KEMPALAN: Sama dengan pers di seluruh dunia, pers Indonesia menghadapi disrupsi besar dalam sepuluh tahun terakhir yang bakal mengubah wajah pers selama-lamanya. Sejak koran mulai berkembang di Amerika dan Eropa di awal abad ke-19 baru kali ini menghadapi tantangan paling serius yang menghadapkan pers pada dua pilihan eksistensi atau ekstinksi, tetap bertahan atau punah.
Koran pernah menghadapi berbagai tantangan serius selama dua abad perjalanannya, dan selama itu pula bisa survive dan terus berkembang. Ketika radio transistor ditemukan, banyak ahli yang memperkirakan koran akan mati karena orang akan lebih suka mendengar daripada membaca. Ternyata salah. Koran tetap berkembang dan jurnalisme radio juga berkembang.
Ketika televisi diperkenalkan, kembali nasib koran dipertanyakan. Televisi dianggap ancaman yang bakal mematikan koran karena paduan gambar dan suara itu begitu kuat menghipnotis khalayaknya. Tapi, ternyata koran mempunyai kekuatan adaptasi yang lentur. Banyak inovasi diterapkan dalam industri koran untuk mengantisipasi televisi. Tampilan koran yang asalnya hitam putih yang membosankan berubah total menjadi penuh warna-warni. Bahkan koran juga mengadopsi tata letak baru disesuaikan dengan format televisi yang horizontal. Gaya layout koran dengan kolom-kolom vertikal diubah menjadi horizontal menyesuaikan mata pembaca yang lebih nyaman dan terbiasa menyaksikan televisi yang horizontal.
Teknologi internet ditemukan pada 1969 dan kemudian berkembang untuk dipakai oleh umum pada 1999 dengan ditemukannya jaringan w.w.w (world wide web) yang menyambungkan manusia di seluruh dunia. Sejak itu ancaman terhadap eksistensi suratkabar semakin serius. Industri media cetak cetak tidak akan berumur panjang. Industri media radio dan televisi ikut terancam tapi tidak seserius media cetak.
Krisis moneter yang terjadi pada 1998 membuat industri suratkabar makin terdesak. Harga-harga bahan baku kertas dan tinta naik drastis, sementara penghasilan dari iklan anjlok karena pasar menderita resesi.
Surat kabar melakukan penyesuaian dengan mengurangi jumlah halaman dan memperkecil format. Pada saat bersamaan di Indonesia terjadi pergantian rezim dari Orde Baru yang otoriter ke Orde Reformasi yang bebas. Pers yang semula terkekang seperti lepas kendali karena tidak diperlukan lagi izin terbit dari pemerintah. Ribuan media baru bermunculan. Tak peduli, atau tak menyadari, nyawa mereka terancam dari banyak penjuru. Dari penjuru ekonomi pasar makin sesak dan dari sisi teknologi kemunculan teknologi informasi membuat pola konsumsi terhadap barang, jasa, dan informasi berubah total.
Seperti sel kanker yang sudah merata dan tinggal menunggu pemicu untuk meledak menggerogoti sekujur tubuh, pers Indonesia tidak menyadari bahwa pada awal 2000 kondisi mereka seperti sedang menderita kanker stadium empat. Dalam tempo lima tahun musim rontok dimulai. Media-media, yang lahir tergesa-gesa tanpa manajemen yang profesional dan tak ada dukungan modal yang memadai, tumbang satu-persatu. Sepuluh tahun setelah euforia reformasi malaikat pencabut nyawa itu datang. Satu persatu media cetak tumbang, hukum survival of the fittest berlaku, hanya yang kuat yang bertahan. Ribuan media baru tumbang, hanya satu dua bertahan. Media-media lama yang lahir di masa Orde Baru tetap bertahan karena sudah berpengalaman.

Sementara itu, di Silicon Valley, 2010, Steve Jobs melaunching Iphone generasi pertama dan mengatakan bahwa revolusi baru telah lahir. Dunia akan berada di telapak tangan setiap orang, dan setiap orang bisa mengoperasikan dunia melalui ujung jari. Revolusi Iphone dan Android seperti peti mati dan paku yang menyegel nasib media.
