Jumat, 17 April 2026, pukul : 22:30 WIB
Surabaya
--°C

Fasilitas Anggota DPR

KEMPALAN : Ini cerita lama tentang anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) yang banyak mendapat privilege, terutama pasca-reformasi.

Saya lupa, dulu pernah baca dimana. Mungkin di Jawa Pos, atau boleh jadi di Majalah Gapura yang dikelola Humas Pemkot Surabaya yang menyediakan dua halaman rubrik anekdot.

Mereka, anggota DPR itu –selanjutnya saya sebut Angota Dewan– dimanjakan oleh gaji gede, beberapa tunjangan, dan banyak fasilitas.

Era telah berubah. Politik kepartaian telah menjadi sumber kekuasaan yang salah satunya melahirkan Undang-Undang lewat para perwakilan partai di DPR.

Dalam konteks situasi yang melingkupi tugas-tugas Anggota Dewan sekitar 20 tahun lalu, adalah akan disediakannya alat penunjang yang lantas ramai dibicarakan. Akibatnya batal direalisasikan, yaitu komputer jinjing yang lazim disebut laptop.

Saat itu laptop masih menjadi barang luks yang langka, dan tentu saja mahal harganya.

Lantaran itu lantas muncul anekdot antara Anggota Dewan dan seorang costumer service (CS).

Anggota Dewan: “Mbak, kalau muter film di laptop, gimana caranya?”

CS: “Ada player-nya kan Pak?”

Anggota Dewan: “Sebelah mana tuh?”

CS: “Di samping kanan, Pak. Kalau ditekan tombolnya, piringan disc-nya keluar.”

Anggota Dewan: “Oo .. yang keluar dari benda pipih itu, piringan disc to? Udah patah tuh kemarin …”

CS: “Kok bisa?”

Anggota Dewan : “Kirain tempat naruh gelas minuman … “


Setelah membaca anekdot itu, saya tersenyum. Kemudian berubah merenung: sebebal itukah Anggota Dewan kita? Tentu saja tidak. Umumnya lulusan perguruan tinggi, bahkan banyak yang bergelar doktor.

Kalau lantas muncul anekdot di atas, barangkali penulis anekdot tersebut mencoba untuk menyindir apa yang sedang ramai dibicarakan publik.

Saya pikir otak mereka baik-baik saja. Cukup cerdas. Cuma, barangkali –maaf– hati nuraninya seringkali tumpul. Di tengah banyaknya rakyat yang menderita, lha kok mereka senang-senang saja (akan) diberi fasilitas itu. Untung kemudian dibatalkan.


Btw, bagaimana dengan Anggota Dewan sekarang? Apakah masih peka rasa kemanusiaannya? Sebaiknya, tanyakan pada rumput yang tidak bergoyang… (Amang Mawardi).

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.