Hakikat Pembinaan Usia Muda, Sepak Bola Sekolah Kehidupan

waktu baca 4 menit
Pembinaan sepak bola usia dini. Foto: Kumparan.
Dr. Imam Syafii

Oleh: Dr. Imam Syafii, M.Kes (Universitas Negeri Surabaya)

KEMPALAN: Sepak bola masih menjadi olahraga paling diminati anak-anak. Ini ditandai dengan menjamurnya wadah pembinaan dan pertandingan usia muda baik  berskala regional, nasional mapun internasional. Kejuaraan kelompok usia hampir tidak pernah berhenti sepanjang tahun dan ini merupakan  potensi yang sangat luar biasa bagi pembangunan sepak bola Indonesia. Potensi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat harus dikelola secara terstruktur, terkordinasi dan terprogram dengan baik.  Sayangnya, saat ini wadah pembinaan usia muda seperti Sekolah Sepak Bola, Akademi atau sejenisnya masih bermodalan sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya masih banyak yang belum memenuhi standar. Filosofi dan visinya belum jelas, sehingga pembinaan yang dilakukan sebatas rutinitas menjalankan sebuah kegiatan.

Pembinaan sepak bola usia muda Indonesia  dengan beragam problematiknya perlu mendapat perhatian serius. Standardisasi menjadi kebutuhan mendesak agar proses pembinaan sejalan  dengan kerangka yang dicanangkan oleh federasi. Belajar dari pengalaman negara di kawasan Asia misalnya, seperti Jepang, Korea Selatan, Qatar dan sekarang Vietnam,  pembinaan usia muda benar-benar dijadikan pondasi untuk membangun  prestasi tim nasionalnya. Pembangunan prestasi, diawali dari tatakelola wadah pembinaan usia muda.

Dalam hal ini, Sekolah Sepak bola punya peran sangat  penting dalam mencetak pemain yang kelak dibutuhkan untuk mengangkat prestasi tim nasionalnya. Pertanyaan yang sering muncul dalam benak kita, kalau sebuah Sekolah Sepak bola atau Akademi membina 150 siswa, kira-kira berapa persen nantinya yang akan menjadi pemain profesional atau  nasional. Sebuah pertanyaan yang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk menjawabnya.
Perlu disadari bahwa tidak semua peserta didik yang dibina pada sebuah wadah pembinaan akan lahir sebagai pemain yng akan bermain di kompetisi  nasional. Kondisi ini bisa jadi karena didasari tujuan yang beragam ketika seorang anak memulai belajar sepak bolanya. Pengalaman penulis di lapangan, ternyata tidak semua orang tua menyertakan anaknya pada Sekolah Sepak bola untuk tujuan prestasi. Mereka ada yang sekadar agar anaknya mendapat tempat untuk kegiatan positif, rekreatif,  pola hidup sehat dan bisa bersosialisi dengan anak-anak sebayanya. Namun, tidak sedikit juga dari mereka yang memang dari awal sudah mencanangkan untuk tujuan prestasi karena melihat potensi dan minat anaknya cukup baik di sepak bola. “Biar anak-anak punya kegiatan yang terarah dulu, kalau nanti mereka berprestasi kami sangat bersyukur,” ungkap sebagian orang tua pada umumnya.

Next: Permainan tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *