Selasa, 12 Mei 2026, pukul : 21:50 WIB
Surabaya
--°C

Kontingen Rame-rame Berburu Dompet Kulit Buaya Khas Merauke

Dompet Kulit Buaya Khas Merauke

MERAUKE-KEMPALAN : Cabang olahraga gulat yang diselenggarakan di GOR Futsal Komplek Dispora, Jalan Prajurit, Merauke Kamis (15/10)malam, menjadi penutup pertandingan PON XX Papua 2021 di Klaster Merauke. Hal itu sekaligus menutup pagelaran pesta olahraga terbesar di tanah air.

Disisa waktu menjelang meninggalkan tanah papua khususnya Merauke ini, para anggota kontingen berkesempatan berburu oleh-oleh khas Merauke. Meski tak bervariasi seperti kabupaten lain di Papua, oleh-oleh Merauke cukup menarik. Ada makanan olahan dari daging rusa, terasi, ikan kakap asin, ikan gastor asin. Sarang semut hingga tas, dompet berbahan kulit buaya.

Yang paling menarik perhatian wisatawan tidak lain adalah kerajinan dari kulit buaya. Tidak terhitung lagi berapa pengusaha yang menjadi pengerajin kulit buaya tersebut. Berbekal informasi warga di sekitar tempat kontingen menginap, mereka kemudian tergiur untuk mendatangi salah satu tempat perajin di kawasan Jalan Sringgu kota Merauke.

Untuk mencapai tempat tersebut, sejatinya tidak begitu jauh dari beberapa venue. Lokasinyapun tidak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Merauke.

Produk Kerajinan dompet kulit buaya produksi Suwarno (kempalan)

Suwarno salah satu pengrajin kerajinan kulit Buaya mengaku adanya PON di Papua khususnya di Merauke ini omsetnya naik hingga 200 persen. Kalau biasanya dalam sehari hanya laku 15-20 biji tapi, selama ada PON XX Papua sehari bisa memproduksi atau menjual 100-150 dompet atau tas.

Harga kerajinan di Suwarno diklaim paling murah dibanding pengerajin lain di sekitar Jalan Sringgu. Yang paling mahal adalah tas ransel yang 60 persen bahan baku terbuat dari kulit buaya dengan variasi kulit kanguru atau sapi. Harganya mencapai Rp 4,5-9,5 juta.

Untuk dompet ada dua macam bahan baku. Selain buaya, Warno juga tak jarang terima pesanan dompet kulit kaki kasuari. Yang paling murah, Warno membanderol dompet dengan harga Rp 250 ribu hingga Rp 800 ribu. Untuk kulit kaki kasuari lebih mahal. “Paling murah Rp 300 ribu,” kata Warno.

Warga kelahiran cilacap Jawa Tengah itu terbilang cukup ramah hingga membuat tamu nyaman ada di rumahnya. Tidak hanya belasan dompet contoh yang dikeluarkan, Warno bahkan sampai menunjukkan ratusan dompet berbagai macam bentuk dan motif “Tak tokno kabeh supoyo iso milih (Saya keluarkan semua supaya para calon pembeli bisa memilih” jelas Warno.

Para anggota kontingeb dari berbagai provinsi termasuk saya pun akhirnya tergiur untuk membeli beberapa jenis dompet untuk sekadar buah tangan ke Pulau Jawa atau ke daerah asalnya.(Ambari Taufiq)

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.