Senin, 29 Juni 2026, pukul : 19:17 WIB
Surabaya
--°C

Torang Juga Suka Pak Anies

Oleh: Yarifai Mappeaty
Penulis adalah pemerhati masalah-masalah sosial

KEMPALAN: Di Terminal 2E Bandara Soetta, usai check in untuk penerbangan ke Makassar, saya tak langsung menuju ruang tunggu. 90 menit waktu tersisa sebelum boarding, cukup untuk beberapa batang sembari memeriksa berita-berita politik mutakhir.

“Nah itu dia, sebuah food station menyediakan smoking room,” sorakku dalam hati. Tanpa pikir panjang, saya pun masuk ke dalam menemui pramusaji untuk memesan minum. “Kopi latte satu, dik,” kataku sambil menunjuk ke arah smoking room.

Food station itu lumayan apresiatif terhadap manusia sejenisku. Selain full AC, smoking room-nya juga memiliki exhaust fan yang cukup, sehingga asap rokok tak sampai membuat mata pedis dan sesak nafas.

Menariknya lagi adalah view-nya yang menghadap ke luar. Dari sana tampak pesawat yang hendak lepas landas maupun yang baru mendarat. Sebuah smoking room yang sungguh mengasyikkan dan memanusiakan para ahli hisap.

Kira-kira sebatang rokok berlalu, saya yang sedang asyik membuka-buka link berita, tiba-tiba dikejutkan oleh seseorang menyapaku. “Abang, pinjam macis, boleh?” pintanya. Menyebut korek sebagai macis, saya dapat memastikan kalau ia dari Manado, sesosok ahli hisap sejenisku.

Usai menyulut rokoknya, ia kemudian beranjak ke sebuah meja agak jauh dariku, lalu duduk menghadap ke arahku sembari membuka-buka tabletnya. Tak lama, kira-kira hanya setengah batang rokok kemudian, ia kembali mendatangi dan menyapaku.

“Abang, bukankah ini foto abang?” tanyanya sambil memperlihatkan tablet Samsung-nya padaku dan menunjukkan sebuah foto di atas sebuah tulisan.

BACA JUGA  Kenneth Henson Sutianto Menangi “Perang Bintang” dalam IJG Premier League 5

Begitu melihatnya, saya langsung mengangguk pelan, membenarkan. Ia rupanya menemukan salah satu tulisanku di KBAnews, “Gelombang Eforia Anies,” yang dirilis pada November 2021.

“Ada apa dengan ini, Om?” Saya balik tanya. Saya sengaja memanggilnya begitu untuk mencoba lebih akrab, kendati usianya berada di bawahku.

“Kita hanya penasaran melihat topi dan baju yang abang pakai, persis dengan foto ini,” jawabnya polos. Mendengar jawabannya, saya hanya mesem. Supaya tidak keliru memahami orang Manado, ketika menyebut “kita”, maksudnya itu adalah “saya” atau “aku”.

“Om ini rupanya cukup jeli dan sempat-sempatnya membaca tulisan sampah semacam itu,” tukasku merendah.

“Abang jangan bilang begitu. Tulisan abang ini benar. Saat ini, di mana-mana orang membicarakan Pak Anies sebagai calon pemimpin bangsa yang bisa diterima semua kalangan, termasuk kami jemaat Pantekosta,” ujarnya mencoba meyakinkan.

“Kenapa bisa begitu, om? Bukankah selama ini Pak Anies selalu disebut kadrun dan dicap intoleran?”

“Semua itu fitnah. Buktinya, semua ummat beragama di Jakarta merasa sangat nyaman dengan kepemimpinan Pak Anies. Semua diperlakukan sama dan setara. Semua mendapatkan bantuan operasional dari Pak Anies, termasuk pengurus gereja dan sekolah minggu. Terus terang, kami di Manado merasa iri dengan gereja-gereja di Jakarta,” tangkisnya.

“Pak Anies melakukan itu karena APBD DKI Jakarta, jumlahnya memang cukup besar, setara dengan 3–4 kementerian, sehingga Pak Anies memiliki keluasan untuk melakukannya,” saya mencoba berkilah.

“Ini bukan persoalan besar kecilnya anggaran, namun persoalan kepedulian dan kemauan. Meskipun APBD DKI Jakarta demikian besar, tetapi kalau Pak Anies tidak memilki kepedulian, maka program bantuan operasional tempat ibadah semacam itu, tidak akan pernah ada,” elaknya.

BACA JUGA  Kekerasan Finansial pada Korban Pasangan NPD

Mendengar Bahasa Indonesianya tiba-tiba berubah menjadi apik, bahkan tak lagi menggunakan dialek Manado yang kental, saya jadi menebak-nebak. Mungkin dia seorang aktivis Gereja Pantekosta, baru pulang dari mengikuti Mubes GPDI (Gereja Pantekosta di Indonesia) yang berlangsung beberapa waktu lalu di Jakarta.

Saya menebaknya begitu karena narasinya persis sama dengan pidato Pendeta Jason Balongpapueng pada penutupan Mubes GPDI yang sempat viral di youtube. Di situ, Pendeta Jason memuji Anies Baswedan secara terbuka sebagai orang hebat, seorang pemimpin yang memiliki kapasitas melebihi cakupan daerahnya.

Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja Pantekosta Indonesia itu, juga secara terang-terangan menepis isu intoleran yang menerpa Anies. Menurutnya, semua itu tidak benar. Terbukti Anies adalah sosok yang sangat pluralis dan memiliki komitmen kuat menjaga kerukunan ummat beragama. “Pantas sebagai pemimpin,” pungkasnya.

Bahkan, pemimpin tertinggi Gereja Pantekosta itu malahan punya mimpi agar program bantuan operasional tempat ibadah yang disingkat BOTI itu, dapat menjadi program nasional.

Ah, sayang sekali waktu boarding sudah tiba sehingga saya harus pamit pada kawan dari Kawanua itu.

“Macis ini untukmu, om. Saya duluan,” kataku kemudian gegas berlalu menuju tempat boarding.

“Terima kasih, abang. Torang juga suka Pak Anies.”

Langit antara Cengkareng–Makassar, 31 Maret 2022

Editor: Reza Maulana Hikam

forum

Belum ada obrolan

Mulai obrolan pertama kamu di sini!

Berita Terbaru

Analisis

Selamat Datang Kembali

Masuk untuk bergabung dalam diskusi

Buat Akun Baru

Daftar sekarang dan mulai berdiskusi

Kata sandi akan dikirim ke email Anda.