Seiring berjalannya waktu para celeng menjadi warga elite yang banyak mendapatkan privilese dan keistimewaan dibanding binatang lainnya. Para celeng mendapatkan jatah lebih banyak dan lebih baik dalam pembagian susu dan apel. Bahkan, makanan dan minuman itu akhirnya hanya boleh dikonsumsi para celeng.
Para elite celeng berdalih bahwa keistimewaan itu dilakukan untuk menjaga kesehatan para celeng, karena merekalah yang selama ini bekerja keras mengerahkan pikiran mengelola manajemen dan organisasi peternakan. Para warga binatang tak berani mendebat, karena secara para celeng sangat jago berdebat dan sangat canggih membully siapa saja yang berani melawan.
Napoleon makin mabuk kekuasaan semakin bertindak otoriter. Warga binatang semakin dieksploitasi seperti budak, padahal jatah makanan semakin berkurang. Kekecewaan warga binatang semakin tinggi, tetapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena Napoleon tidak segan-segan memenjarakan dan bahkan membunuh.
Prinsip dalam Sapta Sila sudah banyak yang dilanggar. Larangan untuk membunuh sudah sangat sering dilanggar. Salah satunya terjadi pertumpahan darah sesama binatang. Para binatang yang bersekongkol dengan Snowball atau yang melakukan protes dibantai habis.
Warga binatang yang melihat pembantaian dan kekejaman itu tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka tidak tahu mana yang lebih mengejutkan, penghianatan dari binatang-binatang yang telah bersekongkol dengan Snowball atau hukuman kejam yang baru mereka saksikan. Pada masa lalu mereka sering melihat adegan pertumpahan darah yang juga mengerikan, tetapi bagi mereka semua kelihatannya yang sekarang terjadi di antara mereka sendiri jauh lebih buruk.
Pak Tua Jones memang otoriter, tapi apa yang dilakukan oleh Napoleon ternyata lebih buruk dari yang dilakukan Pak Tua. Napoleon yang mabuk kekuasaan semakin bertindak otoriter. Dia sangat terobsesi membangun proyek-proyek infrastruktur yang megah meskipun sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan oleh warga. Proyek-proyek mercusuar ini membuat warga binatang menderita.
Salah satunya adalah proyek kincir angina raksasa yang sangat dibanggakan oleh Napoleon. Proyek kincir angin telah membuat para binatang bekerja seperti budak, sementara kesejahteraan semakin merosot.
Kehidupan yang mewah dan penuh kenyamanan mulai memabukkan Napoleon dan para celeng kameradnya. Para celeng sudah berubah menjadi warga negara elite, kesenjangan kesejahteraan semakin melebar. Napoleon sudah mengingkari janji mereka akan kesetaraan semua binatang.
Para celeng tidur di kasur, minum susu, dan makan telur dengan kedok sebagai kompensasi atas pekerjaan pimpinan yang sangat berat. Padahal, pada awal pemberontakan mereka menolak gaya hidup seperti manusia yang hedonis dan penuh kemunafikan dan penuh ekspolitasi terhadap warga binatang.
Para warga binatang bekerja siang malam untuk kenikmatan golongan celeng. Mereka dijejali dengan propaganda akan perjuangan bersama dan rasa saling mengisi. Mereka sampai lupa bahwa kesengsaraan mereka saat ini tidak jauh berbeda dari sebelum revolusi terjadi. Tapi mereka diyakinkan oleh pemimpin celeng bahwa inilah kebebasan yang telah mereka perjuangkan, dan kehidupan ini adalah yang terbaik yang pernah mereka miliki.
Para celeng mengendalikan Republik Celeng layaknya manusia yang sebelumnya menjajah para binatang. Cara-cara yang dilakukan Pak Tua Jones diterapkan oleh Napoleon dengan lebih canggih. Orde Napoleon yang awalnya disebut sebagai orde revolusi ternyata berubah menjadi neo-orde Pak Tua Jones.
Tingkah para elite celeng tidak ada bedanya dengan manusia. Para celeng mengenakan mantel dan celana kulit ketat. Berjalan dengan dua kaki berkeliling melihat pekerjaan yang ada di peternakan selayaknya mandor. Dan tak aneh lagi jika Napoleon berjalan-jalan di kebun dengan sebatang pipa di mulutnya, dan para celeng bersantai di rumah yang nyaman dengan gelas-gelas dipenuhi alkohol.
Para warga binatang terkejut ketika suatu pagi pengumuman Tujuh Sila ditembok dihapus, dan diganti dengan Eka Sila, ‘’‘’Semua binatang setara, tetapi beberapa binatang lebih setara dibanding lainnya’’. (*)
(Kisah ini diadaptasi dari novel ‘’Animal Farm’’ oleh George Orwell, terbit pertama pada 1945)
Editor: Reza Maulana Hikam

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi