Rabu, 13 Mei 2026, pukul : 13:44 WIB
Surabaya
--°C

Gatot Nurmantyo dan KGB

Munculnya para politisi yang dengan terbuka menyatakan ‘’Saya Bangga Menjadi Anak PKI’’ menjadi indikator kebangkitan KGB. Munculnya gerakan de-Soeharto-isasi yang mendegradasikan peran Soeharto dalam menumpas PKI, juga dianggap indikator semakin kuatnya kehadiran KGB.

Dalam sebuah perdebatan di televisi, Gatot memaparkan sejumlah indikator itu. Salah satu yang ditekankan oleh Gatot adalah upaya pencabutan Tap MPRS 1966. Mereka yang mendukung pencabutan itu, oleh Gatot, disebut sebagai orang-orang KGB.

Usman Hamid, ketua Amnesti Internasional, yang mewakili kelompok liberal, menyerang balik argumen Gatot Nurmantyo. Menurut Hamid, tuduhan Gatot tidak berdasar. Tuduhan bahwa pendukung pencabutan Tap MPRS adalah KGB, adalah tuduhan yang menyesatkan.

Menurut Hamid, pengusul pencabutan Tap MPRS adalah Presiden Gus Dur pada yang berkuasa 1999-2001. Gus Dur adalah kiai dan keturunan kiai. Karena itu, kata Hamid, tidak mungkin Gus Dur PKI. Hamid menambahkan, dirinya setuju dengan usulan Gus Dur, dan itu tidak berarti bahwa Hamid PKI atau KGB. Hamid menambahkan bahwa dia anak seroang kiai kampung, karena itu tidak mungkin menjadi PKI atau KGB.

Logika yang dipakai Hamid bisa menyesatkan. Kesimpulan bahwa anak kiai tidak mungkin menjadi PKI adalah kesimpulan yang gegabah. Sejarah menunjukkan bahwa D.N Aidit lahir dari keluarga kiai kampung di Belitung. Tan Malaka lahir dari keluarga santri dan guru mengaji di Sumatera Barat. Toh, mereka menjadi gembong PKI.

Sebagai gerakan politik, PKI sudah mati. Tetapi, sebagai ideologi, komunisme masih tetap hidup. Rusia dan China menjadi bukti nyata. Jika tidak diwaspadai, Indonesia bisa saja bergerak mengikuti pola China atau Rusia. (*)

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.