Menu

Mode Gelap

Kempalpagi · 13 Okt 2021 08:49 WIB ·

Pinjol


					Ilustrasi E-Commerce. (Pixabay) Perbesar

Ilustrasi E-Commerce. (Pixabay)

KEMPALAN: Zaman digital, zaman serba online, apa saja bisa diperoleh dan dilakukan melalui aktifitas online. Berbagai pekerjaan dan profesi beroperasi melalui online, mulai dari kegiatan halal seperti order makanan, sampai kegiatan haram, seperti perdagangan manusia sampai prostitusi online.

Belakangan ini yang lagi viral adalah munculnya lintah darat digital, yang disebut sebagai fintech lending digital, atau lebih dikenal sebagai ‘’pinjol’’ alias pinjaman online. Korbannya sudah sangat meluas di kalangan masyarakat, sampai Presiden Jokowi menyinggungnya di depan para pejabat OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Lintah darat beroperasi di desa-desa, menawarkan pinjaman tanpa prosedur administratif yang berbelit-belit dan tanpa perlu agunan. Tapi, dalam praktiknya kemudian utang membengkak karena bunganya bisa berlipat puluhan kali. Si pengutang akan berakhir makin bangkrut dan harta yang tersisa akan disita oleh si lintah darat.

Lintah adalah hewan air yang kerjanya mengisap darah. Lintah darat mengisap darah rakyat yang mengalami kesulitan ekonomi dan tidak punya akses untuk berutang ke lembaga keuangan resmi. Lintah darat gaya lama sudah jarang beroperasi di desa. Sebagai gantinya, sekarang muncul lintah darat online, yang jauh lebih ganas dan sadis dibanding lintah darat tradisional.

Tidak ada catatan resmi berapa banyak masyarakat yang menjadi korban lintah darat online. Biasanya masyarakat malu melaporkan diri karena utang dianggap sebagai aib. Secara sosiologis masyarakat merasa malu kalau ketahuan punya utang, karena itu mereka merahasiakannya. Praktik itu terjadi sejak era lintah darat tradisional sampai era lintah darat digital sekarang ini.

Umumnya para korban itu baru terbuka kasusnya ketika kondisinya sudah amat parah. Seorang guru TK di Kota Malang meminjam kepada fintech lending uang sebesar Rp 1,8 juta. Dari transaksi itu sang guru hanya menerima Rp 1,2 juta dengan alasan dipotong untuk biaya administrasi.

Guru TK itu kepepet berutang karena butuh biaya untuk membayar kuliah S1. Tetapi, yang terjadi kemudian utangnya semakin hari semakin membengkak. Sang guru kaget bukan alang kepalang ketika mengetahui utangnya menggajah-bengkak menjadi Rp 40 juta.

Pinjol ilegal mempekerjakan debt collector digital yang tidak kalah sadis dan brutal dibanding dengan debt collector tradisional. Publik sudah banyak mendengar praktik kekerasan yang dilakukan para penagih utang konvensional. Mereka tidak segan-segan mendatangi rumah pengutang dan menyita paksa barang atau perabotan apa saja yang tersedia.

Insiden kekerasan sering terjadi ketika penagih utang, yang dipekerjakan perusahaan leasing, mencegat pengutang di tengah jalan dan merampas paksa sepeda motor yang dikendarai pengutang. Orang sudah mafhum bahwa perusahaan leasing membuat persyaratan yang sangat mudah bagi konsumen untuk mendapatkan kredit sepeda motor. Cukup menunjukkan selembar KTP dan uang administrasi Rp 500 ribu seseorang bisa membawa pulang sepeda motor kreditan.

Masalah akan muncul ketika terjadi penunggakan cicilan. Perusahaan leasing itu mempekerjakan para penagih utang, yang biasanya mempergunakan cara-cara preman dalam menjalankan tugasnya. Para penagih utang itu beroperasi dengan tampilan sangar dan mengintai korban di pinggir jalan.

Begitu korban muncul, sepeda motor akan langsung dirampas kalau tidak bisa membayar tunggakan pada saat itu juga. Insiden semacam ini sering berakhir dengan kekerasan ketika pemilik motor melawan. Masyarakat yang kesal terhadap penagih utang preman itu akhirnya membalas dengan melakukan pengeroyokan.

Penagih utang konvensional ini dianggap brutal dan kurang ajar. Praktik ini juga diterapkan oleh penagih utang digital yang dipekerjakan oleh perusahaan pinjol ilegal. Mereka mempekerjakan debt collector digital yang menagih dengan cara-cara teror. Para penagih utang digital ini menagih melalui pesan WA setiap detik. Bukan itu saja, penagih digital ini mengancam dan meneror dengan menyebarkan aib pengutang kepada sahabat, kolega, dan handai tolan.

Dalam kasus guru..

Artikel ini telah dibaca 41 kali

badge-check

Publisher

Baca Lainnya

Kidung Sukmawati

27 Oktober 2021 - 09:26 WIB

Superman LGBT

26 Oktober 2021 - 08:32 WIB

Akil Balig

25 Oktober 2021 - 08:31 WIB

Bill Gates dan Sukmawati

24 Oktober 2021 - 06:35 WIB

Kabinet Squid Game

23 Oktober 2021 - 07:59 WIB

Republik Celeng

22 Oktober 2021 - 07:54 WIB

Trending di Kempalpagi