Pola konsumsi orang terhadap barang, jasa, dan berita berubah drastis. Produsen dan pembeli tidak perlu lagi bertemu di pasar atau toko fisik. Mereka cukup bertemu di marketplace virtual. Rantai distribusi yang panjang, berbelit-belit, dan mahal dipangkas. Konsumen bisa langsung bertransaksi dengan produsen dengan harga yang jauh lebih efisien karena tidak perlu melewati intermediaries, perantara, yang membebani konsumen dengan biaya tambahan.
Harga bisa ditekan semurah mungkin. Konsumen punya pilihan seluas dan sebebas mungkin. Anda ingin makan apa saja tinggal meletakkan ujung jari di layar sentuh, dalam sedetik ribuan menu makanan pun tersaji. Tidak perlu ada restoran, tidak perlu ada plaza, tidak perlu ada hotel berbintang dan berjaringan internasional. Anda bisa menginap di rumah seseorang dan mendapat pelayanan personal yang ramah, akrab, dan nyaman. Anda bisa mendapatkan layanan makanan menu rumahan kegemaran Anda, dan Anda bisa diantar setiap saat kemanapun dan dijemput setiap saat dimanapun.
Inilah era the great disruption, disrupsi besar revolusi digital. Perusahaan transportasi terbesar di dunia tidak perlu punya armada satu kendaraan pun. Perusahaan akomodasi dengan jaringan terluas di dunia tidak punya satu hotelpun. Perusahaan kuliner terlengkap tidak perlu punya restoran satu pun.
Pola konsumsi terhadap informasi pun berubah drastis. Tidak perlu menunggu koran sampai besok pagi. Tidak perlu nongkrong di depan televisi untuk mendapatkan breaking news atau menonton film terbaru. Semua ada di ujung jari. Berita mengalir bergelombang seperti tsunami setiap detik gratis tanpa bayar. Tidak semua informasi kita perlukan. Hoaks dan fake news membanjir setiap hari kita konsumsi tanpa sepenuhnya kita sadari.
Korban tsunami informasi berjatuhan. Koran-koran konvensional yang berpuluh tahun atau bahkan beratus tahun mapan tenggelam satu persatu. Para jurnalis berhamburan meninggalkan rumah yang hanyut dan tenggelam. Ramai-ramai mengungsi berimegrasi ke ranah digital. Banyak yang tergagap-gagap di ranah baru digital karena mereka memang bukan digital native, pribumi digital, mereka adalah digital imigrant yang tidak semuanya bisa bertahan.
Juragan baru di platform rumah digital adalah anak-anak generasi milineal. Orang-orang lama generasi kolonial harus beradaptasi menyesuaikan diri dengan atmosfer baru. Sebuah proses yang banyak berakhir dengan kegagalan.
Dua puluh tahun yang lalu euforia reformasi melahirkan ribuan media cetak yang ternyata kemudian berumur pendek. Sekarang, dua dasawarsa berselang, euforia digital melahirkan fenomena yang sama dengan lahirnya ribuan media digital yang dikelola serabutan dan amatiran. Sebuah organisasi media digital bisa beranggotakan sampai 1.500 media. Ribuan lainnya tidak terdaftar dengan resmi tapi beroperasi dengan bebas.
Duapuluh tahun yang lalu masyarakat mengeluhkan turunnya kualitas jurnalisme pasca reformasi, sekarang kualitas jurnalisme bisa lebih merosot lagi karena media digital bisa berdiri nyaris tanpa biaya apapun. Sewa domain satu atau dua juta rupiah dan cukup satu orang merangkap semua jabatan, mulai dari founder, owner, pemimpin redaksi, reporter di lapangan, sampai pencari iklan dan sekalian penagihannya.
Media-media cetak mainstream yang mengungsi ke ranah digital menghadapi problem utama pendapatan iklan. Pemasang iklan tradisional dan konvensional, yang dulu jadi tulang punggung revenue media cetak, sudah pada lari ke media sosial yang bisa melayani iklan dengan sangat murah dan malah gratis, tapi jauh lebih efektif karena tepat sasaran.
Media digital yang mencoba mengejar kembali para pemasang iklan tradisional yang lari itu seolah-olah mengejar bayangan yang sulit ditangkap. Jagat digital sudah dikuasai oleh para raksasa yang menguasai berita dan iklan sekaligus. Media-media digital baru bukan hanya bersaing di antara mereka sendiri, tapi menghadapi pesaing raksasa dalam bentuk news aggregator yang dengan rakus menyedot berita apa saja tanpa peduli punya siapa.
