interaksi Tofan dengan HMI memperluas identitas budaya sosial dan politiknya. Sebagai aktifis HMI Tofan punya identitas Islam yang kuat. Tapi, lebih dari segalanya Tofan adalah seorang nasionalis. Ketika bisnis sawit nasional diusik oleh kekuatan kapitalisme global Tofan membela dengan sepenuh hati. Identitas agama dan identitas nasionalismenya yang kental, membuatnya berani menghadapi tantangan glonal itu dengan gagah.

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi