Minggu, 5 Juli 2026, pukul : 14:37 WIB
Surabaya
--°C

Mr. Y dan Mafia Sepak Bola Indonesia

Para pemain di papan atas masih tetap ongkang-ongkang belum tersentuh. Di Jawa Timur sempat ada dua pemain papan atas yang dilaporkan ke satgas anti-mafia. Dua orang itu sudah seperti ‘’brother in arms’’ dalam sepak bola Indonesia. Keduanya saling bahu-membahu sebagai operator papan atas.

Dua orang itu diduga menerima sejumlah uang tidak halal untuk pengaturan sebuah turnamen. Ada bukti transfer kepada rekening dua orang itu. Seperti sebuah tendangan penalti dalam pertandingan sepak bola, publik menunggu eksekusi dengan penuh antusias.

Ternyata eksekusi mengecewakan. Tendangan penalti melambung tinggi di atas mistar gawang. Tidak ada eksekusi, laporan mandeg tidak berlanjut. Suporter sepak bola di Geloran 10 Nopember Tambaksari pasti sudah berteriak-teriak, ‘’Maling…maling…’’.

Seorang operator judi bola muncul membuat pengakuan dosa. Dia berani tampil di televisi nasional dan membongkar praktik mafia judi internasional, yang melibatkan banyak pihak di Indonesia. Dia disebut-sebut sebagai salah satu ‘’runner’’ paling aktif di Indonesia. Dia berani pasang badan, tapi sampai sekarang tidak pernah ada upaya serius untuk menindaklanjuti kasusnya.

Seorang petinggi PSSI di masa lalu sudah pernah tampil di televisi nasional, dan sudah hampir mau buka-bukaan soal atur skor internasional yang melibatkan timnas PSSI dengan tim negeri jiran Malaysia. Dalam sebuah turnamen, pemain-pemain Indonesia dicurigai menerima suap dan sengaja mengalah kepada Malaysia.

Para pemain itu berbicara secara terbuka kepada media mengenai kemungkinan adanya mafia pengatur skor. Tapi mereka menyanggah terlibat di dalamnya. Sang petinggi PSSI itu juga mengakui kemungkinan adanya mafia pengatur skor. Dia hampir siap membongkar jaringan itu, kendati risikonya dia juga sangat mungkin terlibat di dalamnya.

Semuanya menguap begitu saja tanpa bekas. Sang petinggi tidak mungkin lagi bisa memberi testimoni di dunia. Dia sudah pergi, dan mungkin akan memberi testimoni di akhirat di depan pengadilan Ilahi.

Sebagaimana dalam serial ‘’The Godfather’’, jaringan mafia itu begitu rapi dan terorganisasi dengan baik. Pada lapis tertinggi ada ‘’Don Corleone’’ sebagai supremo, sang pemimpin tertinggi. Sang supremo tidak perlu punya jabatan resmi dalam struktur organisasi, tapi dia mengoperasikan organisasi bayangan yang sangat powerful.

Ketua organisasi boleh berganti siapa saja. Tetapi para operator kelas atas tetap menguasai struktur organisasi. Mereka layaknya ‘’The Untouchables’’ orang-orang yang tidak tersentuh dalam sebuah jaringan rahasia.

Dalam tradisi mafia, nama Don Corleone tidak pernah boleh disebut dalam percakapan, cukup dengan isyarat tertentu seperti menyentuh telinga. Sang supremo benar-benar tokoh yang misterius dan enigmatik.

Dalam kisah ‘’The Untouchables’’ Eliot Ness akhirnya bisa membongkar jaringan mafia besar di Chicago yang dipimpin oleh Al Capone. Keberanian dan kegigihan Eliot Ness akhirnya bisa menyentuh Al Capone dan menyeretnya ke pengadilan.

Sejarah mengajarkan bahwa cepat atau lambat jaringan mafia sehebat apapun pasti akan terbongkar. Tidak ada yang menyangka seorang Eliot Ness bisa meringkus Al Capone yang digdaya. Hal yang sama bisa terjadi dimana saja, kejahatan terorganisasi sehebat apa pun akan keropos dari dalam dan akan terbongkar kedoknya.

Di Indonesia jaringan mafia itu tidak terlihat nyata, tetapi ada. Mungkin juga tidak sebesar Al Capone atau Don Corleone, tetapi jaringannya sama-sama rapat dan rapi jali. Sulit menembus jaringan itu karena antar-jaringan saling membantu dan saling melindungi.

Jargon para mafia sepak bola Indonesia masih tetap berlaku sampai sekarang, ‘’tali rafia tali sepatu, sesama mafia harus bersatu’’. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.