Sabtu, 30 Mei 2026, pukul : 11:53 WIB
Surabaya
--°C

Hakikat Pembinaan Usia Muda, Sepak Bola Sekolah Kehidupan

Sebagai permainan tim,  sepak bola mensyaratkan pemainnya memiliki keterampilan individu yang baik  agar bisa bermain secara kolektif dalam timnya. Kemudian, bisa menghargai teman, lawan, perangkat pertandingan dan mau menerima hasil pertandingan dengan jiwa besar atau dalam bahasa olahraga yang universal disebut sebagai sportivitas. Sepak bola juga menuntut adanya disiplin, kerja keras dan pantang menyerah untuk mencapai prestasi yang diharapkan. Nilai-nilai kehidupan terkandung di dalamnya, sehingga tidaklah berlebihan jika sepak bola merupakan sekolah kehidupan.

Para pengurus dan pelatih, bahkan orang tua seringkali terjebak pada cara pandang yang keliru karena sepak bola usia muda tujuan utamanya pada persoalan menang dan juara. Pemahaman ini akhirnya berdampak buruk pada pola pembinaan pemain usia muda. Proses latihan mereka diperlakukan seperti pemain dewasa yang sudah bermain di kompetisi profesional dan mereka sudah harus menanggung beban untuk menang dan juara di setiap mengikuti turnamen. “Aku dibina dan dilatih di Akademi La Masia bukan untuk menang dan juara.

BACA JUGA  Gema Idul Adha 1447 H di As-Shobirin Sidoarjo: Meneladani Ululazmi, Merawat Kepedulian Melalui 22 Hewan Kurban
Dr. Imam Syafii (tengah)

Aku dibina dan dilatih untuk berkembang dan matang di setiap tahapan usiaku. Menang, kalah, seri dan juara adalah bonus permainan. Biarkan anak-anak berproses merasakan pahit manisnya pertandingan karena pertandingan itu sudah merupakan beban bagi mereka. Jangan bebani mereka harus menang dan juara” (Xavi Hernandez, pemain tim nasional Spanyol). Michel Sablon, sosok yang punya peran sentral pada revolusi sepak bola Belgia juga menyatakan Jika tujuan anda membina sepak bola usia muda hanya untuk memenangkan pertandingan, tolong berhenti saja jadi pelatih. Hentikan pembinaan, lalu pergi memancing.

Orentasi tujuan pembinaan yang salah  berakibat buruk pada upaya mencapai tujuan tersebut. Segala upaya ditempuh untuk mencapai kemenangan dan juara, termasuk pencurian umur. Modus yang lazim digunakan adalah dengan merubah dokumen pribadi anak-anak atau menggunakan dokumen orang lain yang lebih muda. Mereka tidak berfikir jika tindakan ini sudah jauh menyimpang  dari nilai-nilai yang terkandung dalam sepak bola. (*)

BACA JUGA  Persi Jatim Ajak Tenaga Kesehatan Berkreasi dalam Lomba Bola Voli Mix dan Vokal Group

Editor: Freddy Mutiara

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.