“Fasilitas pelatihan tersebut harus dimanfaatkan oleh PSHT untuk membangun prestasi anggotanya, sekaligus mengembangkan budaya bangsa dan memperkuat nasionalisme. Karena seorang pelatih masih harus terus meningkatkan kapasitasnya baik dalam ilmu, skill maupun attitude,” jelasnya.
Lebih lanjut, Wagub Emil menjelaskan, sebagai salah satu organisasi bela diri terbesar di Indonesia, PSHT memenuhi syarat ikut menyumbangkan atlet berprestasi untuk negara. Selain sarana prasarana dan pelatih yang kompeten, PSHT akan dapat dengan mudah menemukan bibit atlet yang berbakat dan memiliki motivasi.
“Jadi di bela diri ini, ada jenjang tertentu yang dilalui oleh anggotanya. Biasanya dimulai sedini mungkin, antara 7-12 tahun. Jika sudah pada usia begini sudah terlihat bakat keatletan, maka anak-anak ini harus diarahkan dan mulai dibentuk dari segi pola hidup dan pembelajarannya untuk dapat bisa menjadi aset negara,” terang Wagub Emil yang pada 4 September 2021 lalu dikukuhkan sebagai warga kehormatan PSHT di Kab. Bojonegoro.
Melihat itu semua, Emil berharap agar PSHT bisa membawa nama pencak silat ke dunia global. Mengingat, dunia maya telah memberi kesempatan untuk memperluas jaringan dengan hanya bermodalkan gawai saja.
“Pencak silat ini adalah kebanggaan Indonesia dan warisan budaya yang harus kita jaga. Kalau Jepang punya Karate, Korea punya Taekwondo, Cina punya Wushu, kita punya Pencak Silat ini. Jadi saya berharap agar PSHT dapat membawa nama pencak silat ke tingkat dunia dengan menghasilkan atlet-atlet bela diri yang tangguh,” katanya.
Next: Untuk itu…

Belum ada obrolan
Mulai obrolan pertama kamu di sini!
Silakan Login atau Daftar untuk ikut berdiskusi