Era imperialisme dan kolonialisme masa lalu terulang kembali dalam bentuk imperialisme dan kolonialisme digital. Raksasa Google menjadi news aggregator yang bisa menyediakan berita melimpah ruah secara gratis. Raksasa Facebook menguasai media sosial dengan pengguna 2,7 miliar manusia seluruh dunia. Raksasa lainnya adalah Amazon yang menguasai lalulintas perdagangan online-digital. Tiga serangkai itu adalah raksasa yang dijuluki “The Unholly Trinity” trinitas yang tidak suci, yang menjadi tokoh utama penjajahan digital yang menjadikan media tidak berdaya.
Google beroperasi sebagai news aggregator yang bisa mengambil berita dari media digital manapun tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Media digital sebagai publisher dan produsen berita hanya bisa gigit jari tidak bisa berbuat banyak karena mereka butuh jasa Google untuk menyebarkan berita.
Para publiser menghadapi dilema buah simalakama antara idealisme jurnalistik dan pragmatisme clickbyte. Di masa lalu oplah dan rating menjadi tuhan, sekarang clickbyte dan algoritma menjadi tuhan baru. Setiap kali mengunggah berita yang ada di otak jurnalis adalah clickbyte, algoritma, dan tetek bengek yang berkaitan dengan search engine optimization, SEO, yang dikangkangi Google.
Media sebagai publisher dan produsen berita harus memilih antara “editorial-based orientation” yang mengedepankan kualitas jurnalisme melawan “click-based orientation” yang menuhankan SEO. Pada akhirnya lebih banyak yang jatuh pragmatisme dan memilih clickbyte. Maka berita-berita BH melorot dan sejenisnya berseliweran setiap detik demi mengejar clickbyte.
Di sisi lain, Facebook membunuh pendapatan iklan karena Facebook bukan sekadar media sosial tapi sudah menjadi sarana paling murah dan efektif untuk beriklan karena bisa langsung masuk ke target market secara personal dengan biaya murah. Lalu ada Amazon menguasai perdagangan online dan memberikan yang mempertemukan produsen dengan konsumen secara langsung sehingga tak perlu lagi ada perantara.
Raksasa trinitas tidak suci itu mengepung dan menenggelamkan media digital mainstream maupun media digital independen yang kecil yang kembang kempis membiayai operasional redaksi. Tidak ada yang bisa menahan tiga raksasa itu. Kekuatan negara pun seperti sia-sia menghadapi mereka.
The Unholly Trinity adalah peti mati bagi media. Dan sekarang muncul pandemi Covid 19 yang seolah-olah menjadi kuburan yang menganga setiap saat. Media tidak punya harapan menghadapi imperialisme dan kapitalisme digital yang kejam dan serakah, dan sekarang siap-siap masuk kuburan akibat pandemi global ini.
Akankah jurnalisme menemui ajalnya? Akankah media yang menjadi pilar keempat demokrasi mati terkubur.
Para ahli menghibur diri dengan mengatakan bahwa media boleh mati tapi jurnalisme akan tetap hidup.
Tapi untuk bisa hidup sehat dan bisa menjalankan fungsinya dengan baik jurnalisme tetap membutuhkan biaya besar. Tanpa biaya yang cukup jurnalisme tidak akan bisa memaksimalkan fungsinya.
Pilihannya adalah mengedukasi publik agar sadar akan pentingnya media yang kuat untuk mendukung demokrasi yang sehat yang membawa kualitas hidup yang baik. Publik yang sadar ini kemudian diharapkan mau menyisihkan uang untuk berlangganan. Kedua, pemerintah yang mempunyai kekuatan koersif harus membuat regulasi yang memaksa para raksasa digital itu untuk memberi kompensasi pembayaran kepada media penerbit yang mereka sedot beritanya gratisan tiap detik.
Ketiga, mau tidak mau, media harus mengandalkan diri pada belas kasihan para raksasa The Unholly Trinity itu. Mereka raksasa yang super-kuat, bahkan negara pun tidak serta merta bisa memaksa mereka. Hanya kalau para raksasa digital itu mau berbaik hati, memberi sedekah kepada publisher produsen berita, masa depan media masih bisa punya harapan. (*)

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi